Homeschooling ummi

TIPS MUDAH BER-HOMESCHOOL 

images.pngBuat ibu-ibu rempong seperti saya, menjalani homeschool bersama empat orang anak itu cukup menguras energi. Apalagi di awal memulai homeschool. Energi banyak terbuang untuk hal-hal yang sebenarnya gak penting. Akibatnya, tangki energi cepet kosong, padahal urusan sama anak belum kelar 😀 Akibatnya lagi, mengomel-lah saya ke sana ke mari bagai bunga kembang tak jadi 😀

Setelah memakai produk melakukan perenungan panjang yang tak berkesudahan, saya sadar bahwa sepertinya ada yang harus diperbaiki dengan jalan hidup saya (haelah, opo toh!)  Maksud saya,  semestinya saya mesti mencari cara bagaimana agar proses homeschool ini berasa mudah bagi saya,(tapi,  belum tcentcu buat mereka :D)

Agar tetap waras dalam mendampingi proses homeschool mereka, saya ingin berbagi tips, gak diikutin juga gak apa sih..karena saya percaya setiap kita bisa mengatasi permasalahan dalam hidup kita dengan cara kita sendiri (eits, berasa motivator deh, sayah :D) Daripada nulis prolog gak jelas dan gak kelar-kelar, mending langsung cap cus yah 😀  Jadi, ada beberapa tips untuk memudahkan proses homeschool anak-anak bersama kita  sehari-hari;

1. Selalu luruskan niat. Saya selalu percaya bahwa kita akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita niatkan. Niat itu harus selaras dengan amal, amal itu harus dibarengi dengan keikhlasan, dan keikhlasan buahnya kesabaran. Ealah kok malah ceramah ^.^

2. Cari tahu tipe/gaya belajar setiap anak.  Untuk homeschool mom dengan empat anak seperti saya, penting untuk mencari tahu gaya belajar masing-masing anak. Seperti yang sulung tipe auditori maka terkadang saya read a loud buku bacaan buat dia, anak ke dua tipe kinestetik maka saya tidak memaksakan dia duduk berlama-lama murojaah bersama saya, anak ketiga tipe visual; saya lebih banyak nunjukkin gambar, printable worksheet gambar-gambar, ngajak jalan sambil minta dia perhatikan sekitarnya.Sedang si bungsu yang berusia satu tahun, lebih banyak eksplorasi bebas 😀

3. Sediakan beragam  buku-buku bacaan, terutama kamus bahasa indonesia dan inggris 😀 jadi kalau mereka nanya-nanya istilah-istilah tinggal suruh mereka buka kamusnya. Meski ini gak efektif juga, sih…ujung-ujungnya tetap saya yang buka kamus -.-” (tips apa ini?!)

4. Fleksibel. Bukan..itu bukan judul film horror 😀 fleksibel artinya jangan kaku dalam prosesnya. Selalu temukan cara yang memudahkan kita sebagai ibu-ibu tapi sekaligus jadi proses belajar buat anak-anak. Contohnya libatkan mereka dalam pekerjaan rumah tangga, dengan begitu kita jadi tak butuh asisten rumah tangga, bisa santai sejenak atau ngerjain hal-hal lain sementara anak-anak mengerjakan tugas yang kita berikan.

5. Fasilitas seperti jaringan internet dan printer cukup memudahkan saya juga sih..tinggal penggunaannya yang dikontrol.

6. Sediakan telinga dan hati yang lapang  untuk mendengar masukan atau kritikan dari anak-anak tentang ibunya 😀 mulutnya dikunci rapat-rapat, deh..insyaa Allah lebih mudah untuk jadi lebih baik dari yang kemarin ^.^

7. Santai ketika keseharian gak sesuai rencana..ingat, kita cuma bisa berencana, Allah yang menentukan..dengan begitu kita gak berasa bersalah-bersalah amat 😀 menyesatkan gak sih?

8. Sedia bank-bank soal yang  siap dikeluarkan saat kita merasa anak-anak sudah lama gak ngerjain worksheet..hehehe jadi bukan buat evaluasi? Buat memudahkan emak aja sih dan menenangkan diri di saat tau lagi musim ujian sekolah 😀

9. Sedia stok makanan instan atau resep makanan praktis, biar lebih mudah saat lapar menyerang sedang anak2 sedang butuh pendampingan. Setidaknya berlarilah ke warung sebelah untuk lebih memudahkan, jangan lupa dompetnya dibawa :<

10. Penutup yang menjadi solusi jitu dari semua permasalahan 😀 Perbaiki hubungan kita dengan Allah, bagaimana kita ingin dimudahkan segala urusan, dikabulkan segala doa jika ibadah juga sekedarnya? 🙂

Itu saja cukup yah…mohon maaf jika banyak ngelanturnya, semua berdasarkan pengalaman dan setiap orang pengalamannya mungkin saja berbeda ^.^ Semoga Allah selalu memudahkan urusan kita, lagi memudahkan kita untuk selalu memperbaiki diri 🙂 Wassalam!

Kendari, 25 November 2016

@cheummufardain

HOMESCHOOL?? JADI, BEGINI..

homeschool-world-classroom

Sebagai emak-emak yang anaknya gak sekolah formal alias homeschooling, dikepoin macam-macam soal anak tuh  rasanya  abstrak 😀 kadang suka kalau yang kepo akhirnya memahami tujuan hidup saya (halah!), kadang sebel kalau yang kepo akhirnya bikin kesimpulan sendiri tanpa mau melibatkan saya (melibatkan saya? saya mah siapa, hanya salah satu dari kumpulan anak SD yang berbaris di pinggir jalan melambaikan bendera menanti Pak Presiden datang. Halah! apa lagi ini!!), kadang juga rasanya datar-datar saja, saat yang kepo gak terlalu antusias dengan homeschool. Sampe berasa kepengen bilang, “cuma gitu doang? tanya lagi, dong..ayo dong..tanyaa :D”

Baik, sebelum saya terbawa dengan paragraf pembuka yang gak jelas itu..mari kita kembali ke judul. Jadi, begini..saya maunya menulis tentang reaksi orang-orang yang kami jumpai jika tau anak-anak kami homeschooling.  Mengingat reaksi menurut Newton terjadi ketika A memberi gaya sebesar F kepada B maka B akan memberi gaya sebesar -F kepada A. Artinya, jika saya mengatakan homeschool kepada fulanah, maka fulanah akan menanggapi dengan besar yang sama namun arahnya berbeda ..wakakakakak, otak saya mulai korslet 😀

Jadi, begini..jika saya menjawab pertanyaan “anaknya sekolah dimana?” dengan jawaban homeschool biasanya tanggapan yang muncul kemudian adalah…..

  1. imagesSosialisasinya gak beres. Jadi, begini…sebenarnya saya cukup capek (lho, kok saya yang capek?ya deh, gak jadi capek..) dengan khawatiran orang-orang tentang sosialisasi anak homeschool. Memang betul anak homeschool temannya gak sebanyak disekolah, tapi bukan berarti gak gaul.  Seperti yang disebutkan bahwa anak HS sosialisasinya lintas umur, ..yah tergantung anaknya toh..introvert atau ekstrovert. Kalau anaknya introvert jangan dipaksain  bergaul kemana-kemana, kalau anaknya ekstrovert seperti dua anak laki-laki kami di rumah, yah sebagai ummi saya berusaha mencarikan dia lingkungan yang positif untuk bergaul. Lama-lama juga mereka ketemu teman-teman yang cocok, eh lama-lama teman-temannya mulai datang dari berbagai macam latar belakang. Tugas saya menguatkan pondasi keimanan mereka supaya gak gampang terbawa arus pertemanan, seperti layang-layang kalau sudah kejauhan saya tarik, kalau sudah tenang saya ulur lagi..asal jangan ada yang ngadu layangan saya aja..(mulai gak jelas-.-) Yang penting sosialisasi itu bagaimana mereka bisa berakhlak baik ketika bertemu dengan yang lebih tua, lebih muda dan atau sebaya.
  2. Mahal pake bingits. Relatif, sih (sambil melirik isi rekening bank). Kalau keluarganya sukanya plesir ke luar negeri buat belajar langsung, atau membeli software-software original di internet untuk mendukung talenta anak, mungkin saja. Tapi kan itu tergantung style keluarganya. Apalagi kalau anak gabung di klub olahraga yang sepatunya mahal, bajunya mahal, bulanannya mahal, atau gabung di lembaga kursus yang tuornya yang expert di bidangnya.
  3. Ya udah deh, homeschool itu murahan. Sampe-sampe ada bapak-bapak pelit yang karena gak mau usaha keras  nyari duit yang banyak untuk masukin anaknya ke sekolah mahal dan membeli printilan sekolahan yang mahal-mahal, mereka bilang..”homeschool aja, bu. homeschool murah, saya serahin semua sama ibu.” Bapak macam apa kau ini?!! Plak!! (getok pake spatula, gampar pake wajan). Jadi, biaya yang dikeluarkan untuk homeschooling-in anak itu bisa diatur besar kecil pengeluarannya, kok..pintar-pintarnya mentri keuangan dalam rumahtangga.(kali ini lirik isi dompet:D)
  4. “Kak Seto, yaaa?” Ah, tiba-tiba saya tersipu. Bukan ah, saya perempuan 😀
  5. Gurunya siapa? Sekolah atau tidak disekolahin formal guru pertama seorang anak  yaa orangtuanya…terlepas dari yang diajarin positif atau negatif. Emang ada orangtua yang ajarin negatif? Ada, ngomel contohnya. Haish!
  6. homeschool_bumper_stickers__51743.1433463773.1280.1280Bukan, maksud saya, yang ngajarin pelajaran sekolah kayak matematika gitu.?? Homeschooling anak-anak bukan berarti orangtua expert dalam berbagai bidang studi. Saya contohnya, sebenarnya saya bisa ngajarin di semua bidang studi, tapi..itu dia..kadang otak saya gak nyampe 😀 Yang terpenting jadi orangtua tuh harus bisa menjadi fasilitator antara anak dengan yang ingin dia pelajari, bisa dengan membawanya kepada guru yang kompeten lewat bimbel, bisa lewat buku-buku, pergi ke perpustakaan, video-video edukasi, ke museum, dan sebagainya. Nah, setelah orangtua berhasil menjadi seorang fasilitator bagi anaknya selanjutnya ia akan berubah menjadi katalisator yaitu orang yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa (nyambung-nyambungin sama arti KBBI demi kesamaan bunyi aja ini mah :D)
  7. “Orangtuanya hebat!!” Ah, jangan gitu…setiap orang tua yang mengusahakan kebaikan untuk anak-anak mereka dengan pilihan-pilihan terbaik dalam keluarga mereka adalah terhebat!
  8. homeschool-comic2-e1403669784733Anaknya dirumah saja seharian. Gak juga sih..kalau hujan sih iya, di rumah aja seharian 😀 (jawaban malas)

Jadi, begini..homeschooling yang kami jalani basisnya keluarga..jadi, keluarga adalah basecamp alias tempat mereka berawal dan kembali pulang, darimanapun mereka pergi, dan kami tidak menitipkan mereka di lembaga homeschool manapun untuk belajar bidang studi seperti di sekolahan. Itu saja sih.

Jadi, begitu…meskipun kadang saya enneg sendiri dengan pertanyaan dan pernyataan-pernyataan mengenai homeschooling..tapi, saya gak bosan-bosannya menulis tentang homeschooling dan isu-isu yang berkaitan dengannya, terpenting adalah menghibur diri saya pribadi yang kadang butuh hiburan ini, daripada ke dunia hiburan, sudah jauh, mahal, sayanya juga gak bisa nyobain wahana apa-apa karena takut ketinggian (dufan maksudnya:D)..nongkrongin dunia hiburan selebritis apalagi..:D

Mohon maaf dari khilaf,

Demikian dan sekian!

Sumber gambar: Internet

Kendari, 3 Agustus 2016

*info penting: Saya habis beli ayam jumbo  di tukang sayur dengan harga 60ribu 😀