SELF “PLAK! “

Seperti biasa,  Facebook mengingatkan saya dengan status-status yang pernah saya unggah.  Mata saya terhenti pada sebuah status saat saya membagikan tulisan tentang bipolar.  Self “plak”! Istilah itu tiba-tiba saja muncul di kepala saya.  Yah,  saya kembali ter “plak! ” dengan tulisan saya di status saya sendiri.  Saya tidak perduli seaneh apa istilah self “plak”  dan tidak ingin menjelaskan artinya😃,  yang jelas saya percaya Allah selalu punya cara untuk mendidik saya,  termasuk saat mempertemukan saya dengan ibu tangguh itu, dan kembali diingatkan lewat status kenangan di Facebook.  Berikut saya copaskan isi status saya empat tahun lalu yang menurut saya self “plak”  itu.. 

Beberapa tahun lalu, Allah mempertemukan saya secara tidak sengaja dengan  seorang ibu berputra tiga, dua anaknya remajanya menderita bipolar, dan yang bungsu menderita ADHD. Beliau telah ditinggal wafat suaminya, dan salah satu pemicu sang anak menderita bipolar katanya karena sang ayah meninggal. Yang membuat saya terharu dan kagum adalah perjuangan sang ibu menghadapi sang anak ketika bipolarnya kambuh, beliau harus  siap-siap dilempar benda-benda yang ada di sekitar anaknya atau dimaki-maki, dan harus rutin mengantarkan sang anak ke psikiater untuk terapi atau membelikan obat secara rutin. Meski begitu, ketiga anaknya bersekolah dan kelihatan normal seperti biasa.. dan keyakinan sang ibu kepada Alloh yang membuatnya setangguh itu. 


Lewat si ibu, Alloh mengajarkan untuk banyak-banyak bersyukur dan tidak gampang mengeluh ketika anak berantem, bikin berantakan rumah, merengek-rengek gak penting di saat saya sedang ribet sendiri…atau di saat saya baru ingin menikmati “me time” saya..yah, dan selalu berusaha berdamai dengan sisi kemanusiaan saya sebagai ibu
Semoga Alloh memudahkan urusan beliau dan menguatkan kesabaran para ibu di muka bumi ini..^.^ Semangat! 

Sumber: internet

Ah, sayapun kembali teringat wajah sang ibu.  Saya sering berpapasan dengan beliau di jalan,  di angkot,  di metromini.   Langkahnya selalu cepat tapi kelihatan bersemangat.  Beberapa kali kami saling melempar senyum,  sesekali menyapa,  sampai ada kesempatan ia bercerita kepada saya,  itupun di dalam angkot yang sama.  Saya tidak pernah sedikitpun melihat wajahnya murung,  padahal beban hidupnya sebagai single mom dengan anak-anak bipolar bisa saja menjadi alasan. Yang saya lihat adalah raut pantang menyerah seorang ibu.    

Status empat tahun lalu itu kembali mengingatkan saya bahwa Allah tidak akan membebani hambanya dengan ujian di luar kemampuan hambanya. Cuma kita saja yang terkadang kurang sabar menjalani.  Manusiawi. Karenanya,  saya memilih menuliskan kembali tentang perjuangan ibu itu sebagai self “plak!”  supaya saya banyak-banyak bersyukur dan tidak gampang mengeluh saat kambuh “kemanusiawian-nya”  😊

Kita tinggalkan sejenak kenangan saya dengan ibu yang saya tidak pernah tahu namanya itu hehehe.. Maklum saya suka lupa menanyakan namanya,  parahnya suka lupa meski sudah diberi tahu😑  Kita berpindah kepada self “plak!”  satu lagi bersama ibu yang berbeda dan lagi-lagi saya tak sempat menanyakan namanya. Saya mengenalnya saat sedang menunggu giliran diperiksa di sebuah ruang tunggu rumah sakit di Jakarta.  Antriannya panjang,  jadi sang ibu ngajak saya ngobrol,  lalu ia bercerita kalau beberapa tahun lalu ia sempat merasakan rasanya koma dan hampir meninggal,  kalau tak salah ingat TB tulang.   Belum lagi penderitaan menjalani pengobatan yang cukup berat, Alhamdulillah,  Allah menakdirkan yang terbaik untuk beliau,  ia berhasil melewati masa kritis meski sesekali harus kontrol.   Lalu ia mengajarkan ke saya resep obat batuk alami yang biasa ia pakai.  Jahe merah digeprek,  lalu rebus,  saring airnya kemudian seduh dengan teh,  diminum pagi-pagi,  insyaa allah dahaknya luruh. Sampai sekarang resep si ibu selalu kami pakai,  meski nyari jahe merah itu susah. Tapi,  karena manjur apalagi buat anak-anak yang kami hindarkan dari obat-obatan kimia,  dimanapun dan berapapun harganya,  pasti kami akan cari tuh jahe merah 😃  Alhamdulillah,  sudah enam tahun kami tidak mengkonsumsi obat kimia saat sakit,  apalagi hanya untuk batuk pilek atau demam.   Ah,  semoga pahala selalu mengalir untuk beliau karena resep obat batuk alami yang ia bagikan ke saya. 

Saya ulangi lagi tulisan saya di atas,  bahwa Allah selalu punya cara sendiri mendidik setiap kita.  Apalagi yang namanya ibu-ibu. Kalau mau sedikit peka,  di sekitar kita banyak pelajaran yang bisa nge-“plak! ” diri kita.. Saat ke pasar, di jalan pas ngantar anak-anak berkegiatan, atau pas lagi ngantri di dokter,  coba deh iseng ajakin ngobrol orang sekitar siapa tau ada yang bisa dijadikan pelajaran hidup.  Daripada ngabisin waktu dan energi mendebat hal-hal yang seharusnya tak perlu diperdebatkan, karena sudah menjadi pilihan masing-masing ibu,  ya kan?! 😉 

Hemh,  sekian dulu!  Selamat beraktivitas dan temukan self “plak!” – mu! 

@cheummfardain 

Kendari,  15 Agustus 2017

(dua hari lagi hari kemerdekaan Indonesia😄) 

PAK TUA BERPUISI SAMPAI TUA

Pak tua  berpuisi sampai tua

Dengan sajak-sajak lusuh

Bait-bait yang rapuh

Pak tua berpuisi sampai tua

Dengan lembaran-lembaran kertas yang menguning,  tua. 

Pak tua terus berpuisi,  

Berpuisi tentang benda mati

Menyanjung sepi

Mengkritik raja

Pak tua yang berpuisi sampai tua,  terus berpuisi.

Sesekali tak pedulikan kamu yang tak kunjung mengerti,  bahwa puisi itu untuk kamu. 

@cheummfardain 

Kendari, 9 Agustus 2017