REVIEW BUKU : “CERITA DI BALIK NODA”

PhotoGrid_1365143381828JUDUL BUKU : CERITA DI BALIK NODA

PENULIS : FIRA BASUKI

NAMA PENERBIT : KEPUSTAKAAN POPULER GRAMEDIA, JAKARTA

HARGA : RP 40.000

KATEGORI BUKU : FIKSI

TEBAL : xi + 232 hal

CETAKAN : I, JANUARI 2013

ISBN : 978-979-91-0525-7

Buku yang berjudul ”Cerita di Balik Noda” ini berisi 42 kumpulan cerita pendek yang benar-benar menginspirasi para keluarga Indonesia, orangtua, khususnya para ibu untuk mengambil sebuah pelajaran hidup yang berawal dari sebuah noda di pakaian, atau tingkah laku anak yang menurut orang dewasa itu jorok dan menjijikkan, namun ternyata ada hikmah dibaliknya.

Awalnya kumpulan cerita-cerita ini diperlombakan oleh sebuah merk sabun cuci, ”Rinso Indonesia” melalui Facebook. Kemudian, di tangan penulis populer dan berpengalaman, Fira Basuki, cerita ini dikembangkan tanpa mengubah gaya tulisan aslinya. Ketika membaca buku ini, akan nampak perbedaan judul asli cerita yang tetap dituliskan Fira Basuki di bagian akhir cerita dengan judul yang ada di awal cerita. Sehingga melihat judulnya di awal saja sudah membuat  kita penasaran dengan isinya. Contoh karya Bunda Haifa yang berjudul: ”Ternyata Berani Kotor Itu Memang Baik,Ya” berubah menjadi ”Hidup Baru Danu”. Atau tulisan karya Mila Purwanti yang aslinya berjudul ” Kerja Bakti Untuk Bu Guru” dirubah menjadi ”Untuk Bu Guru”. Inilah yang membuat saya penasaran membaca tiap cerita dari membaca judulnya saja. Buku ini memuat 38 cerita kiriman yang didominasi oleh kaum hawa dan 4 sisanya karya sang penulis buku, Fira Basuki.

Bagaimana dengan isi ceritanya? Benar menginspirasikah seperti klaim di sampul bukunya? Jawaban saya, Ya! Bahkan beberapa cerita membuat saya sebagai seorang ibu terharu. Seperti cerita berjudul ”Boneka Beruang Zidan” karya Yesa Tsalazah (hal. 127) yang berkisah tentang perjuangan kesabaran seorang ibu mendampingi putranya bernama Zidan yang mengalami masalah tumbuh kembang alias hiperaktif hingga kurang fokus ketika diajak bicara dan mengalami keterlambatan berbicara. Zidan perlahan mengalami perkembangan ketika mendapat hadiah boneka beruang yang akhirnya menjadi teman imajinasinya. Cerita ini mengajarkan kesabaran dalam menghadapi, mendampingi dan memperlakukan seorang anak yang memiliki ”keistimewaan”. Meski sebagian besar menitik beratkan cerita pada hubungan orangtua khususnya ibu dan anak, ada juga yang bercerita tentang seorang istri  yang selalu berprasangka buruk pada suaminya, berjudul ”Foto” karya Fira Basuki (hal.17), juga cerpen berjudul ”Pohon Kenangan” (hal.77) yang  berkisah  tentang kakak beradik yang terpaksa menjual sebuah rumah beserta kenangan di dalamnya karena wasiat dari sang ibu. Tak kalah inpiratif  sebuah cerita yang memberi pelajaran bahwa ide berkarya itu bisa datang dari siapa saja lewat kisah ”Batik Kreasi Ivan” karya Musyarofah (hal122). Cerpen dalam buku ini ditulis dengan gaya bahasa sederhana, namun dalam catatan saya ada penulisan yang kurang dapat ditangkap maknanya seperti karya Larassita Pratama berjudul ”Sebelum Menyesal” (hal 208), berikut saya kutipkan, ”Rasa bersalah mendesak batin Rima. Dia merasa pengertiannya tentang seorang ibu sepertinya sudah salah. Anaknya merindukan sosoknya. Bahkan tanpa kehadirannya, Febby tetap menganggap Rima ibu kandungnya.”(hal 213).  Sedikit kerancuan pada kalimat terakhir,penulis gagal menggambarkan perasaan seorang ibu yang merasa bersalah karena sering meninggalkan anak kandungnya karena pekerjaan. Kesalahan penulisan kata juga ada pada cerita ”Rayhan’s Pet Society” (hal.101) yang menuliskan ”sekor ikan” seharusnya ”seekor ikan”. Juga karya Fira Basuki sendiri yang tidak konsisten dalam penulisan nama tokoh dalam karyanya ”Sarung Ayah” (hal 55).

Desain sampul buku ”Cerita di Balik Noda” dengan ilustrasi latar putih dengan noda lumpur memberi kesan sederhana namun representatif tentang isi buku. Bahwa dibalik noda kotor itu ada cerita yang bisa diambil pelajaran dan sikap bijaksana.

Akhir kata, silahkan baca bukunya, niscaya anda akan terhipnotis dari 42 kisah-kisah inspiratif yang ada. Mengutip tulisan Fira Basuki, ”Ya, hidup itu seperti baju kotor. Ketika noda dihilangkan dengan mencucinya bersih-bersih, kita ibarat telah memasuki hidup baru, masa depan baru, dan harapan baru. Selalu ada hikmah di dalam sepercik ”noda”. Jadi, berkotor-kotor? Siapa takut?!

Tulisan ini diikutkan dalam lomba menulis review buku ”Cerita di Balik Noda” yang diadakan Kumpulan Emak-Emak Blogger bekerja sama dengan Rinso Indonesia.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s