AKU DAN ANAK PEREMPUANKU

image

Kami bergandengan tangan menyusuri setapak kecil. Langkah kaki kecilnya tak seirama dengan langkah besarku yang teratur. “Mau kemana kita?” Tanya bibir mungilnya. “Hei, kita bukan sedang bermain Dora dan boots, kan?” Gurauku. Kamu tertawa kecil.

Kuhentikan langkahku, lalu menghadapmu. Berhadap-hadapan. “Kita akan belajar tentang kehidupan, cinta, darimana mereka berasal dan akhirnya.” Lalu kami melanjutkan perjalanan yang entah dimana ujungnya.

Perjalanan kita berawal pada seekor kambing betina yang tengah hamil tua. Tertatih jalannya, berat nampak beban perutnya. “Kasihan ya, Umm.” katamu tanpa memalingkan sedikitpun pandangan ke arah lain kecuali padanya. Terpaku.
Aku tersenyum. “Itulah yang bernama fitrah. Fitrah dari Allah untuk setiap makhluk yang bernama perempuan. Dari perempuan semua berawal,nak. Maka jadilah kelak sebaik-baik perempuan, dengan izinNya, maka kelak kaupun akan mendapat pasangan yang baik-baik pula. Jangan ragu untuk menjadi perempuan baik-baik. Allah sudah janji di kitab suci kita, dan janji Allah tak pernah meleset.” Kamu mengangguk, kita berjanji dengan dua kelingking bertaut, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Disaksikan Allah…ya, disaksikan Allah.

Sebuah pemandangan indah di hadapan kita, lima ekor anak kucing menyusu pada induknya. Kamu berjongkok agak jauhan, takut membubarkan aktivitas mereka.
“Hemm, kucing aja memberi anaknya ASI, bukan susu kalengan,ya Mi…” Gumammu yang membuat aku tergelitik sambil mengangguk. Ummi juga begitu dulu, memperjuangkan ASI untukmu. Berusaha memasak makanan yang dapat memperbanyak ASI dan menjaga kehalalan sumbernya untuk kamu, hingga kamu genap dua tahun dan tak perlu ASI ummi lagi. Kau tahu kenapa kulakukan itu? karena aku mencintaimu dan ingin memberikan yang terbaik untukmu. Lakukan juga itu nanti pada anak-anakmu, berjuanglah untuk sebuah asupan yang halal lagi baik, berjuang atas nama kehalalan.
Lagi-lagi kau mengangguk. Dan langit menyaksikan sambil tersenyum merona!

“Kyaaaa!!!” Jeritmu. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un!!” Pekikku. Sebuah mobil box menabrak seekor anjing hingga mati di tempat. Mengagetkan kita. Tabrak lari. Ahh, begitulah, sebagian manusia kadang tak mengerti arti menghargai kehidupan, meski itu kehidupan seekor binatang, bahkan kehidupan manusia itu sendiri. Lihat berita di media, bagaimana kehidupan itu tidak dihargai dengan maraknya aborsi, bahkan memperdagangkan obatnya secara bebas. Semua serba bebas, tanpa peduli kelak dengan sebuah kehidupan kecil yang mungkin tak ingin dihasilkan dengan cara zina, tapi dipaksa pula berakhir hidupnya tanpa sanggup menuntut pertanggungjawaban atas lahirnya diri. Dialah janin malang atau bayi malang. Apalah namanya, tetap saja sebuah kehidupan.

Kita berdua masih terpaku melihat sang anjing betina terbujur kaku, hingga seekor anak anjing kecil berlari kecil, menyalak lantang, mendekati induknya yang tak bergerak. Lalu, kita berpelukan dan menangis. Yah, akhir sebuah kehidupan, adalah kematian.

@cheitumminyafardain
Sore, dengan afrin di pelukan

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s