HATI MEMANG MUDAH TERBOLAK BALIK

Langkah kaki kutarik lagi, setelah melihat ia masih di sana. Terpaksa rencanaku keluar hari ini urung. Sampai kapan ia akan berdiri di sana, sedang supirku yang lugu pun enggan berbohong.
“Dosa, mbak..bohongin orang. Allah dan Rasulnya kan melarang berbuat tidak jujur…hayooo…” Katanya dengan polos.
“Min, bohong kali ini untuk menyelamatkan orang. Itu aku. Rasul pun pernah berbohong demi menyelamatkan nyawa seseorang.”
“Benar,mbak?” Tanyanya meyakinkan dirinya sendiri, aku mengangguk. “Tapi, kan orang itu tidak mau membunuh, mbak kan yaa..”
“Argh, capek berdebat dengan kamu, Min.” Aku melengos, lalu masuk kamar, dari jendela kuintip lagi, ia masih di sana, tampak sedang dihampiri Parmin,supirku. Entah apa yang mereka bicarakan. Akupun tahu, Parmin takkan pernah berbohong apapun alasannya, tapi dia mampu membuat orang itu angkat kaki dari depan rumahku. Meski sebelumnya kami sempat beradu pandang, dia melempar senyumnya padaku dan pergi. Cepat-cepat kutarik badanku dari jendela…Ia memang pergi tapi seolah berkata, ok, besok aku datang lagi.

Malam sudah larut, mataku tak mampu terpejam. Biasanya kuterapi diriku dengan melihat gugusan bintang di langit, mengagumi Maha karya-Nya, sambil sesekali bertasbih ketika kelipnya seperti seorang bidadari yang berkedip padaku. An Najm, begitu nama sebuah surah dalam Al Quran yang berarti bintang. Hingga kekagumanku pada kelap kelipnya rusak, dirusak oleh sebuah pesan singkat di ponselku, “Kau sedang melihat bintang,ya…ada satu kutitip untukmu.” Wajahku tiba-tiba merengut, lalu menggeleng, kuarahkan jari-jariku menekan tombol “hapus”, namun pesan singkat dengan isi yang sama datang bertubi-tubi, menyibukkanku akhirnya untuk menghapusnya dari inbox. Hingga aku menyerah, dan membiarkan hingga kutemukan esoknya inboxku berisi 95 unread messages, dengan pengirim yang sama, orang itu!

*******

Di kantin kampus, sambil sesekali menyeruput secangkir cappucino yang nampak masih mengeluarkan asap panas, dua orang mahasiswa semester akhir sedang asyik berdiskusi, diskusi ala mahasiswa, bertemakan idealisme-idealisme yang entah bertahan hingga kapan, diselingi romantika hidup, cinta!
“Jadi, sampai kapan kau hendak mengejarnya?”
“Sampai ia mau padaku.”
“Hahaha, gila!”
“Cinta memang gila!”
“Tak mungkin, bos…kau tahu sendiri, gadis yang kau kejar anti pacaran.”
“Tak peduli!”
“Harga dirimu?”
“Sudah kujual atas nama cinta, hahahaha.” Keduanya lantas tertawa. Dan tawa mereka serentak menghilang ketika sang gadis yang ditaksir melintas, mengambil tempat dipojok kantin, sendiri. Kesempatan tidak ia sia-siakan, dihampiri sang gadis yang nampak pucat pasi begitu mengetahui kedatangannya.
“Maaf, mengganggumu.”
“Memang menggangguku, sangat terganggu!” Balas sang gadis geram.
“Aku hanya ingin memberimu sesuatu.” Ia mengeluarkan sekotak coklat impor, dengan hiasan pita hijau, lengkap dengan kartu bertuliskan besar-besar, “Mencintaimu,sangat!” Lalu si pemberi coklat pergi, tanpa mempedulikan sang gadis yang enggan menyentuhnya, membiarkan begitu saja tergeletak di meja, dan meninggalkannya.

********

Memang tak bisa membendung ujian hati yang ditimpakan padaku. Tapi, aku masih bisa mempertahankan hatiku biar tak berubah warna.
“Jangan terlalu membenci, karena yang kau benci mungkin saja akan kau cinta esok hari.” Nasihat sahabatku, yang kutanggapi dengan istigfar bertubi-tubi. Kutatap karangan bunga yang ia kirim, telah banyak jumlahnya, atau tumpukan coklat yang telah berkurang satu demi satu dijarah abangku…mungkinkah, suatu hari hatiku berbalik?

Jika tiap hari ada setangkai di depan pintuku, ada kiriman coklat dengan tulisan “I love u” nya besar-besar setiap jumat pagi, ada pesan singkat yang kaya akan rayuan gombal cap pulau kelapa di ponselku tiap malam, maka tidak untuk hari ini, besoknya, lusa, seminggu, sebulan, hingga hitungan beberapa bulan ke depan.
“Strategi seorang pria.” Kata sahabatku lagi. “Menunggumu mencari-carinya.” Tambahnya lagi. Tidak. Perasaanku berkata lain. Setelah menunggu dan bertanya-tanya seorang diri, berusaha menghalau galau sebelum menyebar menjadi stadium lanjut. Setelah bertemu dia yang telah bermetamorfosis menjadi seorang pria yang suka berdiam di musholla, mengumandangkan adzan setiap masuk waktu dhuhur, dan melantunkan ayat al quran setiap jeda waktu kuliah….Maka hati memang mudah terbolak-balik, tergantung Sang Pemilik hati.

@cheitumminyafardais
For my little sister, janji cerpenku lunas sudah:)

Jakarta,14 Desember 2011

6 comments

  1. wah, blognya tampilan baru mbak..
    tambah kelihatan press dan muda..

    hati memang mudah terbolak balik..
    tapi saya masih bingung dengan endingnya..
    sang lelakinya langsung tobat tapi apa fase yang membuatnya tobat..
    apakah dari proses mendapatkan cintanya.. dan terpengaruh sama sang wanitanya?

    salam mbak.
    selalu tertarik untuk membaca tulisan di blog ini.

  2. salam kenal…🙂 senang rasanya punya teman baru…daaann bener bener surprise ternyata mb jago bikin cerita…kok ya bisa pas….disaat aku yg udah lamaaa banget pengen bisa menulis…dan hasrat itu semakin menggebu saat ini….InsyaAllah bisa banyak belajar dari mbak yaa…🙂

    baidewei…ceritanya agak membingungkan di akhir *ehh atau aku yg agak telmi ya mbak…maklum usia😀 * itu ceritanya sang cowok udah gak lagi mengejar ngejar dia ya? heheheee….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s