ENAM KESALAHAN KETIKA SENYUM

image

Tabassumuka fii wajhii akhika shodaqo, senyumanmu di hadapan saudaramu adalah sedekah. Hadist sederhana ini tenar di telinga saya karena dihafalkan putra saya faris dan dais. Hemm, simpel kan ya cukup dengan senyuman saja maka kita sudah terhitung bersedekah. Eits, tapi nanti dulu, tidak sembarang senyum. Khawatir alih-alih mau bersedekah malah mendatangkan petaka.

Saya adalah ibu-ibu yang doyan sama senyum orang dan gak pelit senyum. Hehehe, sumpah! Eit,nanti dulu..seperti kata saya di awal alih alih mau bersedekah malah mendatangkan petaka (haduh,berasa dejavu,ya :D). Belajar sedikit dari pengalaman saya yang doyan sama senyum orang dan gak pelit senyum, maka dengan ini saya akan berbagi beberapa kesalahan ketika anda senyum pada orang lain.

Pertama, Salah niat. Senyum pun butuh niat, beberapa kali saya menemui orang yang (mungkin) tidak tulus dalam senyum. Yah,tidak tulus, bahkan berharap sesuatu dari senyum yang ia berikan. Apalagi jika senyumnya diikuti dengan kalimat pamungkas berikut ini, “permisi,bu..(lalu senyum) boleh saya minta waktunya.sebentar??” Senyumnya tambah lebar dan akan mengendur ketika saya juga jawab dengan senyum dan jawaban yang ambigu, “terimakasih,mba.” Bingung kan ya🙂 Salah niat juga mengakibatkan gangguan pada daerah kulit sekitar pipi ibu-ibu, kadang miring sebelah, jatuhnya jadi senyum sinis.

Kedua, Salah objek untuk disenyumi. Kebayang ya, kita udah niat karena Allah senyum sama orang ternyata manekin di toko, atau karena gak punya receh pagi-pagi, cuma bisa senyum sama yang kita sangka pengemis ternyata orang gila lalu ia jatuh cinta dan ngikutin kita terus. Atau niat beramah-ramah karena Allah tapi ternyata kalau dihitung-hitung banyakan senyumnya sama lawan jenis ketimbang pada teman jenis. Akibatnya, mereka jatuh cinta dan ngikutin kita terus.(berasa dejavu lagi,ya :D)
Hahha, jadi? Prioritas! Prioritaskan tersenyum pada sejenis ketimbang lawan jenis.

Ketiga, salah menafsirkan senyum. Senyum tidak melulu berarti ramah. Terkadang ada lho yang mengartikan bahwa dari senyum kita bisa di-utangi, loyal berbagi masakan, dan bersedia rumahnya didatangi kapanpun..Solusi: jangan suudzon dulu🙂 dan tetaplah tersenyum.

Keempat, senyum yang tidak pada tempatnya. Bu, jangan pernah senyum ketika tidak ada yang mengajak anda beradu senyum, atau anda sedang tidak memegang handphone, atau tidak sedang membaca buku. Fatal,bu! Itu akan menjatuhkan kredibilitas senyum ibu. Jangan sekali kali senyum ketika ada seseorang yang jatuh atau nabrak tiang listrik di hadapan anda. Ini juga berakibat fatal,bu. Saya yakin ibu-ibu pasti tahu alasannya kenapa.

Kelima, senyum sambil menyebut-nyebut pada siapa saja anda senyum. Norak ya, kalau misalnya kita cerita, “tau gak sih, jeng, di jalan tadi aku ketemu Jojon,terus aku senyum ke dia.” lalu teman anda nanya, “terus apa reaksi Jojon?” dan anda jawab,”alisnya berkerut, doang.” ~,~”

Keenam, putus asa ketika orang tidak membalas senyum anda. Tidak perlu bunuh diri ketika senyum anda bertepuk sebelah tangan. Berusaha menghadirkan 1000 alasan yang mungkin dapat menjelaskan mengapa ia tak membalas senyum anda. Yakinkan pada diri anda bahwa senyum anda telah bernilai pahala, tidak perduli sekeras apa anda mencoba untuk mengajaknya tersenyum.

Demikian. Memulai hidup itu bisa aja sesimpel senyum yang kita lempar, tapi, kadang menjalani hidup terasa berat ketika kita lupa bagaimana caranya tersenyum. *berulangkali ngecek tulisan paraghraf terakhir, kok saya gak ngerti apa yang saya tulis,ya😀

@cheitumminyafardain
sumber gambar: thanks Bapak Soleh Jatmiko, foto Jojonnya🙂

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s