architectonic

KOTA RAMAH ANAK

image

Masih ingat dengan insiden Tugu Tani yang menewaskan beberapa nyawa yang salah satunya anak balita? Semenjak tragedi itu, Jakarta langsung disoroti pedestriannya yang tak ramah untuk para pejalan kaki.Tapi, mungkin saya tak akan begitu terfokus ke masalah pedestrian yang tak ramah, tapi lebih kepada kota Jakarta yang tak ramah untuk anak. Yah, anak juga punya hak untuk menikmati kota tempat ia tinggal, namun akan menjadi.horror ketika mereka tidak mendapatkan keamanan dan kenyamanan di dunia mereka bermukim. Setelah berjalan kaki di kota yang tidak aman entah ketika hendak ke sekolah atau hanya sekedar menikmati kota Jakarta, marak penculikan anak, eksploitasi, kekerasan terhadap anak, belum lagi hilangnya area terbuka berganti mall dan apartemen merenggut kebebasan mereka bermain, ditambah manusia dewasa yang tidak menganggap hak anak untuk mendapatkan udara bersih hingga seenaknya mengepulkan asap rokok di sekitar mereka. Semestinya menjadi perhatian penting kepala pemerintahan, jangan hanya memikirkan perut sendiri, bagaimana menang di pilkada…dan berbagai alasan yang tak berpihak pada masyarakat kecil.  Mengingat di tangan generasi kecil inilah masa depan Indonesia akan maju kelak.

Setelah berselancar dan mencari defenisi tentang Kota Ramah Anak, akhirnya saya menemukan di sini , Pengertian Kota Ramah Anak menurut UNICEF Innocenti Reseach Centre adalah kota yang menjamin hak setiap anak sebagai warga kota. Sebagai warga kota, berarti anak:

  1. Keputusannya mempengaruhi kotanya;
  2. Mengekspresikan pendapat mereka tentang kota yang mereka inginkan;
  3. Dapat berperan serta dalam kehidupan keluarga, komuniti, dan sosial;
  4. Menerima pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan;
  5. Mendapatkan air minum segar dan mempunyai akses terhadap sanitasi yang baik;
  6. Terlindungi dari eksploitasi, kekejaman, dan perlakuan salah;
  7. Aman berjalan di jalan;
  8. Bertemu dan bermain dengan temannya;
  9. Mempunyai ruang hijau untuk tanaman dan hewan;
  10. Hidup di lingkungan yang bebas polusi;
  11. Berperan serta dalam kegiatan budaya dan sosial; dan
  12. Setiap warga secara seimbang dapat mengakses setiap pelayanan, tanpa memperhatikan suku bangsa, agama, kekayaan, gender, kecacatan.(www.menegpp.go.id)

Lalu seperti apa kota yang diinginkan anak? Masih di situs yang sama, menuliskan bahwa kota yang diinginkan oleh anak adalah kota yang menghormati hak-hak anak yang diwujudkan dengan (Innocenti Digest No.10/10/02:22):

  1. Menyediakan akses pelayanan kesehatan, pendidikan, air bersih, sanitasi yang sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan;
  2. Menyediakan kebijakan dan anggaran khusus untuk anak;
  3. Menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman, sehingga memungkinkan anak dapat berkembang. Anak dapat berekreasi, belajar, berinteraksi sosial, berkembang psikososial dan ekspresi budayanya;
  4. Keseimbangan di bidang sosial, ekonomi, dan terlindungi dari pengaruh kerusakan lingkungan dan bencana alam;
  5. Memberikan perhatian khusus kepada anak seperti yang tinggal dan bekerja di jalan, eksploitasi seksual, hidup dengan kecacatan atau tanpa dukungan orang tua;
  6. Adanya wadah bagi anak-anak untuk berperan serta dalam pembuatan keputusan yang berpengaruh langsung pada kehidupan mereka.

  Mewujudkan kota ramah anak mempunyai tantangan yang kompleks. Mulai dari yang terkecil saja, keluarga sebagai unit dasar dalam tumbuh kembang anak. Belum lagi masalah kemiskinan yang berujung eksploitasi anak. Tingkat kriminalitas yang tinggi di sebuah kota yang membuat anak tidak aman. Bila pemerintah bisa bersinergi dengan masyarakatnya dengan baik bukan tidak mungkin kota ramah anak bisa terwujud. Insyaa Allah! Hemh, tapi, mungkin butuh kesadaran dan kesabaran yang panjaaang .

Bagaimana dengan Jakarta? Siapkah Ibukota ini menjadi kota ramah anak? Semoga,yaaaaa….:)

@cheitumminyafardais

Sumber Tulisan:
www.menegpp.co.id
www.ditjen-otda.depdagri.go.id
Sumber Gambar:
www.kotalayakanak.blogspot.com

Advertisements

KAMAR BAYI YANG SEHAT DAN NYAMAN

image

Duh,kenapa ya saya tiba-tiba nulis tentang kamar bayi..Ouh, jangan keburu GR dulu “diriku”..hanya ingin berbagi dengan para ibu atau calon ibu…Meski dulu saya juga tak niat banget menyiapkan kamar untuk calon penguasa ummi itu, tak ada salahnya, sekalian mempersiapkan kalau-kalau dipercayakanNya untuk hamil lagi…

Kamar bayi ibarat gua bertapa seorang bayi (*kesulitan mencari analoginya:D)…bagaimana tidak, disitulah tempat seorang bayi menghabiskan waktunya untuk tidur dan menyusu, kadang bermain pun di kamar tersebut..meski harus sesekali dibawa keluar mandi sinar matahari pagi, bergaul dengan tetangga, membeli sayur, kepengajian, ke pusat perbelanjaan, sudah…sudah….ini kegiatan bayi atau emaknya, yaa..:D Karena sebagian besar aktifitasnya di sana maka diperlukan ruang kamar yang sehat dan nyaman, meski standar nyaman harus berbanding lurus dengan keuangan dan kemampuan…Camkan itu!! Ok, mari kita simak beberapa kiat menata kamar bayi kita 🙂

1. Dinding.

Pilih cat tembok bebas VOC(volatile organics compounds)…tenang ibu-ibu kita tak perlu angkat senjata, karena VOC adalah cat bebas senyawa organik yang mudah menguap. Cat ini dapat menekan resiko terhirupnya partikel berbahaya oleh bayi. Pastikan mengecat kamar jauh-jauh hari sebelum anda melahirkan. Atau anda tak ingin repot, gunakan saja wall paper bermotif lucu, berwarna-warni, sesuaikan dengan selera dan sekali lagi isi kantong anda!

2. Lantai.

Gunakan material keras untuk lantai semisal keramik, atau kayu, karena karpet sintetik mengandung bahan kimia berbahaya seperti pewarna, bahan pelindung dan zat kimia yang mudah terbakar. Pastikan jika anda menggunakan kayu yang telah divarnish dan bebas VOC.

3. Pencahayaan.

Pencahayaan terdiri atas yang alami dan buatan. Untuk kesehatan sebaiknya diusahakan banyak bukaan yang berasal dari jendela atau ventilasi. Selain dapat memaksimalkan cahaya pada siang hari, matahari pagi pun dapat masuk (*catatan: perhatikan orientasi ruang dan penempatan jendela agat menghadap ke tempat matahari terbit agar sinar matahari paginya dapat menembus kamar). Sirkulasi udara yang baik juga diperlukan supaya kamar tidak pengap dan tidak bau. Untuk pencahayaan buatannya, pilih cahaya lampu yang sesuai dengan selera, cahaya kuning berkesan hangat dan tidak terlalu menyilaukan, sedang yang putih tercipta suasana terang benderang.

4. Suhu.

Faktor penting kenyamanan dari seorang bayi adalah suhu kamar. Kuncinya adalah “jangan terlalu” …bayi akan rewel, susah tidur, menangis jika suhu terlalu panas atau terlalu dingin. Menurut seorang dokter anak, temperatur suhu ruang kamar yang baik untuk bayi adalah 25°C. Jika anda ingin menggunakan penyejuk ruangan, sebaiknya pilih yang ada filter antibacterianya, perhatikan letaknya tidak mengarah langsung ke bayi.

5.Keamanan.

Bila anda memilih furniture seperti box tidur untuk bayi kecil anda yang lucu itu, pastikan bahan dan kualitasnya aman. Jangan letakkan banyak bantal di dalamnya, alih-alih membuat ia hangat, justru akan membahayakan bayi anda. Pilihlah mainan yang juga terbuat dari bahan yang aman untuk menemani bayi anda bermain di kamar.

Sekali lagi standar nyaman itu relatif, lebih baik lagi jika kenyamanan disesuaikan dengan aspek ekonomis. Menghemat energi, menggunakan bahan ramah lingkungan untuk merenovasi, berarti ikut menolong bumi kita dari kerusakan lingkungan.

Sumber gambar: http://www.wolipop.com

Sumber tulisan: Majalah Parents Indonesia, edisi Juli 2009.

@cheitumminyafardais