rumah

MEREKA, DI SEKITAR RUMAH KAMI

 

Gambar

Sejak hijrah tiga tahun lalu dari kota Anging Mamiri, mengikuti suami yang ditugaskan untuk kuliah lagi di Jakarta, rasanya saya mulai betah menetap di ibukota ini. Yah, setidaknya dua tahun terakhir. Makanya waktu ketemu lomba blog Anging Mamiri, nge blog 8 minggu, saya langsung pengen ikutan. Meskipun berada di ujung periode pertama, hehehe saya bela-belain habis sholat shubuh bermain di atas tuts keyboard, demi tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama. tema “ sekitar rumah”, sekaligus mengabadikan beberapa kenangan di dalamnya. Mau tau apa yang akan saya tuliskan menyangkut tema? *Marikidi🙂

Rumah kami berada di depan jalan. Hingga kami bisa memperhatikan beragam manusia dengan aktivitasnya dari balik jendela. Mulai dari pedagang dan jualannya, pekerja seni dengan karyanya, sampai pejalan kaki yang lalu-lalang atau orang iseng yang suka menjadikan depan pagar kami untuk nongkrong dan bercerita, se-iseng kami yang gemar ngintip dari balik jendela..hehehe.

Dua putra saya paling senang berhambur keluar diikuti saya (yang sekali lagi) hanya doyan ngintip saja di jendela, ketika rombongan ondel-ondel melintas. Apanya ya, yang menarik dari ondel-ondel? Pertama, keramaiannya. Diiringi iringan musik keliling yang riuh ramai gegap gempita (mulai lebay,nih). Kedua, kelincahannya! Itu menurut saya. Bayangkan saja sepasang boneka besar dengan ukuran tinggi sekitar 2 meter, lebar kira-kira 120 sentimeter dengan lincahnya menari berputar-putar di jalan, meskipun tak jarang mereka tampil kalem. Dulu waktu hamil anak ketiga, saya kepengen liat mereka salto, tapi gak kesampaian 😀 Jangan lupa, nyawer ya, ketika menonton ondel-ondel, kasian *tawwa kodong jerih payahnya menghibur, mereka gak pernah pasang tarif,kok. Seikhlasnya saja.

Selain ondel-ondel, beragam jenis penari dan pengamen juga biasa lewat depan rumah kami, kadang ada yang mampir sekedar memperdengarkan suara sember gitar kecilnya dan tak kalah sembernya suaranya dikala bernyanyi. Jenis lagunya macam-macam mulai pop hingga dangdut seronok. Yah, dangdut seronok dengan lirik seoronok biasa dibawakan oleh para waria lengkap dengan riasan menor dan wig serta bulu mata warna-warni. Kalau yang jenis ini tidak pernah mampir di depan rumah kami, hanya lewat dengan langkah cepat sambil menenteng sound system kecil. Sepertinya mereka hanya mampir di warteg atau tempat ramai. Saya juga gak berharap mereka mampir, takut diajak joget bareng :p Ada juga keluarga pengamen yang biasa kami lihat, seorang ibu dengan menggendong anaknya sambil bernyanyi, atau seorang suami yang buta dengan istrinya yang membawa kotak sound dan microphone. Kalau penari, ada yang berupa badut dengan riasan wajah mirip petruk atau Gareng, tokoh pewayangan. Ada juga yang niat banget dengan memakai kostum penari kuda lumping. Belum lagi topeng monyet dengan atraksi-atraksinya, odong-odong, atau delman untuk ngangkut anak-anak keliling dengan tarif Rp. 1000/putaran. Aaaah, hidup di Jakarta memang harus “kreatif” demi sesuap nasi.

Kalau pedagang? Macam-macam juga yang melintas. Pedagang makanan contohnya, Mulai dari tukang ketoprak (makanan sejenis gado-gado), lontong sayur, bubur ayam, mie ayam, tongseng, tukang susu murni (murni dari sapi ya, bukan dari ASI,heheh), tukang jahit keliling dan lain-lain. Kami gak pernah sih, manggil-manggil mereka untuk sekedar mencicipi, senang aja liat mereka melintas dengan ciri “bunyian” khas sesuai dengan jenis jualan mereka. Tapi, kadang juga gak enak sendiri, kalau keisengan putra saya yang kedua kumat dan berusaha mencontoh bunyian yang keluar dari mulut tukang yang lewat depan rumah. Contoh, tukang sol sepatu yang berbunyi, “tu..” , tukang sayur “yur”, rasanya pengen minta maap kepada para tukang penjual atas prilaku anak saya itu.–,–‘

Hidup di Jakarta memang butuh perjuangan. Apalagi untuk masyarakat yang datang dari daerah yang benar-benar mengadu nasib di ibukota. Kalau menurut ibu mertua saya, dulu hidup di Jakarta terkadang bagi sebagian orang di daerah adalah menaikkan gengsi, tidak perduli apa profesi mereka. Ketika mereka pulang ke kampung halaman, mereka akan bangga karena bekerja di Jakarta. Entah sekarang. Yang jelas, saya mengajarkan kepada anak-anak kami untuk menghargai apapun profesi orang atau apapun hasil dari keringat yang sampai pada mereka, tidak usah jauh-jauh membereskan mainannya dengan baik atau merawat buku bacaannya agar tidak sobek-sobek sudah termasuk menghargai jerih payah orangtua yang telah menyediakan untuk mereka.

Itu saja, tentang “sesuatu” di sekitar rumah kami 🙂 Di sekitar rumah kamu bagaimana?

@cheitumminyafardain

Note:

*marikidi : lets check it out; yuk, mari

*tawwa kodong : kasihan (bingung saya nyari artinya, ada yang bisa bantu?)

Advertisements

BELAJAR DENGAN GLOBE

image

Pulang kantor abi membawa pulang tiruan bola dunia yang biasa disebut globe. Wah, ada bantuan alat peraga lagi,nih..buat Faris belajar tentang negara atau kota di dunia.

Waktu belajar mata pelajaran sosial, ia memilih belajar tentang senjata-senjata khas dari berbagai daerah di Indonesia. Sambil liat poster tentang senjata khas daerah di Indonesia, sambil liat lokasinya di Globe.

Sedikit cerita, kata abufardain, sempat dikomentari sama salah seorang teman kantor yang liat abi repot-repot bawa pulang globe. “Makanya sekolahin aja, di sekolah kan ada globe,jadi gak perlu repot-repot beli.”  Hehehe, memang benar di sekolah ada globe, saya juga masih ingat waktu sekolah duluu, tapi, sumpah! kita gak pernah tuh dibolehin pegang sama guru, katanya takut rusak, hehehe…alhasil globe di sekolah hanya berfungsi sebagai pajangan, ditaruh di atas lemari guru atau ruang kepala sekolah. Semoga dengan homeschooling, kami bisa memanfaatkannya dengan baik 🙂