BELAJAR MAAF, DARI BUYA UNTUK PRAM

Handshake

Jangan pernah jadi pendendam, seberat apapun ujian menimpa.

(Buya Hamka)

Apakah anda penyuka karya sastra Pramoedya Ananta Toer? Atau penyuka karya-karya tulis seorang Buya Hamka? Atau anda seorang pengagum salah satu diantara mereka? Halah! Kalimat opening yang gak banget! Pertanyaan-pertanyaan saya sudah kayak iklan-iklan penjaja produk peninggi badan di tivi-tiviūüėÄ Jadi begini, Ceritanya saya baru saja menamatkan sebuah buku berjudul “Ayah…”. Buku tersebut bercerita tentang kenangan seorang Irfan Hamka kepada ayahnya Buya Hamka. Saya menemukan kisah bagaimana Buya Hamka memaafkan orang-orang yang pernah mendzaliminya dan keluarganya yang sayang jika tidak saya tuliskan kembali sebagai bahan pembelajaran, meski sebenarnya menurut saya tokoh pemaaf nomor satu tetap saya sematkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Tentu saja!

Kisahnya berawal di masa pemerintahan Sukarno, di era Demokrasi Terpimpin (1959-1965). Saat itu Indonesia sedang mengalami kekacauan politik dan krisis perekonomian.¬†PKI (Partai Komunis Indonesia) ¬†merupakan “sahabat dekat” Sukarno sudah sejak lama melancarkan aksi penggarapan ideologis mereka lewat berbagai aspek termasuk menerapkan faham mereka melalui seniman-seniman non-komunis dan pembentukan opini lewat media massa. Tujuan PKI adalah memuluskan kudeta atas pemerintahan Sukarno nanti.

Pramoedya Ananta Toer saat itu adalah seorang sastrawan novelis sekaligus pemimpin rubrik Lentera dalam surat kabar Bintang Timur.  Setiap sastrawan non-komunis diserang habis-habisan di rubrik Lentera, baik itu atas karya yang mereka buat maupun pada diri pribadi mereka. Buya Hamka adalah salah satu sasaran utama, selain beliau adalah sastrawan non-komunis, beliau juga tokoh ulama Muhammadiyah dan Masyumi yang bertentangan dengan PKI. Dua tahun Buya diserang terus menerus di media massa  yang merupakan corong PKI tersebut, berlanjut dengan penangkapan beliau atas tuduhan tak berdasar dan mengada-ada. Buya difitnah terlibat upaya perencanaan pembunuhan atas Presiden Sukarno dan Menteri Agama Syaifuddin Zuhri. Buya kemudian dipenjara tanpa pernah diadili selama 2 tahun  4 bulan.

Nah, bagian bagaimana Buya memaafkan Pram adalah bagian yang berkesan. Dikisahkan oleh Dr. Taufiq Ismail dalam kata pengantar dalam buku “Ayah…” ini. Saat Buya diundang ceramah oleh Dewan kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki, tahun 1969. Dalam sesi diskusi, beliau ditanyakan dua hal; pertama, pendapatnya tentang pelarangan ¬†buku Pramoedya Ananta Toer. Kedua, tentang bagaimana sikapnya terhadap Pramoedya yang telah menghancurkan nama baiknya beberapa tahun di surat kabar Bintang Timur. Buya menjawab bahwa tentang pelarangan buku ia tidak pernah setuju, karena filsafat hidup Pramoedya menurut Buya adalah cinta. Beliau pun menganjurkan jika tidak suka isi sebuah buku, jangan melarang peredaran buku itu tapi tandingi dengan menulis buku juga. Jawaban kedua, Buya menjawab telah memaafkan semua yang terlibat saat itu termasuk mengenai pelarangan buku-bukunya pada pemerintahan Demokrasi Terpimpin. Sontak seisi ruang hening dan beberapa meneteskan air mata.

Masih dikisahkan oleh Dr. Taufik Ismail dalam kata pengantar di buku ini, kisah berkesan kedua antara Buya dan Pram adalah saat Pramoedya mengirimkan calon menantunya yang keturunan Tiong-Hoa untuk diajarkan Islam kepada Buya Hamka.. karena tidak rela anaknya menikah dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda. Meski tidak secara gamblang meminta maaf atas “dosa” yang ia perbuat terhadap diri Buya di media massa pimpinannya, tapi mengirimkan calon mantunya belajar Islam kepada Buya secara tersirat gaya halus orang Jawa dalam meminta maaf. Hoedaifah orang yang pernah mengobati Pramoedya dan merupakan orang terdekatnya mengatakan bahwa Pramoedya mengakui bahwa Buya adalah yang paling mantap membahas tentang tauhid di Indonesia, belajar Islam ya belajar tauhid, begitu katanya. Lalu bagaimana dengan Buya? begitu tau bahwa yang datang kepadanya calon mantu Pramoedya, Buya hanya tertegun sebentar, lalu tersenyum dan berkata “baiklah..” dan mulai mengajarinya tanpa sedikitpun menceritakannya tentang “dosa” Pram di masa lalu.

Begitulah, bagaimana cahaya keikhlasan untuk memaafkan ditunjukkan seorang Buya Hamka. Ah, kisah bagaimana seseorang memaafkan setelah didzalimi itu banyak bertebaran dan mungkin di luar sana ada Hamka-Hamka yang juga sedang berjuang untuk memaafkan. Di dalam Al Quranpun, Allah telah berfirman:

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik, serta berpisahlah dari orang-orang yang bodoh. [al-A’raf/7:199]

Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla berfirman:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. [Ali Imran/3:159]

(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali-Imran/3:134]

Rasulullah Shallallahu ‚Äėalaihi wa sallam juga¬†menggambarkan besarnya keutamaan dan pahala sifat mudah memaafkan di sisi Allah Azza wa Jalla dalam sabda beliau:

‚ÄúTidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat)‚ÄĚ

Demikian, sudahkah kita memaafkan orang-orang yang mendzalimi kita tanpa embel-embel “Saya maafkan deh, tapi tunggu pembalasan di akhirat!” ??ūüėÄ layaknya musuh-musuh superhero yang mau tidak mau kalah dalam sebuah pertarungan??(halah, apalagi ini?). Jangan begitu, memang berat, karena memaafkan berbanding lurus dengan keikhlasan. Bukan begitu,¬†iman?

*Pagi, hujan deras, menulis untuk diri sembari  menunggu tukang sayur menepi :)

Kendari, 2 Agustus 2016

Sumber Tulisan: Ayah…, Kisah Buya Hamka, Irfan Hamka, Republika, 2016

@Cheummufardain

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s