TAMENG AGAMA, PERCAYA?

image

Sudah sejak lama tulisan ini ingin saya buat. Di tengah kehilangan kepercayaan (sebagian) masyarakat dengan organisasi, kelompok, individu, atau apapun yang mengatasnamakan agama. Kata mereka yang kontra mengatasnamakan agama adalah kemunafikan. Setuju? Tidak juga. Saya yakin sebagian dari mereka ada yang punya niat tulus, bukan hanya label agama saja. Tapi, memang ada yang mengatasnamakan agama untuk mempositifkan diri yang sudah jelas negatif. Contoh, ya, seorang yang mengaku gay atau lesbi tapi katanya guru ngaji dan rajin sholat. Atau guru ngaji tapi gemar berbuat asusila pada murid-muridnya.

Tapi, sekali lagi tak semua yang mengatasnamakan agama patut kita labeli munafik. Contoh, membawa agama dalam politik. Salahkah? Tidak ada yang salah membawa agama dalam berpolitik, Rasulullah juga berpolitik untuk berdakwah bukan? Ngomongin Politik? Cukup sampai di situ saja, kadang saya suka “hang” kalau sudah terlampau jauh membicarakan politik. Hehehehe. Atau membawa agama dalam bidang kesehatan, contoh penggunaan habbatusauda untuk mengobati penyakit seperti yang disabdakan Rasulullah. Atau membawa agama dalam bidang ekonomi, contoh ekonomi syariah.

Saya tahu, skeptis terhadap “tameng agama” berawal dari ketidakpercayaan. Yah, Ketidakpercayaan yang berawal dari suudzon kepada setiap yang bertameng agama. Persis dengan “ketidakpercayaan” yg dimulai ketika anda didatangi seorang wanita peminta sumbangan berjilbab, membawa nama Allah, mengatasnamakan yayasan panti asuhan lalu meminta sumbangan pada anda. Ternyata usut punya usut, ia adalah bagian dari sebuah yayasan fiktif yang terorganisir untuk mendapatkan keuntungan dari hasil minta-minta. Kecewa. Lalu besoknya ada lagi yang datang meminta sumbangan yang ternyata memang diperuntukkan bagi yayasan yatim, dan kita tolak sambil menghardik karena belajar dari peristiwa lalu. Berangkat dari kekecewaan yang akhirnya menjauhkan kebaikan.

Yang menyedihkan ketika kita lebih percaya sebuah kabar fitnah tentang seseorang yang kesehariannya dalam ketaatan pada Allah, namun karena kita gak hidup disekitarnya, gak kenal lebih jauh, hingga kita ikutan menghujat, melabeli munafik.

Lalu, maunya gimana? Sejauh ini saya masih percaya dengan tameng agama untuk memperjuangkan suatu kebaikan. Dalam dunia perpolitikan Saya masih percaya dengan PKS yang mengatasnamakan Islam untuk memperjuangkan kemashlatan umat. Saya juga masih percaya herbal habbats untuk mengobati penyakit, saya juga percaya ketika pendidikan agama yang terpenting dalam mendidik anak-anak kami di rumah. Saya juga percaya sistem ekonomi syariah untuk asuransi atau menyimpan dana kami.
Dalam bidang apapun, kecuali bukan untuk sesuatu yang negatif seperti yang saya sebut di awal.

Tidak layak memisahkan agama dengan kehidupan, ketika itu terjadi maka tunggulah kehancurannya. Tapi, jika agama tidak dipahami keseluruhan kontennya lalu berani menggabungkan untuk pembenaran sebuah kemaksiatan, inipun berbahaya.

Sadar gak sadar, Bicara tentang munafik, setiap manusia punya bibit itu dalam dirinya, siapa diantara kita yang ingin aibnya ditampakkan? Gak ada kan? Kita akan melakukan segala cara untuk menyembunyikannya. Kembali lagi kepada manusianya dengan apa, bagaimana cara, dan untuk apa ia hendak menutupi. Pilihan yang menentukan.

Lalu, bagaimana dong?! ya kita mulai dari “rasa percaya”, percaya itu dari hati yang bening dari prasangka buruk, dari dengki, dan saya percaya, kepercayaan itu akan mengeluarkan kebaikan dari yang kita percaya.

Salam cinta, kerja, dan harmoni.

@cheitumminyafardain

Sumber gambar: klik sini

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s