SAYA,FARIS,ABI DAN HOMESCHOOLING

Selepas Faris (6Y) TK selama dua tahun kemarin,tepatnya akhir bulan Juli,akhirnya Faris mulai Homeschooling. Lalu, apakah itu pilihan Faris sendiri,saya,ataukah abinya? Jawabannya adalah Homeschooling adalah pilihan kami,yah, saya, faris,dan abinya..setelah dua tahun lalu mengenal Homeschooling dari seorang ibu dari anak HS yang secara tak sengaja bertemu dalam sebuah acara. Berawal dari ketidak tahuan dan sama sekali tak pernah ada dalam benak kami untuk meng HS-kan anak kami, lalu dua tahun saya coba mengumpulkan informasi tentang HS, ikut webinar tentang HS, sesekali berkumpul dengan komunitas HS, browsing tentang HS di internet, bergabung dalam grup HS di facebook, mengumpulkan berbagai buku tentang HS. Semuanya mengarah pada beberapa alasan mengapa kami berani melirik sebuah alternatif sistem pendidikan yang diakui pemerintah namun mungkin sedikit ekstrim dan aneh, di saat para orangtua berlomba-lomba mendaftarkan anak mereka ke sekolah favorit. Kalau tanya itu ditujukan pada saya, mengapa kau Homeschool kan anakmu? Jawab saya, karena ego saya sebagai ibu. Ego? Berarti saya memaksakan Faris untuk HS?Jawab saya tidak! Saya yang mengandungnya, melahirkan, menyapih, lalu mengasuhnya sejak buaian, dan saya orang pertama yang menginstalkan “program” kebaikan dalam otaknya, rasanya sayang jika ada yang merusaknya, menggantinya, menghapusnya, atau mencampurnya.  Selain itu, rasa tanggung jawab saya sebagai ibu yang rasanya tak cukup jika sekedar “sampingan” setelah ia lepas dari buaian. Bukankah sekolah artinya “waktu luang”, maka waktu utamanya adalah tanggung jawab saya sebagai madrasah pertama untuknya. Bukan berarti kami akan selalu bersama, suatu saat saya akan melepasnya mengembara menambah khasanah ilmunya, dengan bekal “pondasi” keimanan kokoh yang kami bentuk selama bersama di rumah.

Meski jauh dari mendekati sempurna, perjalanan saya selama menjadi ummi bagi Faris mungkin kadang menyebalkan untuknya. Kadang kami berdebat lama, berujung saya dengan aturan, sedikit tekanan dan dia menangis, atau sebaliknya dia yang marah dan sayapun sedih. Tapi, kami selalu tutup dengan saling berpelukan, mengeluarkan isi hati, uneg-uneg kami, lalu menemukan sebuah benang merah, bahwa kami harus saling memahami. Awal menjalani tak sesederhana teori-teori yang saya kumpulkan, saya dan segala kekurangan saya yang terkadang bukan rahasia lagi untuk Faris. Terkadang saya harus bergulat dengan hormon estrogen saya, harus memutar balik ke belakang televisi ketika satu hari ia sudah berlebihan jam nonton yang sudah kami sepakati, harus berusaha tidak melemah ketika ia mulai merajuk atau beralasan macam-macam untuk mendapatkan yang ia inginkan. Ketika saya berhasil menaklukkannya, puas rasanya🙂 Mungkin tidak ada keluarga yang sempurna, begitupula tidak ada orangtua yang sempurna, asal mau memperbaiki setiap kesalahan, rajin-rajin mengevaluasi diri, dan mau berubah, itu saja sudah CUKUP!

Alasan lain mengapa kami memilih homeschooling adalah, saya tak ingin kreatifitasnya “terbunuh” hanya karena tumpukan pekerjaan rumah dari sekolah atau bidang studi yang semakin membebani otaknya.

Lalu, dimana peran abinya? Hemh, saya selalu berusaha meyakinkan suami tercinta saya itu bahwa saya sanggup menjadi “Homeschooling mom” untuk Faris selama beliau meridhoi. Tidak hanya itu, mendengarkan suka duka selama proses homeschool kami di rumah ketika ia di kantor sangat meringankan langkah saya. Menangani anak-anak kami mengaji selepas maghrib, mengantar faris latihan basket ketika beliau libur, membacakan adab, siroh, mengevaluasi kegiatan saya bersama faris sepulang kantor merupakan bantuan terbesar darinya🙂

Mungkin tak banyak yang bisa saya jelaskan ataupun jawab tentang Homeschooling, karena kami pun sedang merangkai teori, ataupun belajar dari pengalaman keluarga HS lainnya dengan kehidupan HS keluarga kami yang baru berjalan beberapa bulan.

Sekali lagi, it’s all about a choice. Yah, sebuah pilihan, sebuah pilihan yang juga dilegalkan pemerintah kita dalam undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 27 ayat 1 (jadi jangan khawatir🙂 ), meski tak begitu familiar. Muaranya kelak akan saya kembalikan ke Faris sendiri, saya bilang ke Faris, bahwa ia boleh memilih untuk masuk sekolah tahun depan jika ia ingin..Saya hanya ingin menikmati sebuah proses yang mungkin tak semua orang paham. Entah sampai kapan kami akan menikmati proses itu.  Tumbuh bersama, saling memahami, hingga kelak doa yang anak kita lantunkan untuk kami orang tuanya sejalan dengan prilaku kami, “Ya,Allah, ampunilah dosa orangtuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil..aamiin”

Jakarta

18 September 2012

@cheitumminyafardais

10 comments

  1. Barakallah che’….penasaran gmn kalau suatu saat semua programnya dibukukan atau sekalian di launching sj kali, biar jadi sumber inspirasi buat semua org…..di tunggu peluncuran HS versi cheche, insya Allah…:)

  2. “Saya yang mengandungnya, melahirkan, menyapih, lalu mengasuhnya sejak buaian, dan saya orang pertama yang menginstalkan “program” kebaikan dalam otaknya, rasanya sayang jika ada yang merusaknya, menggantinya, menghapusnya, atau mencampurnya”…

    Setuju Bu… Keras betul org tua mengajarkan kebaikan, yg tidak punya andil dengan semena-mena merusaknya (Bahkan itu dari guru sekalipun)…

    Really like this quote…
    #sesama perempuan ego(is…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s