TIGA PULUH DUA

image

Saya ingin membicarakan angka 32. 32 bukan tentang nomor ukuran sepatu saya, karena itu terlalu imut.. juga bukan nomor punggung pemain sepak bola, karena saya tak suka bola.  Apalagi tentang jumlah anak, karena itu terlalu banyaaaaaaak. 32 hanyalah angka yang saya dapatkan tahun ini, setelah penambahan angka satu yang berulang setiap tahunnya selama 32 kali. Hiks, tiba-tiba perasaan saya jadi gak enak.

Ah, 32! Rasululllah salallahu alaihi wa sallam pernah menghibur seorang nenek bahwa di syurga nanti usia rentanya akan diturunkan hingga mencapai angka 32 (apa 33 yah?)hingga tidak akan ditemukan satupun penghuni syurga itu berusia lanjut alias nenek-nenek. Eh kok tiba-tiba saya ikut terhibur, tapi bukan karena saya nenek seperti nenek yang dihibur Rasululloh -.-” Aha! Finally, you know what I’m talking about, meski saya gak yakin kalian akan mengerti. *sambil menatap nanar ke langit-langit.

Padahal saya adalah orang yang paling gak suka menampak-nampakkan berapa usia saya. Meski cukup terhibur ketika beli nasi kuning, dan ibu2 tukang nasi kuningnya mengira kalau saya masih gadis yang bawa anak orang yang kebetulan mirip saya atau masih single tapi punya anak..disitu kadang saya merasa bingung mau ngeborong nasi kuningnya apa pulang saja😀

Oke, dengan berat hati dan penantian yang cukup panjang (halah mulai saya dengan bahasa lebay)untuk mengakui usia saya tahun ini genap 32 tahun. Dan tiba-tiba saya ingin mundur beberapa tahun sejenak, sekedar untuk mengenang beberapa momen yang barangkali bisa lebih membuat saya banyak bersyukur, banyak introspeksi, banyak belajar, banyak berusaha…

TENTANG HIJRAH PERTAMA
Bahwa hijrah pertama saya tahun 2001 di usia 18 tahun, hiks meski berasa telat..tapi yang kemudian merubah sebagian hidup saya adalah memutuskan berjilbab. Memang perubahannya tidak serta merta. Memutuskan berjilbab, karena saya menghargai diri saya sekaligus menghargai ciptaan-Nya..dan perlahan-lahan saya mulai menghargai hidup saya. Masih ingat, jilbab-jilbab pertama saya tidak ada yang baru, semua ngambil punya mama. Begitu juga baju. Ohya, saya memang tidak fashionable dalam berjilbab, biasa saja. Jilbab menjulur ke bawah (untung lidah gak ikut menjulur, tar disangka rolling stone :D), baju longgar, diawal masih pake celana..lama kelamaan lebih nyaman dengan rok, tentu atasnya masih pake baju😀 karena dulu jamannya jilbab dililit-lilit di leher layaknya ular yang melingkar-lingkar di pagar, saya tambah menjadi tidak bergaya. Saking gak begayanya sampai pernah dikritik seseorang ibarat hape, isinya sudah oke tinggal casingnya..lalu meminta saya berkiblat pada seorang artis inneke koes-siapalah itu, ingin rasanya menggetok kepalanya biar nyadar kalau kiblat itu menghadap kakbah bukan menghadap ke artis -.- Etapi, berterimakasih banget dengan kritikan tersebut, karena itu saya lebih mengerti arti berjilbab seperti yang pernah saya tuliskan di sini. Yah, berjilbab itu bukan karena ingin dipuji lebih baik dimata manusia, terpenting berjilbab adalah bentuk ketakwaan kita kepada Allah.

TENTANG MENIKAH
Saya menikah di usia hampir 22, Mei 2005, 4 tahun setelah memutuskan berjilbab. Sama seperti alasan saya berjilbab, saya memutuskan menerima lamaran seorang pria terbaik di seluruh antero jagad raya di usia 21 tahun tak lebih karena saya menghargai diri saya sendiri. Yah, sejak berjilbab, perlahan-lahan saya merubah mindset saya bahwa perkara mendapatkan jodoh bukan dengan berpacaran. Lalu saya menyibukkan diri dengan memperbaiki diri sedikit demi sedikit sampai kemudian jodoh itu datang dengan proses yang singkat dan penuh kemudahan dari Allah.

TENTANG HIJRAH KEDUA
Setelah kurang lebih 27 tahun menetap di Makassar terhitung sejak lahir, di tahun ke lima pernikahan..Allahpun menakdirkan kami untuk hijrah ke Ibukota. Momen yang saya tunggu-tunggu. Sejak lama saya memang ingin hidup mandiri, tapi apa daya, saya harus merelakan orangtua saya mengatur hidup saya mulai dari yang terkecil. Beruntung tidak dalam urusan jodoh, hehehe. Dan lama kelamaan, saya baru nyadar yang mereka lakukan ada hikmahnya dan semuanya demi kebaikan saya. Bahwa semuanya tak lepas dari takdir Allah, hijrahpun banyak merubah pola pikir saya. Saya tadinya adalah orang yang tidak toleransi dengan perbedaan. Kehidupan di Jakarta membuka pikiran saya bagaimana melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda..memang tidak perlu mentah-mentah menerima sebuah perbedaan tapi membiarkannya tetap berbeda tanpa harus merasa lebih baik karena berbeda. Contohnya, kami mengenal homeschooling ketika hijrah ke Jakarta, ketika anak-anak kami memutuskan homeschooling selepas TK,  kami tak perlu menjelek-jelekkan sekolah dan merasa pilihan kami lebih baik, meski orang-orang yang mengetahui anak-anak kami tidak sekolah menganggap kami aneh. Saya dan anak-anak tidak perlu menganggap najis tralala profesi pengamen waria yang berseliweran setiap sore di depan rumah kami, tapi cukup menegaskan ke anak-anak kami pentingnya iman dan yakin bahwa rezki itu dari Allah kita tinggal mengusahakan yang halal. Syukur-syukur besok-besok bisa ngajak waria kembali ke jalan yang benar, meski tak mungkin oh tak mungkin aku kembali, oh tak mungkin, tak mungkin ku datang lagi *nyanyik

Tinggal di pemukiman padat penduduk dengan berbagai karakter dan kelakuan yang bermacam-macam mengajarkan saya untuk lebih banyak memaklumi daripada menjudge, meski ada juga yang harus diluruskan seperti ketika berhadapan dengan seorang ibu yang mengembalikan kiriman kue saya lewat asistennya saat saya datang silaturahmi mewakili orangtua murid sewaktu putra sulung kami masih sekolah dan ia tidak di rumah. Ohya, kebetulan pula ibu ini masih tetangga-an sama kami. Maklum ia adalah ibu yang ingin dianggap penting keberadaannya. Singkat cerita, saya datang lagi ke rumah ibu tersebut secara baik-baik untuk mengklarifikasi alasan kue saya yang dikembalikan bersama rombongan guru yang niatnya minta maaf, maklum salah satu donatur besar sekolah. Singkat cerita lagi, kami ngobrol baik-baik, sama sekali tidak ada perang mulut  cuma sedikit berdiskusi dengan suami si ibu tentang definisi hadiah yang tidak boleh diterima menurut islam, what? Saya dikira mo nyuap?😀 singkat cerita lagi, pulangnya kami saling memaafkan dan kelihatannya ibunya juga baik dan saya pikir case close. Sampai beberapa minggu kemudian, saya dipanggil lagi pihak sekolah untuk meluruskan dan disangka menyebar gosip ke tetangga-tetangga bahwa si ibu menolak rejeki dengan mengembalikan kue yang saya berikan, hiks padahal sejak pulang dari rumahnya saya tidak membahas lagi masalah itu dan saya buka tipe ibu2 penggosip. Akhirnya ketahuan kalau yang cerita kesana kemari itu asisten rumahtangganya sendiri dan sejak saat itu ibunya malu sendiri dan mulai menarik diri dari sekolah dan lingkungan sosial, meski masih mau tak mau membalas senyum saya ketika bertemu di jalan.. Meski sekolah akhirnya kehilangan donatur terbaik sepanjang masa..setidaknya saya lega…Hehehe, karena kebaikan memang selalu berpihak kepada gadis baik seperti saya. Eh gadis? Kelihatannya saja, sih :p Demikian kehebohan yang tidak sengaja saya buat di tahun pertama tinggal di Jakarta😀

Berhubung saya ingin segera mengakhiri tulisan ini, jadi, kita kembali ke angka 32 saja. Bahwa tidak terhitung nikmat yang harus saya syukuri selama ini. Sampai detik ini, ketika usia saya memasuki 32 tahun. Termasuk tambahan gadis kecil dalam kehidupan kami yang baru saja lahir bulan kemarin. Alhamdulillah, ya Allah.
Mimpi? masih banyak pula mimpi yang belum terealisasikan..bisa hafal quran seperti yang diusahakan anak-anak kami, menerbitkan satu buku komik tentang perjalanan saya menjadi seorang ibu dari anak-anak terhebat dunia akhirat dan istri dari seorang pria terbaik seantero jagad raya. Menambah keahlian mengendarai kendaraan beroda dua, tiga dan empat..minimal kuda jelek-jeleknya keledai. Begitu pula masih banyak barang yang diinginkan yang belum kesampaian seperti pen tablet keluaran terbaru, mesin jahit keluaran terbaru, diamond keluaran terbaru, emas batangan berbentuk huruf C, rumah di pinggir sawah beserta sawahnya, dan oven keluaran terbaru. Mungkin setelah tulisan ini diposting ada yang mau endorse ?😀

Lalu, ayat copasan saya ini kemudian mengingatkan saya di usia saya yang ke-32..
Allah Swt berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?” (QS. Al An’am:32)

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnyan akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahuinya.” (QS. Al Ankabut:64)

إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ وَإِن تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُم
“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (QS. Muhammad:36)

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…” (QS. Al Hadid:20)

Ah di sela-sela kenikmatan yang Alloh berikan, saya masih terlalu banyak bersenda gurau, masih sering lalai, ibadah saya masih banyak kurangnya. Bahkan saya lupa cita-cita tertinggi yang pernah saya idam-idamkan..hidup mulia atau mati syahid. Ah, mungkin baiknya masuk usia 32 ini saya harus lebih banyak lagi beristigfar, itu saja!

Makassar, 19 september 2015

5 comments

  1. Bolak balik membaca ” Menambah keahlian mengendarai kendaraan beroda dua, tiga dan empat… Wait…. Tigaa?? what’s that suppose to mean ??? Sgitu kangennya sama bajaj sampe pengen punya ??? Well, enough said, you’re just a quirky person in a way, sista’…. happy birthday, love ya’ adek ajaibku….. muach……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s