Author: cheitumminyafardain

About cheitumminyafardain

a woman, a wife , a housewife, an ummu of four children. Interesting many things about education for my children, homeschooling, graphic design, architecture, writing...etc.

SELINGKUH. JANGAN!

​(Sumber: internet)

Kemarin. Saya dan suami ngobrol dengan tema skandal dan perselingkuhan. Topik hot dan sensitif untuk dibahas! 😀 Sambil saya menahan diri dari baperan, biasalah wanita tuh suka gitu, suka nyambung-nyambungin kabel cerita orang dengan perasaannya sendiri, meski sama sekali gak ada hubungannya, ujung-ujungnya lawan bicara akan terpojok, terancam kemudian langsung jadi terdakwa atas sesuatu yang tidak ia lakukan tanpa melewati persidangan. Kejam banget yah! 😀

Ngomong-ngomong soal kejam. Menurut saya, perselingkuhan adalah perbuatan kejam yang dilakukan oleh orang(orang)  jahat yang bertujuan memperturutkan syahwat tanpa memikirkan perasaan pasangan. Ah, abaikan definisi abal-abal saya 😀 Menyedihkan jika sebuah hubungan pernikahan harus berakhir karena sebuah perselingkuhan salah satu pasangan, dan kita tahu yang akan bertepuk tangan atas tragedi ini? Yup, Iblis! Tapi, juga ada suami/istri yang memilih bertahan dan mempertahankan pernikahannya meski “dicurangi” pasangannya ( kok,tetiba pengen nyanyi lagu Anang,..kau curangi akuuu).

Memang, godaan seorang pria beristri adalah wanita lain yang dipandang lebih cantik dari istrinya, sedang godaan bagi istri bersuami adalah harta, kasih sayang, perhatian pria lain yang lebih banyak dari harta, kasih sayang dan perhatian yang diberikan suaminya, eh 😀 Apalagi bila ditunjang dengan bakat kemampuan untuk selingkuh plus kesempatan, seperti pesan bang napi bahwa perselingkuhan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan, jadi waspadalah ^.^ 

Untuk mengantisipasi perselingkuhan, Rasululloh sallallahu alaihi wa sallam sebenarnya sudah mengingatkan kaum pria dengan sabda beliau: 

“Jika engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu. Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal seperti yang dimiliki oleh wanita itu.” (HR. Tirmidzi)

Jadi, bukan malah minta nomor telepon, yah? Ya bukan dong! Tapi, hadist di atas juga jangan lantas dijadikan senjata bagi kaum pria untuk jelalatan trus abis itu “datangin” istri –.–” Justru jika direnungi lagi makna hadistnya, bahwa ini bukan soal birahi saja bro, tapi, menyadarkanmu untuk ingat kalau kamu sudah punya istri hingga kamu bisa menundukkan nafsu syahwatmu sendiri. 

 Apalagi lingkungan kerja heterogen yang menjadi ladang subur untuk menyemai bibit perselingkuhan (ealah, mulai memuakkan kata-katanya :D). Pulang bareng dari kantor karena searah, makan siang bareng di kantin, curhat-curhatan tentang masalah pribadi, bercanda-canda tanpa batas antara perempuan dan laki-laki, lebih parah jika lingkungan sekitar alias teman-teman lainnya malah memprovokasi, bukannya berusaha mencegah kemungkaran di depan mata. Begitulah, semuanya bisa jadi pemicu terjadinya sebuah perselingkuhan, pak bapak, bu ibu …:) Konon kata suami, seorang pria baek hati, berwibawa, dan punya integritas terhadap hubungan dengan pasangannya (istri) punya cara sendiri untuk menghindari atau menolak tawaran yang ditengarai akan menuju ke perselingkuhan hasil persekutuan syaithon dengan makhluk halus bernama perempuan jahat demi menjaga hati yang satunya, eaaa 😀 Ada seorang suami yang LDR (Long Distance Relationship) dengan istrinya lalu memilih pulang lebih awal dari pegawai lainnya untuk menjaga dirinya tidak berduaan dengan yang bukan mahrom di kantornya. Ada seorang suami yang lagi-lagi LDR dengan istrinya memilih  menyibukkan dirinya dengan hadir di kajian-kajian islam daripada hangout bareng teman-teman kantor perempuan. Ada yang menolak secara halus permintaan nebeng pegawai kantor perempuan meski  mereka pulang searah. Untuk bapak-bapak yang baek hati dan mampu menjaga hati dengan baik kayak gini, saya doain berkah, samawa selalu rumahtangganya ^.^ 

​(sumber: internet)

Seharusnya setiap suami atau istri harus bisa menutup pintu untuk sebuah tawaran perselingkuhan. Penting untuk menjaga pergaulan dengan yang bukan mahrom, agar tidak disusupi syaithon. Meskipun memang lelaki dibolehkan untuk berpoligami, tapi, tentu bukan ditempuh dengan cara-cara yang tidak berkah atau diawali dengan mendekati perzinahan. Bukankah di dalam agama mendekati zina saja dilarang, apalagi perzinahannya. Seorang istri pun demikian, ia dituntut untuk bisa membuat suaminya nyaman dan tenang di sisinya, meskipun kelihatannya tidak sesempurna cewek-cewek di luar sana, setidaknya ia punya legalitas yang sah di hadapan Allah yang seharusnya dijadikan motivasi buat menjadi istri yang lebih baik lagi 🙂 

Ah, sudah ah..nulis tentang beginian ^.^ Mari kita tutup dengan kutipan ayat menenangkan berikut 🙂 Bismillah……

 “Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu serta memberimu rizki dari yang baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?”(Qs.An Nahl:72)

 “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dia menjadikan adiantara kamu rasa kasih dan sayang. sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kamu yang berpikir.” (Qs.Ar Rum:21)

Kendari, 13 April 2017

Terimakasih, sudah setia sejauh ini,

For my beloved hubby 🙂 

DUNIA YANG TIDAK MERAH JAMBU

Pink Beach, Taman Nasional Komodo

            sumber dari sini

“Kita lemah karena posisi jiwa kita salah, kita mencintai seseorang lalu kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak, atau tak beroleh kesempatan untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita, bukan karena kita mencintai dan juga mungkin bukan karena cinta itu sendiri. Tapi, karena kita meletakkan kebahagiaan kita pada cinta yang diterjemahkan sebagai kebersamaan.”

(Anis Matta, Serial Cinta, dalam Jalan Cinta Sang Pejuang)

September, tahun lalu,  saya dibuat terkejut dengan sebuah komentar di postingan saya yang berjudul Reuni, Manfaat Atau Tidak . Komentar sekaligus kegaluan seorang pria yang terjebak dalam sebuah kisah percintaan yang ia ciptakan sendiri. Rumit, karena ia mengunci komentarnya dengan pernyataan bahwa ia tak ingin disudutkan atas apa yang telah ia ceritakan. Lalu saya memutuskan untuk  meng-capture-nya dan meminta bantuan teman-teman FB saya untuk memberikan masukan. Berikut capture komentar MR. XXXXX, saya sebut saja begitu.

Sumber: dari postingan sini

Capture dari akun FB pribadi 🙂

Ah, saya sih berharap sang Mr. XXXXX membaca masukan teman-teman saya  di atas, atau saya cukup berpositif thinking saja bahwa lebih baik lagi jika ia telah “move on” jauh sebelum tulisan ini saya posting. Yeah, who knows?

Kisah cinta seperti punya Romeo-Juliet atau sebangsa Layla Majnun memang adalah romansa paling populer untuk dijadikan referensi bagi para pemuja cinta. Diamini pula oleh sebuah kisah percintaan dalam film Titanic, antara Rose dan Jack.  Dunia yang tidak merah jambu, begitu kira-kira istilah Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta. Orang-orang baik yang layak untuk diberikan ucapan belasungkawa, karena penderitaannya atas nama cinta. Ah, mungkin benar..mereka hanya mesti belajar mengasihani dirinya sendiri, bahwa saat cinta itu kandas, bukan harusnya sayapmu menjadi patah. Bukan. Tapi, bagaimana posisimu tetap kuat karena sebuah kata kerja, mencintai! Simak kutipan tulisan yang lagi-lagi bersumber dari buku berjudul “Serial Cinta” berikut:

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu kita pada posisi kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini kita justru melakukan pekerjaan besar dan agung: mencintai. Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang terjadi sesungguhnya hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: “apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder. Jadi, kita hanyalah patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita. (Anis Matta)

See? Haruskah ada kata “patah” ketika cinta yang kita harapkan ternyata bukan takdirnya untuk membersamai kita? Tergantung bagaimana kamu memulainya 🙂 Mungkin akan ada yang bilang, “Ah, mungkin kamu tak pernah merasakan patah hati, jadi dengan mudahnya menyuruh “move on”. Seperti kutipan di atas, bahwa cinta yang berawal dan berakhir pada Allah sebenarnya adalah cinta yang posisinya paling kuat. Lalu, bagaimana jika saya terlanjur sengsara karena patah hati?  Silahkan bergeser beberapa radius kilometer dari posisimu saat mencintai, dan dari tempat berdirimu sekarang, silahkan menertawakan dirimu dan kebodohan atas nama cinta, lalu benarkan posisi cintamu, berawal dan berakhir pada Allah, kembalilah berjalan maju di jalan yang benar, bergerak tanpa menoleh lagi. Karena hakikatnya cinta tak sesempit itu, ini hanya masalah waktu saja 🙂

Duh, bagaimana? Apa saya layak menjadi seorang motivator?  Saya harap sih, tidak..cukup bapaknya Kiswinar saja yang jago memotivasi orang hehehe, saya cukup berperan sebagai pengingat tentang kebenaran dan kesabaran.

Apa? Belum bisa move on juga?!! Baiklah, saya kembali mengutipkan sebuah quote lagi-lagi dari Bapak Anis yang jago banget (menurut saya) menulis motivasi tentang cinta-cinta yang bukan picisan, hehe.. ini untuk kamuh..:D

Kadang-kadang kamu harus belajar menepuk angin, bukan tangan lain yang melahirkan suara cinta.

(Anis Matta)

Kendari, 7 Maret 2017

@cheummufardain

Sumber tulisan: -Serial Cinta, Anis Matta

                                – Jalan Cinta Sang Pejuang, Salim A. Fillah