HOMESCHOOL?? JADI, BEGINI..

homeschool-world-classroom

Sebagai emak-emak yang anaknya gak sekolah formal alias homeschooling, dikepoin macam-macam soal anak tuh  rasanya  abstrak😀 kadang suka kalau yang kepo akhirnya memahami tujuan hidup saya (halah!), kadang sebel kalau yang kepo akhirnya bikin kesimpulan sendiri tanpa mau melibatkan saya (melibatkan saya? saya mah siapa, hanya salah satu dari kumpulan anak SD yang berbaris di pinggir jalan melambaikan bendera menanti Pak Presiden datang. Halah! apa lagi ini!!), kadang juga rasanya datar-datar saja, saat yang kepo gak terlalu antusias dengan homeschool. Sampe berasa kepengen bilang, “cuma gitu doang? tanya lagi, dong..ayo dong..tanyaa :D”

Baik, sebelum saya terbawa dengan paragraf pembuka yang gak jelas itu..mari kita kembali ke judul. Jadi, begini..saya maunya menulis tentang reaksi orang-orang yang kami jumpai jika tau anak-anak kami homeschooling.  Mengingat reaksi menurut Newton terjadi ketika A memberi gaya sebesar F kepada B maka B akan memberi gaya sebesar -F kepada A. Artinya, jika saya mengatakan homeschool kepada fulanah, maka fulanah akan menanggapi dengan besar yang sama namun arahnya berbeda ..wakakakakak, otak saya mulai korslet😀

Jadi, begini..jika saya menjawab pertanyaan “anaknya sekolah dimana?” dengan jawaban homeschool biasanya tanggapan yang muncul kemudian adalah…..

  1. imagesSosialisasinya gak beres. Jadi, begini…sebenarnya saya cukup capek (lho, kok saya yang capek?ya deh, gak jadi capek..) dengan khawatiran orang-orang tentang sosialisasi anak homeschool. Memang betul anak homeschool temannya gak sebanyak disekolah, tapi bukan berarti gak gaul.  Seperti yang disebutkan bahwa anak HS sosialisasinya lintas umur, ..yah tergantung anaknya toh..introvert atau ekstrovert. Kalau anaknya introvert jangan dipaksain  bergaul kemana-kemana, kalau anaknya ekstrovert seperti dua anak laki-laki kami di rumah, yah sebagai ummi saya berusaha mencarikan dia lingkungan yang positif untuk bergaul. Lama-lama juga mereka ketemu teman-teman yang cocok, eh lama-lama teman-temannya mulai datang dari berbagai macam latar belakang. Tugas saya menguatkan pondasi keimanan mereka supaya gak gampang terbawa arus pertemanan, seperti layang-layang kalau sudah kejauhan saya tarik, kalau sudah tenang saya ulur lagi..asal jangan ada yang ngadu layangan saya aja..(mulai gak jelas-.-) Yang penting sosialisasi itu bagaimana mereka bisa berakhlak baik ketika bertemu dengan yang lebih tua, lebih muda dan atau sebaya.
  2. Mahal pake bingits. Relatif, sih (sambil melirik isi rekening bank). Kalau keluarganya sukanya plesir ke luar negeri buat belajar langsung, atau membeli software-software original di internet untuk mendukung talenta anak, mungkin saja. Tapi kan itu tergantung style keluarganya. Apalagi kalau anak gabung di klub olahraga yang sepatunya mahal, bajunya mahal, bulanannya mahal, atau gabung di lembaga kursus yang tuornya yang expert di bidangnya.
  3. Ya udah deh, homeschool itu murahan. Sampe-sampe ada bapak-bapak pelit yang karena gak mau usaha keras  nyari duit yang banyak untuk masukin anaknya ke sekolah mahal dan membeli printilan sekolahan yang mahal-mahal, mereka bilang..”homeschool aja, bu. homeschool murah, saya serahin semua sama ibu.” Bapak macam apa kau ini?!! Plak!! (getok pake spatula, gampar pake wajan). Jadi, biaya yang dikeluarkan untuk homeschooling-in anak itu bisa diatur besar kecil pengeluarannya, kok..pintar-pintarnya mentri keuangan dalam rumahtangga.(kali ini lirik isi dompet:D)
  4. “Kak Seto, yaaa?” Ah, tiba-tiba saya tersipu. Bukan ah, saya perempuan😀
  5. Gurunya siapa? Sekolah atau tidak disekolahin formal guru pertama seorang anak  yaa orangtuanya…terlepas dari yang diajarin positif atau negatif. Emang ada orangtua yang ajarin negatif? Ada, ngomel contohnya. Haish!
  6. homeschool_bumper_stickers__51743.1433463773.1280.1280Bukan, maksud saya, yang ngajarin pelajaran sekolah kayak matematika gitu.?? Homeschooling anak-anak bukan berarti orangtua expert dalam berbagai bidang studi. Saya contohnya, sebenarnya saya bisa ngajarin di semua bidang studi, tapi..itu dia..kadang otak saya gak nyampe😀 Yang terpenting jadi orangtua tuh harus bisa menjadi fasilitator antara anak dengan yang ingin dia pelajari, bisa dengan membawanya kepada guru yang kompeten lewat bimbel, bisa lewat buku-buku, pergi ke perpustakaan, video-video edukasi, ke museum, dan sebagainya. Nah, setelah orangtua berhasil menjadi seorang fasilitator bagi anaknya selanjutnya ia akan berubah menjadi katalisator yaitu orang yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa (nyambung-nyambungin sama arti KBBI demi kesamaan bunyi aja ini mah :D)
  7. “Orangtuanya hebat!!” Ah, jangan gitu…setiap orang tua yang mengusahakan kebaikan untuk anak-anak mereka dengan pilihan-pilihan terbaik dalam keluarga mereka adalah terhebat!
  8. homeschool-comic2-e1403669784733Anaknya dirumah saja seharian. Gak juga sih..kalau hujan sih iya, di rumah aja seharian :D (jawaban malas)

Jadi, begini..homeschooling yang kami jalani basisnya keluarga..jadi, keluarga adalah basecamp alias tempat mereka berawal dan kembali pulang, darimanapun mereka pergi, dan kami tidak menitipkan mereka di lembaga homeschool manapun untuk belajar bidang studi seperti di sekolahan. Itu saja sih.

Jadi, begitu…meskipun kadang saya enneg sendiri dengan pertanyaan dan pernyataan-pernyataan mengenai homeschooling..tapi, saya gak bosan-bosannya menulis tentang homeschooling dan isu-isu yang berkaitan dengannya, terpenting adalah menghibur diri saya pribadi yang kadang butuh hiburan ini, daripada ke dunia hiburan, sudah jauh, mahal, sayanya juga gak bisa nyobain wahana apa-apa karena takut ketinggian (dufan maksudnya:D)..nongkrongin dunia hiburan selebritis apalagi..:D

Mohon maaf dari khilaf,

Demikian dan sekian!

Sumber gambar: Internet

Kendari, 3 Agustus 2016

*info penting: Saya habis beli ayam jumbo  di tukang sayur dengan harga 60ribu😀

BELAJAR MAAF, DARI BUYA UNTUK PRAM

Handshake

Jangan pernah jadi pendendam, seberat apapun ujian menimpa.

(Buya Hamka)

Apakah anda penyuka karya sastra Pramoedya Ananta Toer? Atau penyuka karya-karya tulis seorang Buya Hamka? Atau anda seorang pengagum salah satu diantara mereka? Halah! Kalimat opening yang gak banget! Pertanyaan-pertanyaan saya sudah kayak iklan-iklan penjaja produk peninggi badan di tivi-tivi😀 Jadi begini, Ceritanya saya baru saja menamatkan sebuah buku berjudul “Ayah…”. Buku tersebut bercerita tentang kenangan seorang Irfan Hamka kepada ayahnya Buya Hamka. Saya menemukan kisah bagaimana Buya Hamka memaafkan orang-orang yang pernah mendzaliminya dan keluarganya yang sayang jika tidak saya tuliskan kembali sebagai bahan pembelajaran, meski sebenarnya menurut saya tokoh pemaaf nomor satu tetap saya sematkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Tentu saja!

Kisahnya berawal di masa pemerintahan Sukarno, di era Demokrasi Terpimpin (1959-1965). Saat itu Indonesia sedang mengalami kekacauan politik dan krisis perekonomian. PKI (Partai Komunis Indonesia)  merupakan “sahabat dekat” Sukarno sudah sejak lama melancarkan aksi penggarapan ideologis mereka lewat berbagai aspek termasuk menerapkan faham mereka melalui seniman-seniman non-komunis dan pembentukan opini lewat media massa. Tujuan PKI adalah memuluskan kudeta atas pemerintahan Sukarno nanti.

Pramoedya Ananta Toer saat itu adalah seorang sastrawan novelis sekaligus pemimpin rubrik Lentera dalam surat kabar Bintang Timur.  Setiap sastrawan non-komunis diserang habis-habisan di rubrik Lentera, baik itu atas karya yang mereka buat maupun pada diri pribadi mereka. Buya Hamka adalah salah satu sasaran utama, selain beliau adalah sastrawan non-komunis, beliau juga tokoh ulama Muhammadiyah dan Masyumi yang bertentangan dengan PKI. Dua tahun Buya diserang terus menerus di media massa  yang merupakan corong PKI tersebut, berlanjut dengan penangkapan beliau atas tuduhan tak berdasar dan mengada-ada. Buya difitnah terlibat upaya perencanaan pembunuhan atas Presiden Sukarno dan Menteri Agama Syaifuddin Zuhri. Buya kemudian dipenjara tanpa pernah diadili selama 2 tahun  4 bulan.

Nah, bagian bagaimana Buya memaafkan Pram adalah bagian yang berkesan. Dikisahkan oleh Dr. Taufiq Ismail dalam kata pengantar dalam buku “Ayah…” ini. Saat Buya diundang ceramah oleh Dewan kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki, tahun 1969. Dalam sesi diskusi, beliau ditanyakan dua hal; pertama, pendapatnya tentang pelarangan  buku Pramoedya Ananta Toer. Kedua, tentang bagaimana sikapnya terhadap Pramoedya yang telah menghancurkan nama baiknya beberapa tahun di surat kabar Bintang Timur. Buya menjawab bahwa tentang pelarangan buku ia tidak pernah setuju, karena filsafat hidup Pramoedya menurut Buya adalah cinta. Beliau pun menganjurkan jika tidak suka isi sebuah buku, jangan melarang peredaran buku itu tapi tandingi dengan menulis buku juga. Jawaban kedua, Buya menjawab telah memaafkan semua yang terlibat saat itu termasuk mengenai pelarangan buku-bukunya pada pemerintahan Demokrasi Terpimpin. Sontak seisi ruang hening dan beberapa meneteskan air mata.

Masih dikisahkan oleh Dr. Taufik Ismail dalam kata pengantar di buku ini, kisah berkesan kedua antara Buya dan Pram adalah saat Pramoedya mengirimkan calon menantunya yang keturunan Tiong-Hoa untuk diajarkan Islam kepada Buya Hamka.. karena tidak rela anaknya menikah dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda. Meski tidak secara gamblang meminta maaf atas “dosa” yang ia perbuat terhadap diri Buya di media massa pimpinannya, tapi mengirimkan calon mantunya belajar Islam kepada Buya secara tersirat gaya halus orang Jawa dalam meminta maaf. Hoedaifah orang yang pernah mengobati Pramoedya dan merupakan orang terdekatnya mengatakan bahwa Pramoedya mengakui bahwa Buya adalah yang paling mantap membahas tentang tauhid di Indonesia, belajar Islam ya belajar tauhid, begitu katanya. Lalu bagaimana dengan Buya? begitu tau bahwa yang datang kepadanya calon mantu Pramoedya, Buya hanya tertegun sebentar, lalu tersenyum dan berkata “baiklah..” dan mulai mengajarinya tanpa sedikitpun menceritakannya tentang “dosa” Pram di masa lalu.

Begitulah, bagaimana cahaya keikhlasan untuk memaafkan ditunjukkan seorang Buya Hamka. Ah, kisah bagaimana seseorang memaafkan setelah didzalimi itu banyak bertebaran dan mungkin di luar sana ada Hamka-Hamka yang juga sedang berjuang untuk memaafkan. Di dalam Al Quranpun, Allah telah berfirman:

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik, serta berpisahlah dari orang-orang yang bodoh. [al-A’raf/7:199]

Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla berfirman:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. [Ali Imran/3:159]

(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali-Imran/3:134]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan besarnya keutamaan dan pahala sifat mudah memaafkan di sisi Allah Azza wa Jalla dalam sabda beliau:

Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat)

Demikian, sudahkah kita memaafkan orang-orang yang mendzalimi kita tanpa embel-embel “Saya maafkan deh, tapi tunggu pembalasan di akhirat!” ??😀 layaknya musuh-musuh superhero yang mau tidak mau kalah dalam sebuah pertarungan??(halah, apalagi ini?). Jangan begitu, memang berat, karena memaafkan berbanding lurus dengan keikhlasan. Bukan begitu, iman?

*Pagi, hujan deras, menulis untuk diri sembari  menunggu tukang sayur menepi :)

Kendari, 2 Agustus 2016

Sumber Tulisan: Ayah…, Kisah Buya Hamka, Irfan Hamka, Republika, 2016

@Cheummufardain