HUJAN,  BULAN BELUM JUNI

Hujan,  bulan belum Juni

Hujan bukan dari langit dan bulan belum Juni

Hujan,  di pipimu

Deras,  padahal bulan belum Juni.
@cheummfardain

#plesetanpuisi

Kendari,  4.9.2017

Advertisements

JANGAN PILIH HOMESCHOOL JIKA…. 

Homeschool memang sebuah pilihan yang tidak main-main bagi sebuah keluarga. Banyak pula yang berpikir bahwa memilih homeschool sama saja mempertaruhkan masa depan anak. Benarkah? Sebentar,  sambil nulis sambil saya mikir,  apa benar begitu? 😃

Sebagai ibu-ibu yang anaknya homeschool,  saya tidak pernah mau menyarankan orang lain untuk homeschool saja ketika mereka mengeluh tentang sekolah anaknya ke saya.   Saya hanya memberikan informasi seputar homeschool saja,  itupun yang saya pahami dan jika diminta,  😃 karena dalam proses homeschool kami,  ada sebagian yang saya pahami,  sebagian lagi saya jalani saja,  sambil mencoba memahami prosesnya dan diri saya sendiri. Tidak paham?  Sama 😃😄

Bagaimana kalau ada yang mau memilih homeschool untuk putra putri mereka? Mungkin pastikan hal berikut tidak menjadi sandungan… Jadi,   jangan pilih homeschool jika….

1. Kita tidak menghadirkan Allah dalam prosesnya.

Kebayang ya,  rutinitas bersama anak pagi,  siang, malam lalu tidak ada asupan ruhiyah yang baik.  Ibadah berantakan. Tilawah jarang. Gak berasa ada yang kurang?  Sumber energi terbesar sebagai homeschool mom mestinya dari situ.

2. Tidak ada dukungan dari pasangan (suami/istri).

Yang  “jungkir balik” dalam proses homeschool anak-anak itu,  orangtua homeschoolers.  Makanya satu sama lain harus saling mendukung dan menguatkan.  Jadi,  sebelum memutuskan HS satukan dulu “suara” dengan suami.  Kalau sudah satu, menjalani HS jadi lebih aman ke depannya.

3. Menganggap homeschool mom itu harus sempurna dalam segala hal.

Menjadi homeschool mom tidak perlu sempurna.  Alasannya klise,  karena manusia itu tidak ada yang sempurna.  Ia boleh melakukan kesalahan dalam proses homeschool bersama anak-anak,  boleh marah,  boleh error dalam pengasuhan asal jangan menjadikannya sebuah kebiasaan yang menetap.  Artinya sepanjang sang ibu bertekad untuk jadi lebih baik dan  berusaha lebih baik,  yah mengapa tidak?  Bagi kami menjadi lebih baik itu proses sepanjang hayat,  gak boleh berhenti di perasaan “sudah baik.”

4.  Tidak mau mengorbankan  waktu dalam proses homeschooling.

Mengapa harus memakai kata “mengorbankan” bukan “meluangkan” aja sih? Selain biar kedengeran dramatis, As a homeschooler mom, terkadang kita harus mengorbankan waktu paling berharga milik kita, hehehe.  Terkadang kita harus mengorbankan mulai dari waktu tidur siang, waktu mandi 😀 , waktu beberes rumah,  dan sebagainya. Apalagi untuk homeschooler toddler sampai preschool,  mainnya biasanya gak jauh-jauh dari sisi emak-nya, dan terkadang kita juga harus berubah menjadi toddler atau preschool demi totalitas, seperti ikutan main lumpur, ikutan ngejar-ngejar kupu-kupu, dan sebagainya 😀  Belum lagi, homeschooler’s mom harus mau meng-upgrade diri dan belajar bersama anak. Gak perlu sampai pro! 😀 Kebayang anak mau belajar skater trus emaknya ikut-ikutan main skateran 😀 setidaknya mau mengumpulkan informasi apapun buat memenuhi keingin tahuan anak, dan ini kadang mengorbankan waktu juga 😀 Nah, kalau anak sudah mulai besar, mandiri dan bisa ngapa-ngapain sendiri..tinggal metik pengorbanan selama ini 🙂 paling tugas selanjutnya lebih kepada mencarikan guru atau tempat berkegiatan yang tepat dan sesuai dengan minat anak.

5.  Baperan.

Kita harus mempersiapkan mental untuk menghadapi omongan negatif  tentang homeschooling dan pelakunya. Meskipun kadang kita sudah susah payah menjelaskan, tetap saja ada yang tidak mau mengerti. Bukan hanya kita sebagai orangtua, anak juga harus kita siapkan agar mampu bertahan dengan cap “aneh” di luar sana yang topiknya sih sebenarnya itu-itu saja, seperti sosialisasi anak, gurunya siapa, ijazahnya bagaimana dan sebagainya.  Stay calm saja sih, tidak perlu merespon kalau memang respon kita tidak terlalu dibutuhkan, apalagi untuk dimasukkan ke dalam hati 🙂

6. Anaknya lebih suka bersekolah

Gak harus homeschooling. Sekolah juga banyak kok yang bagus. Meski memang tidak ramah bagi kantong, karena yang mahal biasanya berbanding lurus dengan kualitas, fasilitas dan sebagainya. Asal kita juga bisa “bersahabat” dengan guru-guru anak kita, kita bisa mengkomunikasikan dengan baik maunya kita sebagai orangtua kepada pihak sekolah dan pihak sekolahpun mau menerima dengan senang hati, sekolah saja. Jangan memaksakan anak untuk homeschool.

Saya cukupkan sampai enam poin saja yah, semoga bisa membantu. Jadi, jangan pilih homeschool jika tak sanggup setia atau silahkan pertimbangkan matang-matang keinginan ber-homeschool. Apapun pilihannya, sekolah atau homeschool, Insyaa Allah akan menjadi keputusan terbaik untuk putra-putri kita 🙂 yang penting gak saling hujat, yaa bu ibu 🙂

@cheummufardain

Kendari, 30.08.2017