RAMBUTAN PAKDE NANANG (BELAJAR TENTANG KEJUJURAN)

image

Saya sedang ngulek bumbu di dapur, ketika Dais datang terengah-engah lalu mengisi gelasnya dengan air minum, sambil berbisik kepada saya, “ummi,ini rahasia..jangan bilang siapa-siapa ya. Aku habis makan rambutan pak Nanang dua.” Sambil mengangkat dua jarinya. “Astagfirullah!! Daiiis!!! Dais makan gak minta ijin?” “Nggak.” Jawab Dais tanpa rasa bersalah. “Itu namanya mencuri,kan?” “Tapi,yang ambil, Faris.” Dais mulai sedikit membela diri. “Panggil Faris.” Terus terang saya sedikit emosi, karena kami selalu mengajarkan anak-anak untuk jujur, apapun itu. Meskipun kalau dipikir-pikir itu Dais sedang jujur kepada Umminya –o–“

Faris masuk dengan wajah kelihatan merasa bersalah. Sambil bercerita kronologinya, ia ngumpet di balik pintu kamar mandi. Bahwa sang rambutan ranum merah merona yang menjuntai keluar halaman pak Nanang itu awalnya diambil seorang ibu dengan anaknya tanpa izin,lalu mempersilahkan faris,dais dan teman-temannya ikut memetik. Namanya anak-anak melihat orang dewasa melakukan sesuatu, meski mereka tahu itu tidak baik tapi tetap aja dilakukan dengan alasan itu ibu yang sono juga ambil,kok tanpa ijin. Walhasil, si Faris yang sibuk mengambil rambutan dan teman-temannya menikmati berikut Dais,karena faris yang jago manjat, jadi dia yang metik rambutannya.

Setelah ngomel secukupnya, saya lalu minta Faris dan Dais ketemu pak Nanang untuk mengakui perbuatannya tadinya mau saya temani,tapi,katanya pak Nanangnya lagi keluar. Maka tertundalah acara meminta maaf atas rambutan yang dimakan mereka. Rencana berikutnya minta maaf ditemani abi setelah sholat Isya dan lagi-lagi pak Nanang tidak ada. Pak Nanang ini kemana,sih! Orang mau minta maaf sekalian meminta kehalalan rambutannya malah gak ada! Rasanya saya ingin mengomeli Pak Nanang karena pergi terus, tapi saya sadar bahwa kami sedang dipihak yang salah. *pentungpentunghidung

Ini mengenai kehalalan makanan yang masuk ke dalam perut. Saya pun berdiskusi dengan abi tentang rambutan pak nanang yang entah sedang apa di perut dua bocah saya. Gak banget ya, diskusinya😀 ok, si ganteng itu bilang pada saya bahwa meski perbuatan anak-anak kami belum tercatat sebagai dosa karena mereka belum baligh, tapi…(*mulai pasang musik horor), di akhirat kelak orangtuanya yang akan bertanggungjawab karena mengetahui perbuatan “unyu unyu” anaknya. Tidak bisa saya bayangkan apa kata pak Nanang nanti di akhirat kalau tahu Faris Dais putra kami yang masih polos itu memetik rambutannya dan membagi-bagikan ke temannya lalu menikmatinya beramai-ramai. Si ganteng juga menceritakan kisah tusuk gigi dan seorang ahlu ibadah kepada saya. Singkat saja,Al kisah seorang ahli ibadah yang terganggu dengan daging yang nyelip di giginya lewat di depan sebuah rumah yang berpagar…,(ah saya lupa dari bambu apa kayu,maklum pas bagian cerita yang itu kayaknya saya lagi mikirin cucian,deh). Yang jelas akhirnya sang ahli ibadah tuh,mengambil sedikiiiiiit bagian dari pagar untuk dipakai mengeluarkan daging yang nyelip di giginya. Walhasil ketika ia meninggal dan sedang dihitung amalannya,ternyata justru tusuk gigi dari bahan pagar itulah yang merusak amalannya dan sungguh sang ahli ibadah terkejut karena tanpa ia sadari sebelumnya.Jangan tanya kemana akhirnya sang ahli ibadah ditempatkan.Karena saya akan menjawab, “Kasih tau gak,yaa????”

Kembali ke rambutan pak Nanang. Sebelum tidur saya pelukan satu-satu dengan putra saya. Minta maaf karena sudah mengomelinya, mengapresiasi keinginan mereka yang bersedia minta maaf. Lalu saya tanya, faris dais menyesal gak habis ngambil rambutan. Dais: “iya,ummi, menyesalnya besarnya kayak bumi sama langit. Coba tadi aku gak makan.” Faris: “aku menyesalnya besarnya kayak Allah.” Faris memang yang paling menyesal sekali. Makanya penggambaran rasa sesalnya seperti Allah yang tidak terdefinisi besarnya.

Esoknya,setelah mandi pagi, faris dais lalu ditemani abi ke rumah pak Nanang. Pak Nanang kebetulan sedang di rumah. Lalu apa respon pak Nanang ketika mendengar cerita abi? Ia bilang bahwa pakde maunya tunggu semua rambutan merah,baru beliau ambil dan bagikan. Lalu, apa respon faris dais ketika dinasehati? Heeeh,kata abi,mereka malah sibuk dengan kolam ikan pak Nanang…duuuuh –,–“. Tapi, saya yakin itu menjadi pengalaman yang tidak akan pernah mereka berdua lupakan. Dan dari pengalaman berbuat salah itu maka mereka bisa lebih mengerti kejujuran juga bagaimana memperlakukan milik orang lain. Alhamdulillah,kehalalan atas rambutan sudah mereka dapatkan, dan kami tidak ingin ada yang haram mengalir dalam darah anak kami.

Beberapa hari kemudian, faris dais lihat temannya ngambil rambutan, Dais tegur, “itu mencuri namanya.Tapi,anak itu tetap saja makan. Jadi,aku tinggalin aja.” cerita Dais. Faris cuma kalem mendengar adeknya laporan pandangan mata. Dia memang gak mau masalah rambutan diungkit-ungkit lagi,hehe.

Ok,sekian cerita saya tentang “Rambutan Pak Nanang”, ini kisah nyata tanpa rekayasa,ada yang mau filmkan? *hening

Sumber Gambar:
http://gambargambargratis.com/2012/foto-buah-rambutan-muda-di-pohon/

@cheitumminyafardain

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s