SIBUK. SIBUK?

sibuk

Namanya Hanzallah. Sebelumnya saya mengenalnya dari kisah yang diceritakan abufardain, saat kami sedang menikmati sarapan di meja makan. Beliau bercerita bahwa Hanzallah adalah seorang sahabat yang syahid di medan perang dan jenazahnya dimandikan langsung oleh malaikat karena buru-buru memenuhi panggilan jihad di medan perang sampai menunda mandi janabahnya. Beberapa hari kemudian, nama Hanzallah saya dengar lagi disebut saat kami “melingkar dalam dekapan ukhuwah”.  Tapi, bukan kisah yang sama diceritakan suami  🙂 Ada sebuah kisah yang menurut saya menarik untuk dituliskan, setidaknya mewakili perasaan yang kadang bimbang karena berasa sibuk..hehehe..

Kisahnya bermula saat sahabat Hanzallah bertemu sahabat Abu bakr ra..Abu bakr ra. menanyakan kabar Hanzallah dan yang ditanya malah menyebut dirinya sendiri munafik. Munafik? Sahabat macam apa yang melabeli dirinya sendiri munafik? Ternyata Hanzallah berkata begitu karena ia mendapati dirinya saat bersama majelis Rasulullah ia seolah2 melihat neraka dan syurga, tapi ketika ia pulang bertemu anak istrinya, ia kemudian lupa semuanya, lalai. Tak disangka, Abu Bakr merasakan kegalauan yang sama, maka daripada galau berkepanjangan, akhirnya mereka memutuskan menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lalu kata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “saa’a wa saa’a..” artinya sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu ..berikut lengkap sabda beliau saya kutip di sini ..

Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, jika kalian menetapi perbuatan ketika kalian berada di sisiku dan ketika berdzikir, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian dalam setiap bentang perjalanan hidup dan langkah-langkah kalian, namun (ingatlah) wahai Hanzhalah! (Yang demikian itu akan kau dapatkan jika kau rutinkan) sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu.” Beliau mengucapkannya tiga kali.” (Shahih Muslim)

“Saa’a wa saa’a” sampai diulang tiga kali oleh Rasulullah kepada Hanzallah..berarti ada urgensi yang ingin disampaikan beliau kepada kita umatnya. Iyah, benar…bahwa Allah maklum kok dengan masa-masa KESIBUKAN kita. Maka Rasul-nya mengajarkan untuk tetap berdzikir, tetap beribadah, sedikit demi sedikit, tapi dari waktu ke waktu…hiks hiks…lembutnya ajarannya :,(  Saya jadi ingat seorang teman yang berusaha merutinkan wudhu dalam setiap keadaan, atau seorang teman yang rutin mengingatkan untuk tahajjud disepertiga malam terakhir :,)

Memang, kita dan kesibukan kita berbeda-beda kadarnya. Tidak layak dibanding-bandingkan, meski mungkin ada yang bisa disama-samain (hah! bingung, gak sih?) Sekali lagi, Allah maklum, kok, kalau kita sibuk..Pertanyaannya adalah, sudahkah kita membalas kebaikan Allah yang maklum dengan semua kesibukan kita, tapi tetap diberi-Nya nikmat, rahmat, dan mencukupi kebutuhan2 kita? Ohya, saya menemukan sebuah puisi Ahmad Rifa’i Rif’an dalam bukunya “Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk” di sini ,

 Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan.
Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk.  Jangankan berjamaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda.
Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah    sangat memberatkan kami.

Jangankan puasa Senin-Kamis, jangankan ayyaamul baith, jangankan puasa nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.
.
Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu.

Jangankah sedekah, jangankan jariyah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja seringkali terlupa.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu.

Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu.

Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami. Karena kami masih terlalu sibuk.

Hiks, jangan jejeritan bin histeris  gitu dong reaksinya 🙂  Berhentilah meratap dan garuk-garuk tanah tanpa menyelesaikan masalahmu  -.-” (mulai deh..mulai..)  Dan tidak perlu ikut-ikutan bikin puisi kayak di atas, lagi-lagi, Allah tahu, kok, kalau kita sibuk 🙂 Cukup akhiri membaca tulisan ini, dan mulai berpikir, kira-kira amalan apa yang akan kita rutinkan…Ingat! “Saa’a wa saa’a.., sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu.” 🙂

Kendari, 13 Desember 2016

Serpihan catatan melingkar….:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s