ONCE IN THEIR LIFETIME

Faris dan Dais, beberapa pekan setelah dikhitan

Sebenarnya sudah lewat dua bulan lebih yang lalu,tapi baru sempat saya dokumentasikan di blog. Hehe, ini mengenai “sesuatu” yang terjadi dalam hidupnya sekali saja, dan ini mengenai kelangsungan hidupnya di masa depan (sudah kedengaran serius kah?). Mulai penasarankah? Baiklah mari menuju paraghraf ke dua🙂

Ceritanya tepat di bulan Mei lalu kami merencanakan mengkhitankan Faris (Birth:31 Mei 2006) dan Dais (Birth:18 Agustus 2007). Awalnya karena si Dais suka mengeluh kalau pipis, “itu”nya sakit, maka kami putuskan mengkhitankan dan otomatis sang kakak, Faris pun diikutkan. Lalu kami memilih “mengeksekusi” (eh…jadi nyeramin gini bahasanya -,-) mereka di Makassar tempat lahirnya emaknya,juga tempat lahirin dua jagoan kecil itu,  sekalian nengokin kakek neneknya. Begitu tiba di Makassar, kami pun nyari-nyari rumah sakit yang nyediain fasilitas khitan. Ada dua cara yang hendak dipilih nantinya antara khitan biasa dengan metode smart clamp. Lalu kami putuskan menggunakan metode smart clamp dengan pertimbangan lebih simple,tanpa jahitan,bisa basah kalau habis pipis, tanpa perban. Harganya juga sama dengan yang biasa, tujuhratus ribu belum termasuk obat. Pokoknya beberapa minggu sebelum dikhitan,kami sudah mempersiapkan mental keduanya, mulai dengan menjanjikan hadiah menarik dan cerita-cerita indah selepas khitan…hehehe…

Berikut rekaman memori peristiwa dan percakapan saya dengan dua jagoan saya itu mengenai serba serbi khitan, hehehe 🙂

BAGAIMANA RASANYA?
Faris:”Disunat sakit gak,mi? Sakitnya gimana? Katanya seperti digigit semut?”
Ummi: “yah semacam digigit semut begitulah.”
Faris:”Semut apa,mi? Semut yang kepala buntal atau semut biasa? Sunatnya pake gunting gak,mi?”
Ummi: “hehehe…ummi gak bisa jawab kita liat saja nanti”
Berapa lama setelah khitan, faris lalu menyimpulkan bahwa rasanya seperti digigit semut kepala buntal seratus ekor ^,^

ALA KHITAN UPIN IPIN
Dais memberi syarat,nanti kalau mau sunat sediain permen kayak punya upin ipin, maka malamnya saya dan abi mencari permen bundar berwarna mirip punya upin ipin lalu diberikan sebelum dais dan faris naik tempat tidur rumah sakit buat dikhitan keesokan harinya ^,~

MASA PEMULIHAN
Rumah kami ramai dengan takbir dan tangis faris Dais ketika nyerinya muncul, atau sehabis pipis. Sesekali terdengar doa dari bibir kecil Dais agar diberi kesembuhan segera. Kedengarannya rada lebay, tapi yakinlah itu semua justru tamparan bagi kami para orang dewasa, ketika ditimpa sakit apakah nama Allah yang terlafadz di lisan kita, atau cuma sekedar “aduh sakit”??

CUKUP SEKALI !!
Kata Faris, kalau tahu rasa khitan itu seperti ini, Faris hanya ingin disunat satu kali saja ya, Ummi🙂 your wish is my command, son !😉

LIAT DONG! (session I)
Faris: “Abi sudah disunat waktu kecil,ya?”
Abi:”Ya ”
Faris: “Liat dong, sama gak kayak punyaku..”
Abi:”Sama kok dengan punya Faris :p  ” (lalu cepat-cepat mengalihkan perhatian Faris)

LIAT DONG! (session II)
Karena yakin kelak akan banyak sepermainan faris dais yang penasaran pengen liat hasil khitannya, maka Dais saya traning supaya tidak dengan mudah mau diminta memperlihatkan “hasilnya”. Maka kami pun pura-pura berdialog sebagai teman di sekolah, begini isinya;
Ummi (berperan sebagai teman Dais di sekolah): “Dais! Katanya kamu habis dikhitan ya?”
Dais: “Iya”
Ummi (pura-puranya teman Dais): “Gimana rasanya Dais?Sakit gak?”
Dais: “Yaa…nanti rasain sendiri aja,deh.”
Ummi (teman gadungan): “Aku boleh liat,gak?”
Dais: “Nggak.”
Ummi (teman gadungan): “yaa kamu…dikiiiit aja,sebentar aja…”
Dais : “Nggak,maaf yaa..”
Ummi (teman gadungan): “Dais pelit…huhuhu (pura-pura nangis)
Dais: “Ya udah,deh…liat aja…”

CUT!!!!!!!!

“Mestinya Dais tidak boleh tergoda, apapun godaannya karena aurat Dais tidak boleh dilihat orang lain, apalagi sekarang sudah dikhitan”..Ummi memberi pengarahan. Sampai di situ Dais mengerti, maka kami ulang beberapa kali simulasi dan selalu berakhir, DAIS BERSEDIA MEMPERLIHATKANNYA —,—”

MENYERUPAI DAN TRAUMA?
Sejak habis dikhitan, Faris selalu menerjemahkan benda-benda disekitarnya mirip seperti “punyanya” setelah dikhitan. Mulai dari bawang merah, sampai pisang kecil…sedang Dais beberapa hari setelah dikhitan tak begitu suka melihat gunting….Alhamdulillah tak berlangsung lama🙂

Mungkin hanya itu yang sempat terekam di memori saya. Yang jelas saya adalah saksi betapa mereka sekuat tenaga berjuang melawan rasa takut, sakit, trauma sebelum dan pasca khitan, di usia mereka yang kata-kata orang-orang masih terlalu kecil untuk dikhitan. Sengaja tak saya dokumentasikan ketika mereka sedang dikhitan, tak tega rasanya, hanya ada foto dalam perjalanan menuju rumah sakit… Alhamdulillah, semuanya hanya terjadi sekali seumur hidup mereka🙂

Bandung, 21 Agustus 2012
*Menyelesaikan tulisan yang tertunda🙂
@cheitumminyafardais

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s