LUCU-LAH PADA TEMPATNYA

image

Hari itu spongebob sedang didaulat standup comedy di sebuah kafe. Ditonton para sahabatnya sandy si tupai,patrick si bintang laut juga tuan crab si kepiting. Awalnya lelucon yang dibawakan spongebob tak begitu lucu,tidak lucu sama sekali malah! Hingga kemudian spongebob mengangkat tema tentang tupai yang sekaligus merupakan sosok sahabatnya, Sandy. Sandy kemudian dicela habis-habisan, anehnya justru celaan itu berbuah aplaus dan tawa gelak dari penonton, tapi tidak untuk Sandy yang harga dirinya tercabik-cabik. Meski tak terima, atas dasar persahabatan Sandy memaafkan spongebob, meski esoknya kejadian itu terulang lagi.

******

Ilustrasi di atas adalah cerita dari kartun spongebob yang ikut saya nonton bersama dua jagoan kecil saya. Dulu saya menganggap kartun spongebob hanya sekedar kartun hiburan saja, ternyata tidak juga. Banyak cerita yang bisa kita ambil ibrohnya terutama untuk saya dan dua putra saya. Biasanya kesimpulan kami ambil ketika film usai dan tivi kami matikan.

Mari kita tinggalkan spongebob dan fokus pada kontennya. Hiburan memang tidak dilarang agama. Bahkan dalam hadist Rasulullah pun meminta kita berhibur dan tidak membebani diri dengan hal-hal yang sedih. Namun, hiburan seperti apa? Tentu kita punya norma agama yang mengaturnya. Juga norma etika. Tapi, entah. Manusia sekarang sudah susah tertawa atau tersenyum untuk lelucon yang biasa-biasa saja. Mereka akan terbahak-bahak jika isi dari leluconnya adalah sesuatu yang kasar, penghinaan, parahnya orang terjungkalpun dianggap lelucon konyol. Sedih saya!

Saya pernah menegur Faris ketika melihat lalu menertawakan Dais yang jatuh. Ketika saya tanya alasannya kenapa, dia jawab aku juga pernah digituin teman-teman,kok. Hemh, saya bertambah sedih. Setelahnya kami mati-matian membiasakan diri kami untuk “banyak peka” dengan kejadian yang terjadi di sekitar kita. Ketika ada temannya yang jatuh, haram hukumnya menertawakan, tapi harus segera menolong dengan “pertolongan pertama”, meski itu cuma bait kata semisal “kamu gak papa,kan?” Jangan jauh-jauh. Ketika di rumah dais terjatuh saat bermain setelah saya peringati untuk berhati-hati, sekuat tenaga saya tahan lisan saya untuk tidak mengatakan “tuh,kan jatuh..apa ummi bilang..” tapi mengganti dengan “Dais gak papa?”

Suatu hari Dais becerita kepada saya kejadian di sekolah. Di sekolah TKnya seorang temannya menceritakan ke Dais kalau baru saja didorong hingga nyaris celaka. Tiba-tiba teman yang turut mendengar cerita teman mereka itu nyeletuk, “biarin ya,Dais..biar mati sekalian?” Dais kaget setengah mati dan menjawab ” Nggak ah!memangnya kamu suka digituin juga?” Sejak cerita itu Dais saya gelari anak si lembut hati dan si teguh pendirian sambil mengusap-usap kepalanya.

Coba kita tengok acara televisi, penonton akan tertawa jika materi lawakannya berisi ejekan terhadap lawan main yang menurut saya tidak lucu. Tidak lucu ah menjadikan kekurangan orang sebagai bahan lawakan! Apalagi jika yang dicela itu orang yang lebih tua dan dipertontonkan ke masyarakat umum,bagaimana tidak rusak moral bangsa, bagaimana tidak tumpul kepekaan nurani mereka. Padahal Allah dalam Al Quran Surah Al Humazah (104) ayat 1  sudah memperingatkan, “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela,..” sebab ayat ini turun setelah peristiwa Bilal yang disiksa oleh majikannya karena menolak untuk mempersekutukan Allah setelah menyatakan beriman. Sayang, manusia lebih banyak menjadikan Al Quran sebagai pajangan daripada pedoman hidup, Wallohu a’alam.

Alaa kulli hal, jangan hanya menggantungkan pendidikan moral dan karakter pada lembaga pendidikan atau sekolah saja, itu tugas utama kita di rumah sebagai orangtua. Bagaimana anak, yaa bagaimana orangtuanya mendidiknya sejak kecil, hingga membekas di jiwa mereka kelak..minimal ketika terjadi kerusakan akhlak dan moral mereka bisa menjadi pewarna yang mewarnai lingkungannya..Aamiin Allahumma aamiin.

*****

“Jika engkau menemukan cela pada seseorang & engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.”
(Umar bin Khoththob)

@cheitumminyafardain

Sumber gambar di sini

5 comments

  1. saat saya melihat episode tersebut, saya melihat bagaimana hal itu terjadi dalam realitas sehari-sehari. terkadang, dalam pergaulan, celaan dan menjatuhkan orang lain menjadi sesuatu hal yang lucu. satu sisi, mungkin itu menghibur. tapi, menurutku, tak ada satu pun orang yang mau di cela atau dijatuhkan di mata orang lain. Apalagi teman sendiri. Kepekaan dan rasa menghargai jadi hal yang sangat penting.

    sungguh pelajaran yang sungguh berharga.
    makasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s