Bukik Bertanya: SEPASANG SAYAP

Saya istimewa? Bagi sebagian orang mungkin tak begitu, karena saya ibarat figuran dalam film, penjaga sandal di masjid, atau cleaning service di mall-mall….hehehehe. Memutuskan ikutan berkolaborasi bukik bertanya bukan perkara mudah bagi ibu dua anak seperti saya. Awalnya saya merasa tak ada yang istimewa yang layak diketahui orang banyak, apalagi jika saya lihat profil-profil di “ Bukik Bertanya”, langsung minder! Namun, itu dia…setiap orang itu unik, selama ia seorang manusia, tentu saja dengan menemukan dan mengekplorasi “passion” dalam dirinya. Setelah mengirimkan email dan mendapatkan pertanyaan dari “bukik bertanya” , saya sadar bahwa pertanyaan itu menuntun saya menemukan keistimewaan dalam diri saya. Alhamdulillah jika bisa menginspirasi orang banyak, berarti pahala untuk saya:)

TENTANG IDENTITAS DIRI
Saya? Saya satu-satunya yang diberi nama oleh bapak. Kakak pertama saya diberi nama oleh kakek, dan dua adik saya, mama’ yang memberi. Sembari sibuk menemukan nama lengkap yang tepat, untuk sementara saya dipanggil “cheche”…plesetan dari “becce” yang dikalangan orang bugis panggilan untuk anak perempuan. Itulah kemudian yang menjadi panggilan akrab saya. Awalnya saya sempat akan diberi nama Sri Mulyani, mungkin bapak terinspirasi nama mama yang awalnya juga Sri, tapi, mama’ tidak setuju, karena kakak saya berawalan.”Nur”, mungkin alasannya supaya saya tidak kelihatan adek kakak sama mama’ saya maka sayapun diberi nama “Nur Hikmah”…hehhehe…kebayang kalau saya yang bernama Sri Mulyani, mungkin saya yang jadi menteri keuangan itu..hehe. Setelah menemukan nama saya dan disetujui mama’, maka bapak pun mengurus akta kelahiran kami. Bapak membuat sebuah kesalahan kecil, saya yang seharusnya hanya bernama Nur Hikmah saja mendapat tambahan nama belakang  Temmarunu di akta lahir, padahal itu nama pemberian dari kakek untuk kakak saya. Hehehe…Temmarunu berarti tidak gugur dalam bahasa bugis. Maka terselip doa dalam nama saya, cahaya kebijaksanaan yang tak pernah gugur. Belakangan setelah menikah saya melepas nama “Temmarunu” dan membiarkan kakak saya memakai yang memang haknya, dan mengganti dengan nama suami saya, hingga jadilah…Nur Hikmah S.Jatmiko, sambil berharap saya selalu punya langkah bijaksana nan bercahaya untuk pasangan hidup saya itu….Lain lagi di TK anak saya Faris, saya dipanggil sama ibu-ibu yang lain… Ummi Faris, panggilan yang membanggakan🙂

TENTANG KEJADIAN YANG MENGGETARKAN

Bapak over protected pada anak gadisnya, karena bapak juga aktif menjadi pengurus masjid dan dikenal sebagai ustad di kompleks perumahan tempat kami tinggal..entah berapa pria yang berbalik arah begitu mendapati bapak menyambut dengan mata membesar di depan rumah, atau menyembunyikan surat untuk saya di laci meja kerjanya lalu dikunci rapat-rapat, bertanya secara detail pada teman pria saya yang menelpon ke rumah dan ujung-ujungnya berkata bahwa saya tak di rumah. Saya  tahu perasaan bapak ketika saya dilamar dan akhirnya menikah, bahwa tanggungjawabnya sebagai bapak ia pindahkan ke bahu suami saya, ia mungkin tak perlu dilanda khawatir lagi jika saya keluar atau pulang malam sehabis asistensi kuliah, karena saya sudah punya suami. Bapak adalah tipikal “family man” , sewaktu kecil ia tak segan membantu mama’ mencuci piring, memandikan kami, mengajarkan kami mengaji, bercerita selepas sholat maghrib, kalau saya dan kakak saya sedang sakit, kami tidur di kamar kerja bapak, dan mama’ bersama adik. Satu lagi, bapak sangat cinta buku, beberapa buku untuk bahan ajar bagi mahasiswanya ia tulis dan terbitkan sendiri. Saya suka kebagian mendesain covernya, dan beliau menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari untuk menulis dan membaca. Saking cintanya bapak sama buku, ia pernah dengan sedihnya waktu kami berniat pisah rumah untuk mandiri, dan bilang…”tidak usah kau bawa semua bukumu,nak…”..Bapak, karakternya yang kuat, dialeg bugisnya tak pernah hilang meski beliau sudah beberapa kali melakukan penelitian di beberapa kota di Indonesia. Darah menulisnya mengalir kuat di diri saya. Bapak memang tidak sempurna, dan kadang membuat saya ingin berontak dulu, tapi saya sadar itulah bapak…ia mencintai anak-anaknya dengan caranya sendiri.

Mama’, Beliau seorang guru di sebuah SLTP di kota Makassar. Mama’ menjadikan saya tempat curhatnya, tempat menceritakan masa lalunya, dan saya tahu  bagaimana mama berjuang untuk mencintai bapak. Bapak dan mama’ dijodohkan. Mama’ selalu bilang ke kami anak-anaknya, bahwa ia tak mau kami merasakan menikah dengan orang yang tidak kami cintai, meski mama’ akhirnya menemukan dengan usaha keras selama hidup bersama bapak. Mama’ mendukung saya ketika saya memutuskan berjilbab…lalu baju dan jilbab pertama saya adalah punya mama’. Karena saya sudah kebelet berjilbab waktu itu. Saya merasakan bagaimana repotnya mama’ mengandung ketika saya pun hamil, merasakan bagaimana perjuangan mama’  melahirkan ketika saya pun melahirkan, bagaimana rasanya kekhawatiran mama’ bila anak-anaknya sakit ketika saya merawat anak-anak saya yang sedang sakit. Mungkin benar kata Rasulullah salallahu alaihi wasallam, menggendongnya keliling kabbah pun takkan bisa menggantikan pengorbanan dan perjuangannya mengurus kita di waktu kecil. T,T

TENTANG KEJADIAN YANG MENGUBAH DIRI

Dari dulu saya adalah orang “belakang layar”, selalu senang dunia menulis sejak smp. Tulisan saya hanya nampang di mading sewaktu SMP atau buletin sekolah semasa SMU. Atau menerima orderan cerita dari teman-teman yang sedang kasmaran. Atau membuat “script” dialog  pementasan operet. Ketika masuk dunia perkuliahan, diam-diam saya menyamakan diri saya dengan leonardo da vinci, pria dengan banyak passion, namun setengah-setengah dalam menjalani, hingga lebih banyak karya yang tak tuntas dibanding yang selesai. Hingga akhirnya ditemukan lukisan monalisa sepeninggalnya, membuatnya dikenang dunia.  Memutuskan untuk menikah di usia 22 tahun, usia pernikahan yang masuk enam tahun, berputra dua, justru membuat saya mulai menemukan sebuah passion dalam diri saya yang ingin saya tekuni. Menulis. Itu yang saya pilih….Yah, menulis…saya ingin seperti bapak…saya ingin meninggalkan sebuah jejak ketika waktu memutuskan memanggil saya, untuk anak, cucu, atau orang yang tak saya kenal. Saya ingin meninggalkan sebuah masterpiece seperti monalisa, namun berguna dan pahalanya bisa mengalir terus. Minimal membuat orang tersenyum, sedekah termurah🙂 Saya kemudian memulai dengan menulis di blog! Sembari mengumpulkan tulisan saya untuk dibukukan.

Banyak yang menyangsikan seorang ibu rumahtangga, tak mampu produktif di luar bidang pekerjaan mengurus rumahtangga. Belum lagi gelar sarjana yang saya sandang banyak yang menyayangkan, sudah tinggi-tinggi sekolah jatuhnya cuma jadi ibu rumahtangga biasa, tidak membuat saya berkecil hati…bukankah ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, maka bekal sarjana saya adalah untuk menjadi sekolah pertama bagi mereka, menyiapkan generasi beriman kuat, berakhlak baik, punya potensi unggul dan tidak bergantung pada kehidupan tapi justru mampu mengkreasikan kehidupan, salah satu cita-cita besar saya untuk mereka.

TENTANG YANG DIHARGAI

Diri sendiri

keluarga kecil sayaMemilih berjilbab dan menikah adalah cara saya menghargai diri saya.

Keluarga

Keluarga adalah bahan bakar untuk tangki energi saya sebagai ibu rumah tangga, dari mereka untuk mereka juga. Hasrat menulis saya yang sempat mati suri bangkit kembali karena perkataan suami saya bahwa tulisan saya lebih bagus dari seorang asmanadia, hanya saya tak terkenal. (ups, semoga tulisan ini tak di forward ke beliau…hehehe…itu bukan saya yang bilang,lho…)

Orang Lain

Saya menghargai oranglain seperti “pecahan” dari diri saya, tak peduli ia penyapu jalan, pembantu rumah tangga, atau tukang sayur yang saya temui setiap pagi. Tak ada kasta dalam pergaulan menurut saya, karena Allah pun tidak melihat dari sisi itu, tapi dari sisi ketakwaannya.

Indonesia
Saya menghargai indonesia dengan berusaha membeli sayur lokal, buah lokal, mencoba resep masakan Indonesia. Bukan yang impor…

Kehidupan

Saya berguru di kehidupan, menghargainya seperti saya menghargai Allah, Sang Pencipta kehidupan. Tidak mengeluh dengan ujian hidup, tetap bersyukur dalam keadaan apapun.

SIMBOL DIRI
Saya adalah dua sayap untuk menuju tujuan utama, ridha Allah, bagi diri saya, pasangan hidup saya, anak-anak, dan lingkungan saya.

TENTANG INDONESIA 2030

Wah, dari sudut penerawangan mama belang-belang hehe…Indonesia 2030, bangun pagi acara televisi bukan lagi gosip artis, berita kriminal, atau berita korupsi para pejabat….tapi yang menginspirasi, menyemangati, sesuatu yang positif…seperti “bukik bertanya”…eh, lucu juga ya kalau jadi program acara televisi?…hehehe..

Indonesia 2030, kita tak perlu was was jika meninggalkan rumah dalam keadaan tak terkunci, atau bisa mengambil dan menemukan  kembali dompet kita yang jatuh di jalan atau ketinggal di pasar karena semua orang tak ingin mengambil yang bukan haknya.

Indonesia 2030, Presiden menerbitkan kepres agar semua kepala daerah wajib turun langsung membawakan sembako bagi warga miskin.

Semua yang besar berawal dari yang kecil. Maka langkah kecil yang kelak jadi langkah besar lalu langkah lari adalah menyiapkan generasi untuk mengubah Indonesia 2030, dan saya mulai dari rumah, mulai dari anak-anak saya…kalau kata seorang pakar parenting, Ayah Edy, Indonesia Strong from Home, lalu berharap agar ia tak putus hingga cucu dan cicit..:)

BIOGRAFI

Ibu yang ingin selalu lahir di setiap zaman…dalam sosok atau wujud yang berbeda…anak-anak keturunan saya🙂

HAL KONYOL YANG PERNAH DILAKUKAN

Bapak, cucunya Dais, dan aaahhhh...ayam itu...

Saya adalah ibu yang suka tak sadar jika berbuat konyol. Mulai dari menyemangati anak saya Faris yang waktu itu usianya tiga tahun untuk menyentuhkan sedikit kakinya ke air laut di sebuah pantai…tak menyangka kalau support saya justru membuat dia berlari ke arah pantai, hingga tenggelam sebentar dan diselamatkan seorang bapak, dan saya hanya bisa melongo…Shock!!!

Pernah berusaha seorang diri mempertahankan nyawa gara-gara keselek kulit ayam jantan dalam sebuah sup buatan mama, disaksikan mama yang sibuk bertanya kamu kenapa?! Semuanya, gara-gara ingin membelikan ayam jantan seperti ayam Rambonya ato di upin ipin, untuk anak saya Faris dan Dais, sambil berpikir kalau dia udah bosan kita sembelih, deh..Cukup dua kekonyolan saya, yang lain? Sudah lupa, tuh..

Anda ingin terinspirasi  atau merasakan sebuah energi positif dari mereka dengan segala keistimewaan dan keunikannya? Sila klik link ini  “Rubrik Kolaborasi Bukik Bertanya”

18 comments

  1. Berhasil mewek bombay di meja kerja gara-gara bagian “tentang kejadian yang menggetarkan”. Selaluuu saja emosional tiap kali bicara soal orang tua. Love you Bapak dan Mama…..

  2. alhamdulillaah.. manfaat
    semoga saya juga bisa menjadi tauladan yang baik untuk (calon) anak – anak dan istri kelak..

    saya suka kalimat ini :
    “bukankah ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, maka bekal sarjana saya adalah untuk menjadi sekolah pertama bagi mereka, menyiapkan generasi beriman kuat, berakhlak baik, punya potensi unggul dan tidak bergantung pada kehidupan tapi justru mampu mengkreasikan kehidupan, salah satu cita-cita besar saya untuk mereka.”

    ^^d

  3. sesama pejuang #BukikBertanya…bener mba, aku juga menikmati proses pembuatan tulisan tersebut. mungkin jauh dari kesempurnaan, tapi setidaknya aku mencoba. entah kenapa, melalui kolaborasi ini aku jadi merasa dekat dengan beberapa teman yang berpartisipasi, termasuk Mba Nur. semoga kita bisa tetap bersilaturahmi yaa🙂

    1. InsyaAllah,mba mira…kadang sy jg suka terharu sendiri ktika disemangati,didoakn, dihibur,atau dikoreksi o/teman baru yg notabene dak pernah btemu di dunia nyata:) smoga Allah slalu mberkahi hidup kita, kini dan nanti…aamiin.

    2. setuju dengan kalimat mbak Mira, kolaboarsi bukik bertanya ini bisa jd tool utk mengenali diri sendiri…dulu, sekarang dan wishes kita selanjutnya…semoga saya bisa ikut berpartisipasi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s