MEMASAK

image

“Ibu dulu seusiaku suka memasak?” Tanya putri kecilku sehabis menemaniku pulang dari pasar tradisional. Aku tersenyum saja sambil mengeluarkan satu persatu belanjaan dari keranjang pasar. Nanti saja kujawab.

“Kenapa kita harus memasak, Ibu?” Tanya putri kecilku lagi, sambil sibuk memunguti bawang bombay yang tercerai berai karena kecerobohannya. Lagi tak kujawab. Sibuk? Silahkan menebak.

“Lalu masak apa kita hari ini?” Kali ini lagaknya seperti chef restaurant yang resep masakannya di luar kepala. Kubantu ia memakai Celemek kecil yang kujahitkan khusus untuknya. Aku tertawa kecil. Ibu sendiri juga bingung, nak.

“Apa aku juga harus memasak untuk suami dan anak-anakku nanti, ibu?” Tanya putriku lagi dan lagi sambil memperhatikanku mencuci sayur,buah, dan ikan untuk diolah. Aku terdiam. Dulu aku tak pernah berpikir seperti apa yang dipikirkan putriku barusan. Karena makanan buatku adalah hanya ada di meja makan, tanpa harus tahu proses memasaknya. Dulu, ibuku sangat menyayangiku, aku tak boleh turun ke dapur membantunya, takut jari lentikku terluka karena pisau atau duri ikan. Bagiku dapur adalah tempat ibuku membuat gaduh lalu menghasilkan makanan sedap sekejap. Mendadak sesal dan rasa bersalah teramat sangat kembali menyisip di dadaku,tapi berusaha kutepis dan berhasil.

Renunganku buyar, kali ini karena panci yang menggelinding bising bersahutan dengan sendok yang turut serta. Itu kecerobohanku, persis ibuku dulu. Putriku sibuk memunguti panci dan sendok yang berjatuhan.

“Heboh,ya kita, ibu.Padahal belum juga masak.” Kata putriku lagi sambil nyengir. Kupeluk ia sehabis membantuku. Lalu, berkata:
” Suatu hari nanti, di dapur yang sama atau berbeda, kamu akan mengajari gadis kecilmu memasak, bercerita tentang kegaduhan kita barusan, lalu memasak untuk disajikan di atas meja dengan cinta.” Sambil kutowel hidung bangirnya. Lalu kami beradu hidung bangir.

“Heemmh, ibu tahu?..anakku nanti pasti akan mendapatkan cerita paling indah yang pernah ia dengar tentang bagaimana memasak, tak peduli masakan apa yang kita hasilkan.” Putriku diplomatis. Ahh, aku sedikit tertampar, maaf tidak ada cerita indah tentang bagaimana ibu memasak di dapur dengan nenek dahulu. Berusaha kutepis lagi rasa bersalahku yang mencoba menyerangku, sesal, mengapa dulu kubiarkan ibuku berjuang sendiri di dapur hingga ledakan kompor merenggutnya dariku, dari sisi kami.

Lalu, panci kembali berjatuhan!

@cheitumminyafardain

Juni,2013

Sumber gambar dari sini

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s