INGIN JADI PEMIMPIN SEPERTI APA KELAK ANAK KITA?

revisi-posterblog-writing-competition-1.5-04092013.resized

Manusia adalah makhluk kepercayaan Allah untuk memimpin di bumi, meski sempat diragukan keberadaannya oleh malaikat  karena justru akan membawa kerusakan di bumi dan diremehkan oleh iblis yang merasa diri lebih baik dari segi materi penciptaan, tapi toh tetap Allah mempercayakan tongkat estafet kepemimpinan itu pada makhluk yang  bernama manusia. Jadi, kepemimpinan itu lahir sejak manusia pertama yang sekaligus Nabi pertama diturunkan ke bumi, dialah Nabi Adam alaihisalam.

Berdasarkan pengantar di atas, adalah sebuah fitrah bahwa potensi kepemimpinan memang dimiliki manusia.  Sadar akan keberadaan saya sebagai seorang ibu yang melahirkan putra-putri yang kelak diamanahi tanggung jawab untuk kepemimpinan, maka saya tidak hanya berpikir tentang kepemimpinan generasi saya di dunia tapi juga bagaimana saya dan anak-anak mempertanggungjawabkannya kelak di akhirat. Seperti sabda Rasulullah bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin dihadapan Allah. Jadi, menyiapkan sejak dini  jiwa kepimpinan itu sangat penting.

Setiap anak memiliki potensi untuk memimpin, ada yang alami keberadaannya, ada yang terbentuk dengan stimulasi, hingga ia kelak menjadi pemimpin terbaik. Kami memiliki dua putra masing-masing berusia 7 tahun dan 6 tahun dan satu putri yang masih berusia setahun dengan segala keunikan kepribadian dan tentu saja tidak sama satu sama lain. Kami menerapkan homeschooling alias tidak bersekolah formal  bagi putra sulung Faris (7thn5bln)kami selepas TK, sedang putra kedua kami Dais (6thn1bln), sedang duduk di bangku sekolah TK. Kami bukan anti sekolah, tapi untuk saat ini kami merasa homeschooling adalah sebuah pilihan untuk lebih fokus dalam mengembangkan potensi dan membentuk karakter  dari anak kami.

Seperti yang saya tuliskan bahwa dua putra saya ini punya kepribadian yang tentu saja berbeda, saya suka memperhatikan ketika mereka bersosialisasi atau bermain dengan teman sebaya di lingkungan rumah. Ketika berkonflik dengan teman, faris cenderung mengutamakan pertemanan, dibandingkan berlama-lama bertengkar, tapi  butuh waktu lama untuk mengambil keputusan . Sedang Dais tipe keras dalam mempertahankan pendiriannya, inisatif tinggi hingga kadang berani menabrak aturan, dan cepat dalam mengambil sebuah keputusan. Ketika saya menceritakan itu ke suami, suami saya lalu mengandaikan bagaimana kalau anak kami sebagai pemimpin, Faris adalah tipe pemimpin lembut yang dalam kepemimpinannya mengutamakan kerjasama, namun untuk mengambil sebuah keputusan membutuhkan waktu lama untuk berpikir. Dais adalah tipe pemimpin tegas, cenderung diktator dan cepat mengambil keputusan. Kami membahas ini berdua, sambil membayangkan kedua putra kami ketika menjadi seorang bos di suatu perusahaan, hehehe.. dari situ lalu kami berdua menarik kesimpulan bahwa, kedua putra kami memiliki potensi untuk memimpin dengan tipe kepemimpinan yang berbeda, tinggal bagaimana mengarahkannya.

Ingin jadi pemimpin seperti apa kelak anak kita? Saya berangkat dari satu pertanyaan itu untuk mengarahkan anak kami menjadi pemimpin yang baik kelak.  Pertama, adalah saya mengenalkan anak-anak dengan tokoh-tokoh pemimpin yang tidak disangsikan lagi kepemimpinannya lewat bacaan atau cerita. Mengawali dengan bagaimana  Rasulullah memimpin Negara, di medan perang, bagaimana dalam rumah tangga, bahkan kepemimpinan beliau terhadap non muslim yang sedikitpun tidak pernah menyakiti meski beliau disakiti, diejek, dan dilukai. Bukan hanya Rasulullah, kepemimpinan ala para nabi, kepemimpinan para sahabat Rasulullah pun kami perkenalkan lewat cerita.

Kedua, membiasakan bersikap adil dan jujur.  Saya dan suami mengajarkan kepada anak-anak bahwa adil bukan berarti apa yang didapatkan Faris tidak selamanya harus sama dengan apa yang didapatkan Dais.  Contoh ketika Dais ke sekolah membawa bekal susu kemasan kotak, maka tidak harus Faris di rumah minum susu kemasan kotak juga, ia bisa membuat susu sendiri di gelas. Atau ketika Faris dibelikan celana panjang karena sudah tidak muat lagi, maka Dais juga tidak merengek minta dibelikan celana panjang karena dia bisa pakai punya kakaknya yang masih bagus. Adil adalah ketika kami memberikan sesuatu sesuai dengan kebutuhan mereka, tanpa kasih sayang yang berat sebelah.

Tentang jujur, kami punya cerita sendiri, waktu itu anak-anak kami main dengan anak-anak sekitar rumah dan ikut-ikutan mengambil rambutan tetangga yang berbuah lebat. Ketahuan oleh saya tetapi tidak diketahui sang pemilik,  lalu abinya anak-anak mengantarkan kedua anak kami untuk meminta maaf dan meminta kehalalan rambutan yang telah masuk ke dalam perut anak-anak kami. Bermaksud mengajarkan kejujuran kepada anak- anak kami, sang empunya juga memberikan sebuah pelajaran berharga untuk kami, si bapak bilang ke kami bahwa anak kami memang jujur tapi kelak mereka tidak bisa bertahan “hidup”  jika tidak punya pendirian  kuat.  Sebuah tamparan keras, bahwa jujur saja tidak cukup ibu-ibu! Kita juga wajib mengajarkan anak kita untuk berani berkata tidak dan tidak gampang terpengaruh dengan teman yang berbuat tidak baik.

Ketiga, melatih kemandirian dengan membiasakan melayani dan melibatkannya mengerjakan pekerjaan rumahtangga. Bahwa melatih kemandirian bukan hal mudah, butuh latihan yang berkesinambungan, dan di rumah tanpa asisten rumahtangga ternyata salah satu cara membentuk kemandirian anak. Mulai dari hal-hal kecil dan sesuai kemampuan anak. Faris sudah bisa mengambilkan makanan untuk dirinya sendiri tanpa dilayani, bahkan ia bisa membuatkan kami secangkir teh manis atau burger buatannya sendiri. Membiasakan anak untuk bisa melayani bukan hanya dilayani saja berguna kelak ketika mereka menjadi pemimpin.

Keempat, menanamkan perasaan diawasi oleh Allah Yang Maha Melihat.  Anak-anak kami ajarkan untuk berpikir dua kali ketika akan melakukan sesuatu yang buruk dengan merasa bahwa Allah itu Maha Melihat. Menanamkan kepercayaan kepada mereka sambil berkata, ummi percaya sama kalian tapi kalian juga harus tahu bahwa Allah Maha melihat, Maha Tahu,  bahkan apa yang disembunyikan hati. Dengan begitu mereka tidak akan berani melakukan keburukan, toh pun jika mereka terlanjur melakukan kesalahan mereka akan mengakui dan meminta maaf.

Kelima, memberikan nutrisi yang tidak hanya halal tapi juga baik dari segi pengolahan dan  kebersihannya.  Kami tidak membiasakan anak jajan sembarangan, dan ketika membeli makanan kemasan kami mengecek dahulu label halal ada atau tidak. Nutrisi halal atau tidak, baik atau buruk tentu sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan anak-anak kelak. Terutama susu, ASI menurut saya adalah nutrisi paling penting untuk anak hingga usia dua tahun, setelahnya kami tetap memberikan mereka susu sebagai pelengkap gizi daripada minuman kemasan yang lainnya, dan tentu saja berlabel halal.

Keenam, mengiringi usaha saya dengan doa yang saya panjatkan agar kelak mereka dijadikan pemimpin yang adil dan bertaqwa. Saya percaya bahwa doa orangtua khususnya ibu yang kelak mengantarkan anak-anak menjadi pemimpin yang baik.

Berbekal persiapan di atas, maka kami berusaha untuk menyiapkan anak-anak kami menjadi pemimpin yang bertanggungjawab dunia akhirat dan mampu menjadi pelayan masyarakat kelak. Usaha kami ini masih dalam proses. Ibarat sedang menanam, kami masih dalam tahap menyemai benih, menunggu buahnya bermunculan kelak membutuhkan waktu yang lama.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba blog bertemakan “peran ibu untuk si pemimpin kecil” yang diadakan oleh Sarihusada,nutrisi untuk bangsa.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s