PAGI MELANKOLIS

image

Pagi,saya dan Dais bergandengan tangan, menyusuri bahu jalan. Awalnya saya tawari ia untuk digendong, lantas ditolaknya, ” Aku udah besar,Ummi.” Jawab Dais, sambil memilih berjalan di sebelah kanan saya, sambil bilang ke saya, “Aku lindungin, Ummi ya, banyak kendaraan.” Saya tersenyum geli, bocah empat tahun kami mulai beranjak dewasa? “Nanti kalau Abi udah tua, aku juga mau gendong Abi jalan ke depan sana,Ummi.” Kata Dais lagi, kali ini tidak membuat saya geli, tapi terharu..Dais berusaha mencontoh kami. Persis! Pagi saya, diawali dibuat melankolis seorang bocah.

Tiba kami di pertigaan jalan,biasanya membeli nasi uduk, tapi sungguh disayang, sang penjual nasi uduk sedang tak jualan. Maka saya dan Dais berbalik arah, mata saya pun beradu dengan seorang ibu, penjual lontong sayur, sejak lama, sudah  beberapa kali kami beradu pandang berujung melempar senyum, baru kali ini saya putuskan membeli lontong sayur miliknya. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja ia bercerita sebuah “flashback” kehidupannya, dan saya dapati sorot mata teduhnya berubah tajam dan menggambarkan ketegaran seorang ibu. Ia janda yang ditinggal cerai suaminya, sembilan tahun yang lalu katanya, suaminya terpikat wanita lain yang berbeda keyakinan, hingga lebih memilih menggadaikan keyakinannya dan meninggalkan pernikahan pertama yang membuahkan sepasang putra putri. Sang mantan suami tak bertanggungjawab terhadap anak mereka selepas bercerai, sang ibu yang pontang panting menyekolahkan mereka. Tiba-tiba saja setelah tanpa kabar sembilan tahun, sang mantan suami datang lagi menawarkan jasa dan cinta kembali…
Tentu saja bersyarat, sang ibu juga mau menjual keyakinannya. Ia bilang pada saya, mantan suaminya tak mampu membeli dengan apapun keyakinannya, itu pula yang ia pesankan pada dua putranya. “Saya berani mati untuk itu!” Kalimat dipertegas, seolah sang mantan suami sedang berhadap-hadapan dengannya. Sebelum saya pulang, ia berkata pada saya bahwa tak lama lagi ia akan pulang kampung ke Jawa, mungkin minggu depan atau secepatnya, sang empunya rumah juga akan segera menjual rumah kecil tempat ia berjualan, mungkin hikmahnya ia bisa segera menyusul dua putranya di kampung, khawatir sang mantan suami beralih sasaran. Sejenak larut dalam kisahnya, hingga saya akhirnya pamit pulang, kembali bergandengan dengan Dais, benar-benar hari itu adalah pagi melankolis buat saya.

Sempat terpikir si ibu hanya ingin menarik simpati, namun beberapa hari kemudian rumah itu dipasangi sebuah pengumuman akan dijual, dan saya tak pernah bertemu ibu itu lagi.

Pagi melankolis, mengajarkan sebuah pelajaran tentang ketegaran menjalani hidup dan kekuatan mempertahankan iman dari seorang ibu. Juga pelajaran dari putra kecil kami, berikan contoh yang baik, niscaya menginspirasinya tuk selalu berprilaku baik.

Jakarta,10 Desember 2011

Teringat sorot mata seorang ibu penjual lontong sayur, semoga ia dan imannya selalu dalam lindunganNya.

@cheitumminyafardais

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s