SEMUA TAK SAMA

Malam sebelum tidur, saya menyempatkan membaca (lagi) buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” karya Salim A.Fillah. Bab “Karena Ukuran Kita Tak Sama” sudah berkali-kali saya baca, selain karena suka juga karena saya butuh berkali-kali untuk mencerna apa yang ditulis Salim A. Fillah, hehehe iyah, maklum saja bahwa kecerdasan saya memang kadang tak bertahan lama.

Lupakan tentang kecerdasan saya yang tidak bertahan lama. Yang menarik dari bab ini adalah ketika penulis berkisah tentang bagaimana Rasulullah salallahu alaihi wa sallam memperlakukan para sahabat sesuai dengan kemampuan/kapasitas para sahabat. Rasululloh salallahu alaihi wasallam tidak menolak ketika Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya untuk di infakkan di jalan Allah, dan ketika ditanyakan apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu, Abu Bakar berkata kutinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya. Tidak demikian dengan Sa’ad ibn Abi waqqash ketika ia bertanya pada Rasululloh bolehkah ia menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah. Rasulullah lalu berkata, sepertiga adalah jumlah yang banyak. Sesungguhnya engkau tinggalkan keluargamu dalam keadaan kaya dan mampu adalah lebih baik daripada kau tinggalkan mereka dalam keadaan fakir dan meminta-minta. Mengapa Rasululloh bersikap berbeda? Masih dalam buku tersebut dijelaskan analisisnya bahwa Rasulullah bisa mengukur kapasitas dan kapabilitas mereka yang tidak sama dalam menjemput rizki dan dalam mendidik keluarga mereka untuk ikhlas berkorban di jalanNya.

Memang tidak ada yang bisa menandingi bijaknya Rasululloh. Beliau tidak menyamakan para sahabatnya karena setiap sahabat punya latar belakang berbeda. Juga tidak membanding-banding satu dengan yang lain karena masing-masing punya karakter sendiri.

Saya ingin melompat jauh sejauh-jauhnya dari zaman Rasululloh ke zaman sekarang. Bukan untuk memperbandingkan, tapi untuk mengajari diri saya sendiri. Bahwa sungguh tidak bijak mengukur seseorang dengan ukuran kita, karena ukuran kita belum tentu sebanding dengan objek yang kita nilai. Atau malah membebani, ketika kita mengukur seseorang dengan seorang tokoh hebat karena mereka berprofesi yang sama. Ah, inipun saya sering kecolongan diri sendiri, tanpa sadar.

Begitu juga dengan anak, sebagai orangtua yang anaknya gak disekolahin sekolah formal, beberapa kali saya mendapati diri saya membandingkan dengan anak homeschoolers lainnya yang sudah mampu menunjukkan bakat dan keahliannya diusia belia. Padahal seharusnya saya sadar, anak saya ya anak saya, bukan menyerupai anak orang lain😦 Beruntung segera sadar, dan kembali fokus mendidik diri untuk anak-anak.

Ah, manusiawi! Maka sebaiknya fokus saja dengan yang ada pada diri kita, yang Alloh anugerahkan pada kita, apapun bentuknya. Alias BERSYUKUR! Bukan semata-mata karena dengan bersyukur maka Alloh tambahkan nikmat-Nya, tapi bersyukur menunjukkan bahwa kita menghargai Alloh Sang Pemberi Karunia, juga diri kita, bukankah itu cukup (sebagai manusia biasa-biasa saja) untuk dijadikan bekal agar menilai yang nampak secara proporsional. Alhamdulillah

Kendari, 26 november 2014
*menyelesaikan tulisan di draft yang belum selesai sejak tahun lalu

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s