motivasi

DUNIA YANG TIDAK MERAH JAMBU

Pink Beach, Taman Nasional Komodo

            sumber dari sini

“Kita lemah karena posisi jiwa kita salah, kita mencintai seseorang lalu kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak, atau tak beroleh kesempatan untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita, bukan karena kita mencintai dan juga mungkin bukan karena cinta itu sendiri. Tapi, karena kita meletakkan kebahagiaan kita pada cinta yang diterjemahkan sebagai kebersamaan.”

(Anis Matta, Serial Cinta, dalam Jalan Cinta Sang Pejuang)

September, tahun lalu,  saya dibuat terkejut dengan sebuah komentar di postingan saya yang berjudul Reuni, Manfaat Atau Tidak . Komentar sekaligus kegaluan seorang pria yang terjebak dalam sebuah kisah percintaan yang ia ciptakan sendiri. Rumit, karena ia mengunci komentarnya dengan pernyataan bahwa ia tak ingin disudutkan atas apa yang telah ia ceritakan. Lalu saya memutuskan untuk  meng-capture-nya dan meminta bantuan teman-teman FB saya untuk memberikan masukan. Berikut capture komentar MR. XXXXX, saya sebut saja begitu.

Sumber: dari postingan sini

Capture dari akun FB pribadi 🙂

Ah, saya sih berharap sang Mr. XXXXX membaca masukan teman-teman saya  di atas, atau saya cukup berpositif thinking saja bahwa lebih baik lagi jika ia telah “move on” jauh sebelum tulisan ini saya posting. Yeah, who knows?

Kisah cinta seperti punya Romeo-Juliet atau sebangsa Layla Majnun memang adalah romansa paling populer untuk dijadikan referensi bagi para pemuja cinta. Diamini pula oleh sebuah kisah percintaan dalam film Titanic, antara Rose dan Jack.  Dunia yang tidak merah jambu, begitu kira-kira istilah Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta. Orang-orang baik yang layak untuk diberikan ucapan belasungkawa, karena penderitaannya atas nama cinta. Ah, mungkin benar..mereka hanya mesti belajar mengasihani dirinya sendiri, bahwa saat cinta itu kandas, bukan harusnya sayapmu menjadi patah. Bukan. Tapi, bagaimana posisimu tetap kuat karena sebuah kata kerja, mencintai! Simak kutipan tulisan yang lagi-lagi bersumber dari buku berjudul “Serial Cinta” berikut:

Kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejewantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu kita pada posisi kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini kita justru melakukan pekerjaan besar dan agung: mencintai. Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang terjadi sesungguhnya hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: “apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder. Jadi, kita hanyalah patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita. (Anis Matta)

See? Haruskah ada kata “patah” ketika cinta yang kita harapkan ternyata bukan takdirnya untuk membersamai kita? Tergantung bagaimana kamu memulainya 🙂 Mungkin akan ada yang bilang, “Ah, mungkin kamu tak pernah merasakan patah hati, jadi dengan mudahnya menyuruh “move on”. Seperti kutipan di atas, bahwa cinta yang berawal dan berakhir pada Allah sebenarnya adalah cinta yang posisinya paling kuat. Lalu, bagaimana jika saya terlanjur sengsara karena patah hati?  Silahkan bergeser beberapa radius kilometer dari posisimu saat mencintai, dan dari tempat berdirimu sekarang, silahkan menertawakan dirimu dan kebodohan atas nama cinta, lalu benarkan posisi cintamu, berawal dan berakhir pada Allah, kembalilah berjalan maju di jalan yang benar, bergerak tanpa menoleh lagi. Karena hakikatnya cinta tak sesempit itu, ini hanya masalah waktu saja 🙂

Duh, bagaimana? Apa saya layak menjadi seorang motivator?  Saya harap sih, tidak..cukup bapaknya Kiswinar saja yang jago memotivasi orang hehehe, saya cukup berperan sebagai pengingat tentang kebenaran dan kesabaran.

Apa? Belum bisa move on juga?!! Baiklah, saya kembali mengutipkan sebuah quote lagi-lagi dari Bapak Anis yang jago banget (menurut saya) menulis motivasi tentang cinta-cinta yang bukan picisan, hehe.. ini untuk kamuh..:D

Kadang-kadang kamu harus belajar menepuk angin, bukan tangan lain yang melahirkan suara cinta.

(Anis Matta)

Kendari, 7 Maret 2017

@cheummufardain

Sumber tulisan: -Serial Cinta, Anis Matta

                                – Jalan Cinta Sang Pejuang, Salim A. Fillah

MOTIVASI LAH ANAK KITA

http://www.chaoswallpapers.com/kung_fu_panda_snake-wallpapers.htmlHari itu, Panda sedang dikelilingi anak-anak kelinci. Ia didaulat untuk bercerita tentang kisah yang dapat menyemangati anak-anak kelinci. Maka berceritalah si Panda tentang seekor anak ular betina yang dilahirkan tanpa taring. Padahal ia berayah yang sangat ditakuti musuh dipelosok negeri karena gigitan dan bisanya yang mematikan. Sang Ayah pun sedih melihat penerusnya kelak, lahir tanpa taring dan bisa. Suatu hari sang anak ular betina menangkap kesedihan ayahnya, maka dia coba menghibur ayahnya dengan menari dengan selembar kain diekornya sampai sang ayah tersenyum. Sang ayah memang tersenyum, tapi tidak hatinya, masih gundah. Hingga tiba waktu, datanglah seekor Gorilla jahat yang menyerang negeri mereka, Sang Ayah turun tangan namun sayang, usia tuanya tak mampu mengimbangi keinginan kuatnya dan juga tubuh kuat Gorilla, gigi sang ayah patah akibat menggigit sang Gorilla dan ia terhempas. Anak Ular betina melihat kejadian itu tidak tinggal diam, meski gertakannya pada sang Gorilla disambut tawa geli Gorilla, ia tak surut, dikeluarkannya tarian mautnya yang kemudian dapat membelit sang Gorilla hingga jatuh terjengkang. Kali ini bukan hanya bibir ayah yang tersenyum, hatinya juga.

Kutipan singkat cerita di atas saya ambil dari sebuah film kartun berjudul kung fu Panda, bukan untuk membahas sosok Panda tapi berusaha memetik hikmah dibalik cerita yang dikisahkan sang Panda di hadapan anak-anak kelinci yang sedang butuh motivasi karena sedang mengalami krisis kepercayaan diri. Pernahkah kita bersyukur dengan kelebihan ataupun kekurangan yang dikaruniakan Allah kepada anak kita? Bersyukur untuk suatu kelebihan mungkin sudah biasa, bagaimana dengan kekurangan? Saya sangat memuji orang tua yang menyemangati anaknya yang terlahir dengan kekurangan hingga keberadaan mereka dapat diperhitungkan sama bahkan lebih dari orang normal sekalipun. Di sebuah stasiun TV menayangkan seorang anak terlahir tanpa tangan sebelah namun ia tampil percaya diri menciptakan penemuan-penemuan karena semangat dari sang ibu yang tak pernah menyebutkan anaknya memiliki “kekurangan” tapi dengan kata “keistimewaan” yang dimiliki anaknya (sayang saya lupa nama dan penemuan anak itu). Pun seorang Gola Gong sang penulis handal yang telah menciptakan banyak tulisan, cerpen atau novel, padahal sebelah tangannya harus diamputasi karena kecelakaan terjatuh dari pohon semasa kecil. Ayahnya yang menyemangatinya untuk tidak berputus asa bukan hanya dengan bahasa lisan, tapi dengan sekantong kelereng untuk diajarkan ke Gola Gong bermain satu tangan.

Bagaimana dengan anak-anak kita yang terlahir sempurna, tidak banyak yang percaya diri ketika diminta maju ke depan kelas, atau sekedar menjawab pertanyaan siapa namamu, ketika bertemu teman ayah atau ibunya..Salah siapa? Tentu salah ayah ibunya yang tidak pernah memotivasi anaknya, pelit pujian, bahkan ada yang meremehkan anaknya sendiri, parahnya dilakukan di depan umum…atau kata…”maaf, anak saya pemalu..”sehingga anak akhirnya melabeli diri dengan label pemberian orang tuanya, “pemalu”.

Tulisan saya hentikan sampai di sini, dan berharap tuisan ini akan selalu mengingatkan saya atau anda untuk bersedia memotivasi anak, bukan hanya ketika mereka butuh, tapi disaat mereka sedang membuat kita tersenyum pun, seperti anak ular betina yang membuat ayahnya tersenyum:)

@waktu inspiratif, 21 Juni 2011

@cheitumminyafardais