MUM N ME (mum also)

image

Tulisan ini akhirnya saya tuliskan setelah mendapatkan pesan singkat bernada curhat dari seorang teman. Inti percakapan kami via sms saat itu adalah tentang ibunya dan dia yang selalu berbeda pendapat dan kerap berujung kekecewaan pada sang ibu dan kesedihan pada sang anak karena merasa tak bisa membahagiakan orangtua atas pilihannya menjadi ibu rumah tangga full time.

Hemm, sebelas dua belas dengan saya. Terkadang saya pun terserang perasaan yang sama ketika memutuskan untuk di rumah saja, dan tidak bekerja di luar. Ijazahnya mubazzir, ilmu yang dituntut bertahun-tahun sayang banget jika tidak digunakan, dan berbagai “bisikan syaithon” yang kerap mengganggu ketentraman hidup. Oya, saya pernah menuliskan postingan tentang pilihan sebagai ibu rumahtangga di sini. Berada tetap dalam perasaan bersalah justru semakin kita tidak bisa berbuat apa-apa, maka saya putuskan untuk moving on saja, apapun resikonya. Toh, judulnya pilihan, maka harus ada yang dikorbankan, dan pasti ada konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan terutama di hadapan sang Khalik, bukan? And that’s the point!

Kembali ke mama. Ahh, saya dan mama juga kadang tak selalu cocok. Mama selalu punya kekhawatiran berlebih. Yah, apa lagi jika menyangkut cucu-cucunya. Apalagi, ketika pilihan Homeschooling untuk si sulung Faris, siap-siap saja ditelpon tiap tahun ajaran baru, lalu menanyakan sudah daftarin faris sekolah belum? Atau kadang mama telepon hanya untuk menceritakan berita kriminal tentang penculikan anak di televisi, penyanderaan majikan oleh pembantunya, atau jenis makanan berbahaya yang beliau tonton di televisi. Untunglah saya tak sontak menyanyikan lagu sule, “mama telepon”,lalu disahut faris, “halo pungkajao, si ummi bilang gak ada” syalalalalalalalala..Tidak!!” Karena bohong itu dosa! Gawat, saya mulai gak serius,niiii. Fokus!

Ok, yang namanya mama tetaplah mama. Yang namanya anak juga akan tetap menjadi anak meski ia sudah melahirkan beberapa kali, bahkan hingga ia bercucu sekalipun, ia akan tetap menjadi anak kecil di mata orangtuanya. Mungkin. Atau mungkin kelak di usia senjanya, mama akan berubah menjadi anak kecil, yang menuntut perhatian anak-anaknya, butuh perawatan seperti dahulu beliau merawat kita sewaktu kecil, butuh didengarkan keluh kesahnya. Saya menarik nafas panjang lalu berlinang.

Ketika kita mulai menjadi mama, sedikit banyak kitapun mulai mengerti perasaan mama. Lalu muncul di benak kita, “oh, begini lah perasaan mama dulu…” Memilah-milah positif negatif, lalu mengartikan beberapa kenegatifan adalah bentuk metamorfosis tak sempurna dari “cinta”, yah, cinta mama kepada anaknya. Lalu, menarik kesimpulan bahwa tak setiap mama itu sempurna, mama juga bukan malaikat atau peri dalam dongeng, tapi, bagi saya bahwa mama adalah tongkatnya peri, yah, karena mama punya doa yang mustajab semustajab tongkat peri. Maka saya hanya meminta doa beliau di tengah kekhawatiran berlebihnya, dengan berucap, “doakan saja yang baik-baik ,ma’, karena doa mama’ yang paling di dengar Allah.” Meskipun saya yakin mama saya bukan salah satu dari mama yang akan mendoakan keburukan bagi anaknya, setelah ibunya malin kundang.

Note: “me” pada ilustrasi diperagakan model :p tapi, di sebelah itu mama sayaaa!:)

I love you,mum, eventhough they were unspoken words :’)

@cheitumminyafardain
Jakarta,29 10 2012

6 comments

  1. Ini gw bgt:D sblm meninggal,mamaq sl blg kl nnt kiandra sdh sethn sy hrs kerja lg.krn perempuan hrs mandiri n g boleh trll brgntung sm pria..smpe skrg kiandra umur 2 thn sy blm2 kerja lg.hadeuhhhh*tepokjidat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s