SABAR!

image

Saya menemukan sebuah kata yang rancu untuk saya tuliskan sendiri. Yah, kata “sabar” dengan tanda seru di belakangnya. Sabar, seperti saya yang sedang mulai bersabar mengurai kembali makna sabar itu sendiri lewat tulisan.

“Sabar, dong! Ummi lagi sibuk,nih!” Itu saya tak sedang sabar.
“Sabar, dong. Lagi antri, nih!”

Memang, sabar bukan sekedar bahasa tulisan atau lisan..atau ia akan menjadi rancu seperti kalimat saya di atas, rancu!🙂

Allah mendampingkan kata sabar dan sholat dalam kitabullah, tentu ada manfaatnya. Dan kesabaran pun berbanding lurus dengan tingkat keimanan. Bagaimana Rasululloh sallallahu alaihi wa sallam bersabar dengan cacian, fitnah, gangguan kaum kafir quraish. Atau ketika menghadapi istri- istri beliau yang sedang dibakar cemburu. Oke, manusia biasa mungkin tak bisa menandingi bagaimana sabarnya seorang nabi. Tapi, Itu katamu. Saya menemukan betapa banyak pula manusia biasa yang mampu meletakkan kesabaran sebagai tameng ketika dihadapkan ujian.

Saya pernah kagum dengan kesabaran seorang teman yang dikhianati suaminya tapi ia tetap memilih mendampingi dan merawat anak-anaknya, dan suami “jahatnya”. Saya juga kagum dengan kesabaran seorang janda beranak satu yang saya pernah jumpai menjalani hari-harinya di atas kursi roda dengan segala keterbatasannya dan tanpa bantuan keluarga. Atau kesabaran seseorang istri yang suaminya dituduh korupsi, dibicarakan diseluruh media, dihujat, dihina. Kesabaran-kesabaran besar membutuhkan iman yang tentu tidak kecil, tidak lemah.

Itu sabar dalam ujian “keburukan”. Apakah ujian kenikmatan dan kebaikan tidak butuh kesabaran? Jawabnya butuh. Seseorang yang diberi kenikmatan berupa harta melimpah, keluarga harmonispun butuh kesabaran. Bersabar jika diberi harta melimpah agar tidak takabbur juga tidak mudah. Mendidik keluarganya tetap di jalan Alloh dan menjaga mereka agar tidak terjerumus neraka kelak juga membutuhkan kadar keimanan yang tidak sedikit.

Jika, menurut Ibnu Qayyim sabar itu terbagi tiga:
1. Sabar bersama ketaatan kepada Alloh.
2. Sabar (dengan pertolongan Alloh) untuk tidak terpengaruh dengan hal-hal yang buruk atau nafsu syaithon.
3. Sabar untuk tidak mengeluhkan apapun sembari terus mengharapkan pertolongan Alloh.

Praktiknya memang tak semudah teori, ya? Dan kadang efek ketidaksabaran sering kita sadari ketika telah merasa sudah tak sabar. Dan tulisan saya yang “sabar” menjadi draft beberapa lama ini akan saya akhiri, sambil berdoa;

Robbanaa Afrigh ‘Alainaa Shobron wa Tsabbit Aqdaamanaa wanshurnaa ‘Alal Qoumil Kaafiriin’.

“Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah: 250).

Aamiin, allahumma aamiin.
Kendari, 8 Maret 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s