PILIH PRIA BAGAIMANA?

“Pilih mana pria ganteng tapi miskin atau kaya tapi jelek?”
“Pilih mana lelaki soleh tapi labil atau lelaki biasa2 saja tapi berniat untuk jadi baik?”

Pertanyaan-pertanyaan di atas saya dapatkan dari sebuah acara siraman rohani islam di sebuah stasiun televisi. Isengnya, saya malah ingin menuliskan dan membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tentang pria ganteng tapi miskin…hemh, wanita mana yang tidak mengagumi kegantengan (kecuali saya yang 85 % lebih cenderung mengagumi kecantikan hehehe). Karena kegantengan yang kemudian membuat seorang istri raja nekat mengajaknya  berselingkuh, dialah Zulaikha. Karena kegantengan yang akhirnya membuat jemari lentik wanita-wanita undangan zulaikha teriris-iris pisau dan berlumur darah tanpa disadari. Dan pria ganteng itu adalah Nabi Yusuf alaihissalam.
Tapi, kan miskin? Entahlah..saya tidak yakin yang ganteng bisa tetap miskin selamanya, setidaknya dia punya modal kegantengan yang mungkin bisa menghasilkan uang😀 Yang jelas pria ganteng itu banyaaak (“banyaaak” dicatat ya) disukai wanita contohnya Nabi Yusuf di atas, maka ketika ada wanita yang mendapatkan pria ganteng maka bersiap siagalah😀

Tentang pria jelek tapi kaya…Masih ingat kisah di zaman Rasululloh tentang pria tidak rupawan bernama Tsabit bin Qois? Pria ini terpaksa harus mau memenuhi permintaan Jamilah istrinya setelah istrinya tersebut mengadu kepada Rasululloh sallallahu alaihi wasallam karena sang istri tidak tahan bertemu dengannya tiap hari dengan wajah yang tidak rupawan. Kasihan, ya? bukan apa-apa, si Jamilah khawatir dirinya kufur jika terus bersama dengan suami tidak rupawannya, makanya Rasulullohpun mengijinkan meski mengsyaratkan Jamilah harus mengembalikan mahar atau hadiah pemberian Tsabit dan Jamilah menyanggupi.
Tapi kan kaya? Entahlah, jaman sekarang, banyak sih wanita-wanita yang lebih mengutamakan kaya raya melimpah harta ketimbang kegantengan, begitulah..ujiannya wanita memang berbentuk materi..mungkin dengan pertimbangan kalau kaya raya, uangnya bisa dipakai ngantar pria tidak rupawan tersebut ke korea untuk operasi plastik, hehehe.

Pria soleh tapi labil….haish, model pria macam apa ini? Seorang muslim yang ngaku dirinya soleh seharusnya bisa mengamalkan ajaran agamanya secara kaffah (menyeluruh) dan punya pendirian teguh.. jika belum, jangan ngaku-ngaku soleh dong, bilang saja kesolehan belum sempurna dan berusaha menyempurnakan. Itu lebih baik. Daripada kelihatan soleh tapi diajak maksiat mau-mau saja. Tinggalkan model pria beginian, jangan dipilih ya..

Pria biasa tapi mau jadi lebih baik….memang mau dijanji sama pria seperti itu? Pria biasa sayapun tidak mengerti “biasa”nya itu seperti apa. Mungkin maksudnya pria tersebut baik hati tidak sombong tapi kesolehannya tidak nampak kali ya? Tapi, dia janji kalau dia mau jadi lebih baik. Hemh, jangan mau menerima janji model beginian..karena jadi lebih baik tidak memerlukan janji tapi pembuktian!

Sebenarnya sih, jika seorang perempuan dihadapkan dengan pilihan-pilihan, jalan keluarnya adalah beristikharah, tapi yang harus dicatat sebelum beristikharah adalah menetralkan perasaan, dan tidak cenderung pada salah satu pilihan. Artinya menetralkan perasaan menyerahkan apapun hasilnya hanya kepada Alloh.

Ohya, Saya baru saja membaca sebuah kisah menarik bagaimana seorang sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, Bilal meminang, mungkin agak ga nyambung dengan apa yang sudah dibahas di atas, tapi bisa menjadi referensi untuk menilai seorang pelamar atau bisa jadi inspirasi bagi laki-laki saat datang melamar…

“Suatu hari ia pergi meminang wanita untuk dirinya dan untuk saudara laki-lakinya. Ia berkata kepada ayah dua wanita itu, “Aku Bilal, dan ini saudaraku. Kami dua budak Habsyi. Dulu kami berada dalam kesesatan, lalu Allah memberikan hidayah kepada kami. Dulu kami budak belian, lalu Allah memerdekakan kami. Jika bapak menerima pinangan kami, maka segala puji bagi Allah. Jika bapak tidak menerima, maka Allah adalah Tuhan Yang Maha Besar.” (Dikutip dari buku 60 Siroh Sahabat Rasulullah SAW karya Khalid Muhammad Khalid).

Demikianlah bagaimana penggalan kisah di atas menggambarkan kejujuran dan kerendahan hati seorang Bilal ketika meminang wanita di hadapan ayah sang wanita.  Jujur dengan latar belakang masa lalunya dan ditutup dengan tawakkal dan keikhlasan jika diterima ia bersyukur memuji Allah, jika ditolak ia menghibur dirinya dengan bertakbir. Meski ia sangat dekat dengan Rasulullah, tidak membuatnya bangga diri, malah ia tetap mengingatkan dirinya bahwa ia pernah menjadi seorang budak Habsyi. Jadi, bagaimana? Terinspirasi?🙂

Day 6 #NulisRandom2015
@cheitumminyafardain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s