PRIA BUGIS, ETOS KERJA & PANNAI

kapal-pinisi-raja-ampat

                                                                        Sumber: google search

Bagi saya yang punya darah bugis asli, bicara tentang kebudayaan Bugis adalah sesuatu yang menarik untuk dilirik.  Sayang, meski seorang indo logo, lidah saya tidak begitu fasih berbahasa Bugis, tapi minimal saya mengerti ketika diajak ber-bahasa Bugis. Ironisnya lagi (biar kelihatan dramatis :D) saya memilih berpasangan hidup dengan pria Jawa. Nah, makanya, biar rona-rona bugis dalam diri saya tak luntur ditelan masa (apa sih..) dan kelak ibrohnya bisa diwariskan ke anak cucu terutama yang berjenis kelamin pria, maka saya memilih menuliskan saja, jadi ini bukan maksud tulisan menyinggung SARA,  tak perlu memekik NKRI harga mati! Apalagi pake apel siaga dimana-mana ^.^

Jika ingin menyimak tulisan indo logo macam saya ini, please, jangan baper, karena tulisan ini akibat  membaca buku jurnal  “Bingkisan Bunga Rampai Budaya Sulawesi Selatan”.  Diambil dari jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni tentang nilai sosial budaya dan sastra bugis oleh Fachruddin Ambo Enre; pesan berupa  elong atau lontara Arung Bila tentang pandangan Orang Bugis terhadap lelaki pemalas.

Eppa I wuwangenna gauqna waroane nariaseng

Massipaq makkunrai, tennaribilang woroane

Seuwani makuttu i. Maduanna malea i. Matellunna

Bonggo I, maeppana bebeq i

Artinya; Empat macam sifat lelaki maka dipandang memiliki sifat wanita dan tidak diperhitungkan sebagai lelaki. Pertama ia pemalas. Kedua ia lemah. Ketiga ia dungu, Keempat ia bodoh.

Tajam setajam silet, yah, maknanya (gak sambil melet lidah).  Mestinya, pandangan orang Bugis dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pesan lontara di atas dapat dijadikan pegangan bagi para pria Bugis di luar sana, lebih baik lagi jika diadopsi sebagai nilai- nilai luhur pedoman bangsa, bukti kekayaan Indonesia.

Berkaitan dengan etos kerja, masih menyangkut nilai-nilai kebudayaan Bugis-Makassar, saya kutipkan sebuah syair Bugis yang telah disadur dalam bahasa Indonesia dari buku yang sama:

Kalau layar sudah terkembang,

Kalau kemudi sudah terpasang,

Dalam mengharung samudra lepas,

Meski dihempas ombak dan gelombang,

Meski diserang badai dan topan,

Biarkan itu kemudi patah,

Biarkan itu layar robek, 

Lebih baik tenggelam…..

Berpantang membalik haluan pulang.

Wow! Bisa dibayangkan bagaimana teguh pendirian dan kerja kerasnya. Ini menggambarkan watak orang Bugis-Makassar yang tidak akan menyerah sebelum cita-citanya tercapai. Bugis-Makassar memang memiliki nilai-nilai utama kebudayaan yang berkaitan dengan etos kerja, antara lain; kerja keras (reso), keteguhan pendirian (getteng), kejujuran (lempu), kepatutan (appasitinajang), dan harga diri (siri’).

Selanjutnya bagian yang paling ditunggu-tunggu untuk dibahas. Pannai!😀 tulisan ini tidak ingin mengaitkan dengan sebuah film berjudul sama. Saya juga belum nonton,sih ..^.^ Tapi, saya teringat dengan sebuah kisah nyata seorang pria Bugis yang datang melamar pujaan hatinya. Sebagai orang Bugis-Makassar, calon mertuanyapun menetapkan jumlah pannai yang cukup fantastis, 80 juta! Apalagi sang anak gadis berdarah bangsawan dan seorang dokter. Si Pria Bugis bukannya mundur teratur, ia malah menyanggupi, tapi meminta waktu untuk mengumpulkan uang pannai seperti yang diminta sang calon mertua.  Dimulailah kerja keras sang pria Bugis mengumpulkan uang, yang sebenarnya bukan semata-mata nilai materi saja, tapi ada hikmah dibaliknya. Bahwa kerja keras yang dalam bahasa Bugis “reso temmanginngi” sedang ingin ditunjukkan sang Pria Bugis kepada calon mertuanya, bahwa calon mantunya itu bukan pria cengeng yang akan mundur lalu mengadu kemana-mana karena tidak sanggup menyediakan uang pannai.

Setiap suku di Indonesia memang punya adat kebudayaan masing-masing. Islam menganjurkan untuk saling mengenal dan tidak tenggelam dalam fanatik kesukuan seperti ayat berikut:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.Al Hujurat:13) .

Islam membolehkan adat dan kebudayaan selama tidak bertentangan dengan aqidah Islam dan adab-adabnya. Pernikahan diawali mendatangi wali, lalu memberi mahar dan kemudian menikahi wanitanya, sebenarnya salah satu model pernikahan yang ada pada masa jahiliyah dan tidak dihapuskan oleh Rasulullah SAW. ketika beliau diutus sebagai Rasul (lebih lengkapnya baca di sini.). Tapi, jangan lupa pula sabda beliau tentang “sebaik-baik wanita adalah yang paling murah maharnya”. Tapi, jangan dijadikan alasan untuk bermalas-malasan tanpa usaha, wahai pria Bugis.! Atau salahmu sendiri, mengapa jatuh cinta pada fulanah yang bermahar tinggi? Simpel, kan🙂

Jadi, tunggu apa lagi? Siapkan dirimu, modalmu, dan lamarlah!😀

Sumber tulisan: Jurnal Bingkisan Bunga Rampai  Sulawesi Selatan, tahun 1999

Kendari, 30 November 2016

@cheummufardain

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s