MEMBAHAS SEBELAS (UNTUKMU)

images

Sebelas. Ini tentang lamanya waktu pernikahan antara saya dengan kamu. Saya tahu bahwa dahulu kamu jatuh cinta pada saya karena paras (#benerin ciput). Meski ketika pertama kali kamu datang untuk taaruf, saya bilang kalau saya ini gak bisa masak , keras kepala, dan suka marah-marah. Kamu rupanya tidak perduli, kamu dibutakan dengan cinta dan paras saya  (#panci berjatuhan di dapur disusul sendok dan gegarpuan). Padahal, seperti nama saya “hikmah”, saya ingin kamu mengambil hikmah dari ucapan saya, bahwa jangan berharap banyak dengan paras saya, itu hanya satu kelebihan yang menutupi ribuan keburukan saya.  Namanya juga jodoh, kamu mungkin setali tiga uang dengan saya yang naif dan berpikiran bablas, bahwa bernama “Soleh” sudah cukup merangkum segala hal tentang dirimu. Lalu, bermaharkan perhiasan emas secukupnya resmilah saya menjadi istrimu.

Seseorang mengatakan bahwa cara saya mengobrol denganmu seperti seorang teman dengan temannya. Terlalu akrab. Yah..sebelas, berumahtangga seusia itu mungkin yang kemudian membuat kita menjadi sepasang sahabat beranak empat (?) Sahabat yang saling ngefans. Saya selalu ngefans dengan cerita-cerita masa kecilmu yang seru dan masa remajamu sebagai pemuda yang kental dengan lingkungan NU, ngefans dengan leluconmu sambil berharap efeknya menyamai krim anti aging di wajah saya, meski tidak jarang saya juga sebal karena ..karena…karena apa ya? Hahaha, saya juga bingung kenapa, mungkin karena kesebalan saya 95 % dipengaruhi hormon perempuan..5% kamu yang bikin sebal (alasan saja)😀 Lalu, bagaimana dengan kamu? Jadi, selain ngefans pada saya karena paras (benerin ciput lagi), konon katanya kamu ngefans dengan tulisan tangan saya, kamu juga ngefans dengan status-status saya di facebook, pokoknya apapun yang saya hasilkan kamu pasti akan ngefans. Saking ngefansnya saat saya butuh kritikan, kamu memilih bungkam daripada mengeluarkan kritikan dengan alasan khawatir suasana memanas -.-(ciput miring lagi)

Sebelas dengan drama-dramanya. Kamu pasti masih ingat di awal pernikahan, saya yang sedikit-sedikit ngambek. Ngambek saat kamu bilang saya bukan tukang parkir yang baik karena memang tidak bisa memberikan aba-aba yang baik saat kita terjebak di sebuah dermaga yang sekelilingnya air saat nyasar nyari alamat. Peristiwa anak kita Faris yang usianya setahunan saat itu  kepalanya  terjebak di putaran pintu masuk sebuah swayalan, kamu berjibaku bersama seorang satpam dan seorang pramuniaga mengeluarkan kepala Faris. Alhamdulillah berhasil! Meski setelah itu tetap saja saya ngambek dengan alasan kamu yang lalai, padahal saya juga lalai!  Itu di awal pernikahan, saat kita belajar saling memahami dan saling belajar menerima kekurangan. 

Sebelas dengan kekonyolan kita.  Ah, saya masih ingat saat kita masih berdua, kamu yang iseng memakai kepala badut Dora lalu saya dengan sigap memotretmu saat kita sedang menunggu pesanan kue kita. Norak, saat kita dan anak-anak masuk sebuah mall yang besar dan tidak tahu arah jalan pulang. Kamu dengan prinsipmu “anti bertanya dan lebih mengandalkan peta ..sedang saya dengan prinsip “malu bertanya, sesat loh”. Kamu yang selalu berusaha supaya saya ingat tentang penyanyi-penyanyi lawas dan lagu-lagunya mulai dari Yulius sitanggang, Tomi Jepisa, Ebiet G. Ade, Betaria Sonata, Nia Daniati, Roma Irama dan sebagainya….dan saya.. Saya yang kadang berpura-pura tidak tahu supaya permainan kita berjalan alot😀. Atau membahas lirik lagu yang kita dengarkan tak sengaja saat berbelanja di sebuah toko. Berimajinasi bersama tentang sebuah peristiwa yang terjadi di depan mata kita, merubahnya menjadi sebuah fiksi khayalan kita berdua😀.. Saat itu kita sedang belajar saling melengkapi dan belajar saling “menyenangkan” satu sama lain.

Sebelas dan keromantisan yang melengkapinya. Yah, kamu pasti masih ingat saat kita melewati baliho calon kepala daerah. Saya yang bermata rabun jauh ini membaca sebuah nama sambil lewat lalu menyampaikannya ke kamu. Dan kamu, menertawakan saya karena meragukan yang saya baca. “Masa ada orang namanya Hujurat..hahaha!” Lalu sepanjang jalan kamu menertawakan saya yang berusaha ikut tertawa mengikutimu, padahal di dalam hati sebal. Keesokan harinya saat saya sudah melupakan peristiwa itu, kamu menelpon siang-siang hanya untuk minta maaf, mengaku salah dan membenarkan yang saya baca kemarin. Yah, orang yang bernama Hujurat itu ada! Memang gak penting banget ya, tapi menurut saya ini momen romantis dan membuat meleleh heheehhe. Yah, saat itu kita belajar mengakui kesalahan dan saling memaafkan kesalahan .

Sebelas dan ke-aku-an yang melebur didalamnya. Bahwa saya pernah mencari-cari alasan dan  tidak terima saat kamu menegur kebiasaan saya mengusap wajah setelah sholat. Meski setelahnya diam-diam saya meninggalkan kebiasaan itu. Kamu pernah mendiamkan saya karena  mengkritikmu sambil marah, meski besok-besok saya tidak pernah menemukan kesalahan yang saya kritik itu lagi di kamu. Lalu, kita membahas sifat kita berdua dan mengakui bahwa kadang kita butuh waktu untuk menjadi lebih baik. Saat itu kita belajar untuk meredam ego.

Sebelas. Ketika jumlah jari tanganmu yang sepuluh itu membutuhkan satu jari tangan saya untuk menggenapkan jumlahnya menjadi sebelas. Yah, begitulah kita saling membutuhkan. Saya membutuhkanmu untuk menggaruk punggung saya yang gatal dan tidak terjangkau tangan saya sendiri. Kamu membutuhkan saya untuk mengecek barang-barangmu yang ketinggalan entah di mana. Cuma itu? Tidak, lebih banyak dari itu!

Baiklah, Terimakasih tanpa waktu kadaluarsa untuk warna-warna  yang kamu goreskan dalam “kertas hidup” saya, saya yang hanya suka satu jenis minuman, jus jeruk..yang suka minta dibelikan coklat lalu bilang tidak mau membaginya denganmu, yang lebih menikmati pemandangan sawah dan kebun teh daripada laut dan pegunungan..saya yang tidak terlalu senang bertualang jauh-jauh, karena bersamamu sudah cukup menjadi petualangan seru untuk saya.

UHIBBUKKA FII LLAH WA ROSULULLOH..setiap saat ^.^

07052016 Sebuah catatan kecil @Wedding Anniversary yang ke-11 dan untuk pria yang genap berusia 38 tahun kemarin, Abu fardain.

Bumi Alloh, Kendari, 10052016

Cheummfardain

6 comments

  1. Gantian saya yg nge-cie cie hahaha:)

    alfu mabruk, semoga ttp sakinah bersamanya🙂
    btw kak, bagus kyknya duetki nulis buku ttg beginian. alhmdulillah, ada kutau jg link ke penerbit🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s