FESPER DALAM CATATAN PENTING DAN GAK PENTING

BANNER FESPER

 

 

 

 

Assalamualaikum! lama gak nulis di blog ini. Baaiklah, untuk mengobati kerinduan kalian akan saya tulisan saya (halah kepedean gini saya🙂 ) dan Berhubung kemarin habis ikutan Fesper (Festival Pendidikan Rumah) 2014 di Salatiga, jadi, saya menulis catatan penting tentang homeschooling plus yang gak penting dari saya, tentu saja berdasarkan kacamata homeschool ummi:p

foto: Ary Indah Pratiwi

foto: Ary Indah Pratiwi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

YANG PENTING

Learning, Sharing and Networking adalah jargon FESPER yang diadakan di kota Salatiga kemarin. Kita akan kupas gak tuntas satu-satu tentang tiga point penting itu ya, tentu saja berdasarkan pemahaman saya yang sinyalnya kecerdasannya ON OFF.

Tentang Learning, Peserta Fesper adalah para praktisi homeschooling, yang berminat mencari tahu tentang homeschooling, juga mereka yang baru merencanakan untuk menghomeschoolingkan anak-anak mereka kelak. Mereka datang dari seluruh Indonesia, meskipun gak semua propinsi atau kota di Indonesia yang hadir. Peserta Fesper datang dari beragam latarbelakang yang berbeda suku, agama, tingkat sosial, ideologi, profesi  bahkan berbeda dalam  metode pendidikan anak yang mereka terapkan di rumah. Maka dari sana kami belajar menghargai perbedaan. Semua bersatu dalam Fesper tanpa sedikitpun merasa canggung ketika berinteraksi satu sama lain. oh ya, satu lagi, perbedaan karakter. ada yang pendiam, ada yang cepat akrab, ada yang pemalu, ada yang jenaka, ada yang di facebook suka komentar pas ketemuan ternyata jaim, ada yang suka lupa nama meski sudah diberitahu berkali-kali (ini lagi ngomongin penulis,hehe) semuanya bukan masalah🙂 bukan hanya orangtua, anak-anakpun seperti itu, ada yang bisa langsung cepat akrab, ada yang butuh waktu untuk bisa berbaur, ada yang lebih senang dekat orangtuanya, dan sekali lagi ini tentang karakter, bukan karena tidak bisa sosialisasi.

sumber foto: Ary Indah Pratiwi

sumber foto: Ary Indah Pratiwi

Tentang Sharing, di acara Fesper kemarin ada tiga sesi sharing, pertama, temanya, serba serbi homeschooling. kedua tentang berpikir global bertindak lokal, dan ketiga tentang bakat dan minat anak. Tema pertama, tentang serba-serbi homeschooling, berisi tentang sharing para praktisi homeschooling tentang alasan homeschooling anak-anak mereka, orangtua yang anaknya gak begitu senang sekolah tapi punya ketertarikan terhadap suatu bidang hingga kemudian orangtuanya memfasilitasi anak dan mendukung minat anak tanpa mengharuskan sekolah, sharing kegalauan orangtua dalam menjalani proses homsechooling, sharing bapak-bapak para homescghooler ketika mendampingi istri dalam proses homeschooling, sampai sharing dari para homeschooler yang bisa masuk kuliah di perguruan tinggi negeri dengan ikut ujian persamaan. Yang membuat saya dan suami takjub adalah usia rata-rata dari homeschooler yang sudah kuliah, berusia 16 tahun ketika masuk kuliah, dan di usia mereka sekarang, 19 tahun mereka sudah tingkat akhir dan siap lulus.  Di sini saya yakin, dibalik keberhasilan anak-anak ada orangtua hebat yang luarbiasa pengaruhnya di belakang mereka. Di luar itu, saya sempat ngobrol dengan mba ira teman satu tenda saya tentang keseharian anak-anak mereka, juga mendengarkan galaunya mamanya mba mella karena cucunya husayn yang suka berkeliaran saat jam anak-anak sekolah. Mendengarkan mba raken bercerita tentang jadwal   Ceca yang suka belajar sehabis sholat tahajjud, dan terakhir mendengarkan sharing singkat dari pak Aar tentang belajarnya Yudhis, Tata dan Duta.  Karena saya bawa Afrin (15 bln) yang gak tahan berlama-lama nungguin umminya duduk ngobrol, walhasil saya suka ON OFF dalam menyimak, hehehe. Benang merahnya adalah  pertama, kegalauan ketika mendampingi hs anak-anak itu wajar dialami para orangtua homeschooler, maklum yang kami pertaruhkan adalah masa depan anak-anak, jalan keluarnya adalah tidak  merasa terintimidasi dengan keluarga homeschooler lainnya, tidak membandingkan diri dengan yang lain, fokus dengan anak sendiri,  jalani saja, dan  galau pasti berlalu. Kedua, saling mendukung antara suami dan istri dalam mendampingi proses belajar anak-anak di rumah. Bisa saja, ibu mereka yang aktif dalam mendampingi proses belajar anak-anak dan ayah dapat bagian sebagai tempat pelampiasan curhat ibu  ketika lelah seharian nemenin anak belajar :p Ketiga, Sekolah itu tidak wajib, yang wajib itu belajar karena belajar bisa dimana saja, kapan saja, dan sama siapa saja. Tema kedua, Berpikir global, bertindak lokal. Tidak banyak yang bisa saya rekam di memori saya, yang membekas ketika sharing dari seorang dokter di daerah terpencil dengan segala pengetahuannya tentang kedokteran begitu ditempatkan di daerah pelosok dan berbenturan dengan kebiasaan masyarakat sekitar yang melahirkan sendiri di rumah. Atau seorang aktivis perempuan( saya lupa namanya) yang ditugaskan mengajar  di sebuah pulau yang letaknya butuh perjalanan laut melintasi laut cina selatan, dan bertemu dengan korban perkawinan insects, atau anak gadis usia 14 tahun yang sudah hamil, atau mereka yang tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan. Dari tema tersebut kita diharapkan mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia meski kecil, dan berawal dari rumah. Tema ketiga, Bakat dan Minat Anak. Diawali dengan mengumpulkan tentang definisi bakat dan minat berdasarkan persepsi masing-masing peserta. Lalu sharing pengalaman ortu membantu mengarahkan bakat dan minat anak sesuai dengan passion mereka. Dan bagaimana mengekplorasi minat anak hingga ketemu dengan passion mereka, lalu memfasilitasi anak hingga mereka dapat mengembangkan minat bakat yang mereka punya. Catatan penting dari bu Septi adalah tugas orangtua  mengekplorasi dlm hal bakat minat anak adalah memperkenalkan sebanyak mungkin tokoh2 sukses kepada anak .

foto bu Septi  by  Jaya Muslimin di grup FB FESPER

foto bu Septi
by Jaya Muslimin di grup FB FESPER

Tentang Networking, sepulang Fesper saya banyak berdiskusi dengan suami tentang bagaimana kelak ketika anak kami butuh tempat magang. Dalam hal ini, networking atau jaringan memiliki peran penting. Setiap orangtua bisa memanfaatkan networking untuk kebutuhan magang putra putri mereka nanti. Di acara Fesper kemarin, ada Ibu Ari Peach yang menawarkan jika ada anak mereka yang ingin homestay di Amerika, beliau bersedia menjadi fasilitator karena sebelumnya beliau bermukim di Amerika. Atau ingin di Indonesia saja, menurut saya Salatiga tempat ibu Septi dan Pak Dodik bisa jadi alternatif. Atau mungkin ada yang punya kenalan pemilik pesantren, nah anak bisa dikirim untuk belajar dari ustad atau ustadzah di sana. Semuanya tergantung kebutuhan anak nantinya, makanya punya jaringan yang luas sangat membantu.

 

YANG GAK PENTING

Berdebat dengan suami tentang yang mana yang bernama X. Maklum, ada beberapa teman yang sebelumnya hanya kenal di FB dan Fesper adalah ajang saya mencocokkan nama dengan orangnya.

Gak nyambung sama suami ketika beliau mengkonfirmasi botol air minum yang mirip punya kami, tapi karena gak yakin gak beliau ambil. yang bikin gak nyambung karena dalam pikiran saya yang dikonfirm beliau adalah gelas minum yang memang ada pada saya, padahal beliau berulang kali menyebutkan botol yang mirip punya kami, dan saya ngotot  kalau gelas ada sama saya😀 Ujungnya perdebatan kecil terulang lagi di kereta pas pulangnya, begitu saya sadar kalau kemarin yang disebut2 suami adalah botol air minum kami…bye bye botol air minum😦

Dear Suamiku, gak penting deh komentarnya tentang letak tenda kita yang hampir berdekatan, dan kita bisa janjian ketemuan kalo malam –‘–

Pikiran Suka kedistrack hal-hal yang gak penting ketika ngobrol , sampe saya  lupa tadi orang itu ngomong apa ya. Misal, “ahh cantiknya” atau “kulit wajahnya mulus” atau “ah saya suka liat mukanya” hehehehe perempuan macam apa sih saya :p

Dalam perjalanan berangkat menanyakan jemuran sudah diamankan kah ke suami, dan suami bilang bisa gak sih kita nikmati saja kemping tanpa mikirin rumah dulu, heheheh

Suudzon sama suami yang menghilang pas saya lagi mo serius dengerin sesi sharing, sedang afrin sudah gak betah duduk berlama-lama, dan ternyata beliau lagi foto-foto faris dais yang lagi berkegiatan. Maaf ya, say🙂

Kepikiran pas nyampe rumah, kenapa tadi kita ga poto-poto di depan tenda, yah? Atau kok kita gak foto berlima, sih? *bukanperempuannarsis

Membicarakan dengan suami tentang nama yang tidak jelas mau dipanggil apa, Nur Hikmah kah? Cheche kah? atau Umminyafarrdain Jatmiko kah?

 

Cukupks cukupks!! khawatir saya lebih banyak menulis yang gak penting daripada yang penting, hehehe. Silahkan ambil yang penting saja dari postingan ini, lupakan yang gak penting🙂 Assalamualaikum warohmatulloh wabarokatuh🙂

@cheitumminyafardain

 

 

 

 

 

8 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s