KEPADA TIVI,BALIK BELAKANG,GRAK!!!

image

Rasanya sejak televisi dibalik menghadap ke belakang, anak-anak jadi gampang diaturnya ya. Tidak sia-sia,nih, membiarkan mereka nangis bersahut-sahutan gara-gara tivinya dibalik. Jadilah seharian itu tidak ada siaran tivi sedikitpun, dan saya harus bilang “wow”(tanpa kata “gitu”) lalu koprol!

Lalu,bagaimana bisa tivinya kayak gitu? Tenang,tak perlu ekstra tenaga, cukup diputar saja, jangan lupa lepaskan semua kabel yang masih terpasang. Sepertinya tidak begitu penting ya,cara membuat posisi tivi kayak gitu, ok, saya sadar mulai tidak fokus :p

Sadar akan efek tivi yang buruk bagi anak,maka itulah cara satu-satunya untuk menyelamatkan mereka. Dulunya kami hanya memakai aturan batasan waktu menonton dalam sehari,atau batasan judul film kartun dalam sehari. Tapi,rasanya tetap saja saya merasa faris jadi sulit diatur, kalau diminta ngaji atau sholat mesti minta dikasih tontonan setelahnya . Belum lagi iklan tidak se no noh yang menyelingi tayangan film, yang buat faris dais sibuk menutup mata, atau sibuk saling menyalahkan karena salah satu dari mereka lupa menutup mata atau mindahin chanelnya.

Sebenarnya, tivi tidak salah-salah amat. Soalnya ada juga positifnya, ketika tayangan yang ditonton anak kita itu mendidik atau bisa memberikan pengetahuan baru. Contoh ketika Faris belajar tentang api,lalu saya tanyakan kegunaan api, dia bilang asapnya hasil pembakarannya bisa dipakai mengusir nyamuk, katanya dulu pernah liat di bolang. Atau tentang spongebob yang tidak putus asa mencoba mengikat tali sepatu, atau cerita tentang franklin si kura-kura yang menemukan permainan ketika sendiri dan tidak bisa keluar bermain karena musim dingin,atau kartun magic school bus yang bercerita tentang tata surya, kegunaan rawa, dan sebagainya.

Jadi,siapa yang salah? Yang salah orangtua ketika membiarkan anak kecanduan nonton tivi, menonton tayangan yang tidak mendidik, tidak mendampingi ketika anak sedang menonton. Saya juga pernah melakukan kesalahan, duluuuuu menjadikan tivi “pengasuh” ketika sedang sibuk di dapur pas jam tayang sinetron , atau membiarkan faris nonton tivi sebelum berangkat sekolah TK. Akibatnya faris jadi lebih terfokus dengan tivi, dibandingkan menghabiskan sarapan, memakai baju sendiri, pokoknya jadi pasif,deh. Tapi, itu duluuuu yaa..hehehehe, dan cara melepaskannya dari kecanduan tivi akhirnya butuh perjuangan ekstra keras. Alhamdulillah,sekarang dia nyantai aja tuh kalo dia nanya kungfu panda mainnya tiap hari ya,mi…tapi aku bolehnya cuma nonton pas minggunya aja,soalnya sabtu sore aku basket,kan…atau pas abi lagi mau nonton bola dan ia nyuri-nyuri mindahin chanel dan kena tegur,lalu ia cuma nyengir dan dengan ikhlas ngembaliin lagi remotenya ke abi. Gak nangis-nangis lagi atau ngomel-ngomel sendiri. (sekali lagi, “WOW!!(tidak pake gitu), sambil koprol)

Meski efeknya pada saya yang gak nonton tivi jadi gak tahu berita apa yang lagi panas-panasnya di dunia poleksosbudhankam (hayoo istilah apa ini?). Untung masih ada media internet, jadi bisa baca berita disitu,deh.

Akhirul qalam, bukannya meniadakan televisi di rumah,tapi menggunakannya dengan bijak dan sediakan kegiatan menarik yang bisa menggantikan tontonan tivi di rumah. Itupun jika anda tidak ingin anak anda menjadi pasif, kecanduan tivi, dan terkontaminasi prilaku buruk dari efek cerita tontonan dari tivi.

@cheitumminyafardain

6 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s