NAK, MAU JADI IBU RUMAHTANGGA ATAU BERKARIR?

 

Setiap bertemu mama saya, seranak-ibu-ayah(2)ing tersirat bahwa ia menyayangkan pilihan saya untuk menjadi ibu rumah tangga biasa ketimbang berkarir. Beliau juga menyayangkan biaya yang sudah dikeluarkan bapak untuk membiayai saya sekolah yang tidak sedikit hingga sarjana lalu kemudian berakhir di rumah tangga. Saya memaklumi mengingat beliau memang seorang yang mandiri secara financial dengan menjadi seorang guru SLTP. Awalnya memang saya agak terganggu dan sedikit merasa “feeling guilty”, tapi lagi-lagi saya maklumi pernyataan mama  saya. Saya ingat murabbiyah saya di liqoat (pengajian), kata beliau jadikan kekurangan orangtua kita kelebihan kita untuk mendidik anak-anak. Artinya kalau kita menemukan kekurangan dari orangtua kita dalam hal  mendidik kita, jangan lantas kekurangan tersebut kita terapkan pula ke anak-anak kita. Seharusnya itu menjadi sebuah kelebihan untuk kita sebagai orangtua. Saya tidak sedang berbicara tentang berkarir itu adalah kekurangan, bukan sama sekali! Kesalahan yang saya maksud adalah membuat seorang anak merasa bersalah dengan sebuah pilihan yang ia pilih.

Saya memiliki satu anak perempuan, yang kelak saya tidak tahu di masa depannya apakah ia memilih menjadi ibu rumahtanggakah atau ia akan berkarir. Yang ingin saya pahamkan padanya adalah sebuah hadist Rasulullah yang berbunyi, sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk dan rupamu tapi melihat ketakwaanmu dalam hati. Maksudnya adalah meskipun ia kami sekolahkan sampai ke negeri orang sekalipun, ketika ia memilih untuk berumahtangga dan menjadi ibu rumahtangga itu adalah pilihannya selama masih dalam batas ketaqwaannya kepada Allah. Seperti pengertian taqwa itu sendiri, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, berkarir atau menjadi ibu rumahtangga selama dalam batas ketaqwaan kepada Allah itu yang terpenting. Mengutamakan pandangan Allah, itu   yang terpenting.

Tapi, saya juga sangat tidak setuju dengan perkataan, “anak perempuan gak usah sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya di dapur juga. Okelah, peduli apa saya dengan sekolah formal pendidikan dasar, seperti SD, SLTP atau SMU, putra pertama saya sedang homeschool alias belajar di rumah tanpa sekolah formal, putra ke dua sayapun insyaaAllah akan mengikuti jejak kakaknya selepas TK, begitu juga putri kecil saya yang masih bayi, kelak. Tapi, untuk urusan pendidikan yang lebih tinggi, saya berharap mereka bertebaran di muka bumi menimba ilmu, dengan cara formal, Informal atau nonformal, sekali lagi itu pilihan. Rasulullah saja berpesan kepada kita untuk mencari ilmu sampai ke negeri Cina, saking pentingnya sebuah ilmu sebelum diamalkan. Seorang perempuan yang kelak menjadi ibu, adalah sekolah pertama anak-anaknya. Kebanyakan perempuan bisa menjadi ibu tapi tidak siap menjadi pendidik bagi anak-anaknya sendiri dengan berbagai alasan.

Saya ulangi lagi ya, tulisan saya ini tidak sedang nyinyir pada mereka yang memilih  berkarir, titik beratnya lebih kepada pola asuh saja. Sejak dini berikan pemahaman kepada anak perempuan kita kelak bahwa di masa depan mereka kelak ada pilihan yang harus mereka pertanggungjawabkan di hadapan Allah, menjadi ibu rumahtangga, berkarir, atau ibu rumahtangga sembari berkarir, kesemuanya tidak boleh lepas dari ketakwaan dan mengutamakan pandangan Allah kelak terhadap apa yang mereka lakukan. Sekali lagi, pahamkan itu kepada anak perempuan kita sejak dini, karena kita tidak tahu pilihan yang mana yang kelak  dipandang cinta oleh Allah. Itu saja. Allahu a’lamu bi showwab. Wassalam

Ummi sayang Afrin :*

Jakarta, 3 September 2013

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s