I QUIT!

Sebenarnya sudah lama ingin menulis tentang cerita bagaimana saya bisa mengajar lukis/gambar di sebuah TK di jakarta. Entah mengapa, beberapa tulisan saya tentang pengalaman mengajar di sekolah itu tidak pernah saya publish, tercatat sebagai draft saja di blog.

Singkat cerita saja, dua tahun lalu saya mulai mengajar di sekolah tersebut karena permintaan kepala sekolah sendiri karena beliau tahu saya bisa menggambar. Sekolah tersebut almamater putra kami, beberapa kali sekolah itu berganti guru gambar karena tidak cocok dengan anak-anak. Saya menyaksikan sendiri bagaimana guru gambar sebelum saya memperlakukan anak-anak dengan kasar ketika mereka lambat mengumpulkan hasil gambar mereka, bahkan beberapa dari mereka menangis dan  trauma bila hari untuk kelas menggambar itu tiba. Ketika ada forum rapat ortu dan guru, saya menyampaikan itu kepada kepala sekolah, dan disambut dengan tawaran “bagaimana kalau ummi saja yang ngajar?” Saya mengiyakan. Saya menikmati mengajar anak-anak di TK tersebut, bahkan tidak mengambil bulanan honor saya. Honor saya ambil di akhir semester saya mengajar. Saya tidak peduli berapa saya dibayar karena yang terpenting adalah anak-anak bahagia ketika menggambar. Ketika mereka bahagia, gambar dan warna akan mengalir indah di atas kertas. Saya mengawali menggambar dengan mendongeng 5-10 menit, sekedar untuk mencairkan suasana dan menarik perhatian mereka agar mau menggambar dengan senang hati tanpa paksaan. Memang di bawah didikan saya, anak-anak bebas sebebasnya. Mereka tidak perlu ikut warna-warna saya, bentuk yang saya buat, bahkan mereka mau menggambar keluar dari temapun saya ijinkan. Memang saya tidak mengantarkan anak-anak ikut kompetisi mewarnai atau ajang lomba menggambar apapun, karena menurut saya mengekspresikan gambar di atas kertas dengan “SENANG HATI”  itu sudah lebih dari cukup.

Kadang saya kege-eran, merasa bahwa anak-anak begitu antusias ketika saya baru masuk gerbang sekolah. Mereka menyambut saya dengan gembira, berebut menciumi tangan saya ketika bersalaman, memeluk saya erat atau mengadukan teman yang berantem dengan mereka. Atau mendapat sebungkus kecil nasi kuning dari seorang gadis kecil, yang diakui buatannya sendiri padahal beli di ibu penjual nasi kuningšŸ˜€ Kadang saya merasa tidak enak dengan guru kelas mereka ketika mereka meminta saya tetap di situ padahal saya bukan guru kelas mereka, dan saya harus mengajar kelas lain lagi. Atau beberapa anak yang menjemput saya di kelas lain untuk meminta saya segera mengajar di kelas mereka. Bahwa anak-anak TK itu polos tanpa polesan, mereka akan bilang suka jika suka, dan begitu pula sebaliknya. Dan saya mencintai mereka, anak-anak TK itu.

Lalu, mengapa akhirnya saya memutuskan berhenti mengajar dari sekolah itu. Entah, saya hanya merasa sekolah belakangan tidak membutuhkan saya. Apalagi ketika, saya memutuskan menarik putra kedua saya atas permintaannya sendiri dari sekolah itu. Yah, Dais putra kedua kami, ingin homeschooling saja. Salahkah saya? Entah, tapi, saya merasa sikap guru dan kepala sekolah mulai berbeda terhadap saya. Acuh tak acuh. Saya tidak ingin banyak berprasangka buruk. Sampai kemudian tiba acara wisuda pelepasan anak-anak TK kemarin saya sama sekali tidak diundang, sebelumnya beberapa kali informasi kegiatan anak sekolah pun saya tidak diinfokan sama sekali. Mungkin karena Dais sudah tidak sekolah lagi, padahal jika informasi itu tersampaikan, mungkin Dais mau ikutan kegiatan mereka lagi. Alasan kepala sekolah, mereka lupa. Baiklah, saya terima, mau bilang apa lagi. Saya tidak minta dihargai dengan rupiah atau bingkisan, tapi bukankah saya juga manusia yang seharusnya dihargai keberadaannya meski hanya guru eskul. Dan yang lebih menyakitkan ketika saya menghadap kepala sekolah dan menyatakan pengunduran diri, sang kepala sekolah bilang, “Oh ya, kemarin memang sudah ada guru yang melamar mau ngajar gambar, dia guru SD, namanya bu Yuli.”  Silahkah, terjemahkan sendirišŸ™‚

Akhirnya, saya berhenti setelah mengajar selama dua tahun. Tahun ajaran baru ini saya tidak tercatat lagi sebagai guru eskul gambar/lukis crayon di TK itu lagi. Tapi, Setidaknya saya masih punya kenangan senyum anak-anak ketika saya puji hasil gambar mereka, polos, tidak dibuat-buat, tidak palsu. Sambil merenungi tulisan di bawah ini ….

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s