“SEPULUH TANGAN”

image

“Tanganku ada dua
Yang kanan, yang kiri
Tanganku untuk memegang,
Alhamdulillah,trimakasih Allah”
(Tasya)

Tidak seperti sepenggal lagu di atas, belakangan saya berpikir saya ingin punya sepuluh buah tangan. Sebuah kemustahilan memang, maka saya pilih menuliskan saja keinginan saya itu. Mau ikutan berimajinasi dengan saya?Yuk,mari! Tapi jangan salahkan jika imajinasi saya tentang sepuluh tangan yang saya harapkan itu sedikit tidak masuk akal.

Jika saya bertangan sepuluh, maka saya bisa mengerjakan semua pekerjaan dengan cepat dan sekaligus. Mirip istilah multitasking. Sepasang tangan pertama akan saya gunakan untuk memasak, sepasang lagi untuk cuci piring,sepasang lagi untuk menjahitkan celana abi yang robek,sepasang lagi untuk memandikan dais pagi hari,sepasang lagi untuk menggendong bayi saya. Setelah kelar,saya bisa menggunakan setiap pasang bergantian untuk pekerjaan yang lain,termasuk hobi “me time” saya, menulis dan menggambar. Ketika keinginan saya itu saya sampaikan ke faris anak sulung saya, ia berpikir sejenak. “Kalau begitu, ummi harus punya 10 kepala untuk mengawasi pekerjaan yang dilakukan tangan ummi.” Haaah?dalam bayangan, saya nampak seperti monster perempuan berkepala sepuluh bertangan sepuluh. Faris memang jago menganalisa. Termasuk menganalisa keinginan “nyeleneh” umminya:)

Saya ingat, sewaktu ikut sebuah acara seminar tentang keluarga, pembicaranya mengatakan bahwa penurut penelitian (penelitian siapa yah?) perempuan lebih bisa melakukan pekerjaan multitasking seperti menyapu sambil menggendong anak,sambil bergosip. Atau memasak, sambil beberes rumah, sambil ngobrol di ponsel. Padahal tangan mereka hanya sepasang alias dua buah. Lalu, apakah saya masih butuh sepuluh tangan? Ah,tidak! Keinginan itu hanya karena ingin melakukan semua  pekerjaan sekaligus alias bersamaan, tidak mungkin kan? Sama dengan ketidakmungkinan saya mempunyai sepuluh tangan.

Lalu bagaimana ending tulisan ini, sambil mengetuk-ngetuk kepala saya sendiri, saya hanya berpesan : pertama, manajemen waktu saya mesti saya tinjau kembali, kedua, tolong ya, jangan menunda-nunda pekerjaan (terutama menjahitkan celana suami yang sobek -,-), ketiga, skala prioritas (dahulukan menjahit celana suami yang sobek), keempat, jangan malu-malu minta bantuan atau jangan sambil marah-marah minta bantuan (soalnya suka gak fokus jadinya mau dibantuin apa :p), kelima, syukuri dua tangan dan maksimalkan kegunaannya. Bagaimana? Happy ending kan?

Note: solusi di atas untuk saya sendiri kecuali anda juga punya celana suami yang sobek dan sudah berbulan-bulan belum diselesaikan lalu anda umpetin di tumpukan pakaian anda :p *secret

@cheitumminyafardain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s