MENGAMBIL PELAJARAN DARI KEMATIAN

image

Pagi hari, belum beberapa menit obrolan saya dengan seorang ummi yang meminta menggantikan beliau menemani seorang ummahat yang sekaligus guru anak saya di sekolah yang sedang didera kanker payudara stadium lanjut, katanya sedang sakaratul maut, kemudian tak bisa saya sanggupi karena anak-anak tak bisa ditinggal, dan sang abi belum berangkat kantor. Datang kabar selanjutnya jika ibu guru telah meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Setelah abi ke kantor, saya dan Dais pun mengantar Faris ke sekolah dan mendapati sekolah diliburkan, maka bersama rombongan orangtua, saya, Faris,dan Dais melayat ke kediaman ibu guru Faris. Awalnya saya enggan mengajak Faris Dais, khawatir mereka bikin heboh di sana, tapi saya tepis, ini pertama kali Faris Dais saya ajak melayat, berharap ada sebuah pelajaran yang bisa kami petik bersama, tidak hanya anak-anak, tapi juga umminya…yaa, itu saya.

Setiba kami di sana, suasana haru menyambut kami dari halaman rumah, seorang bocah kecil yang baru genap dua tahun berada dalam gendongan ayahnya, tak ada sedih di matanya yang bening, mungkin ia belum mengerti jika ibunya telah tiada, sedang ayahnya hanya tertunduk diam dalam duka yang mendalam. Karena bersesakan, maka Faris saya minta di luar rumah saja menunggu bersama beberapa temannya. Dais yang ngotot ikut ummi masuk ke dalam rumah, sampai badan kecilnya timbul tenggelam di antara ibu-ibu pelayat. Setiba saya dan Dais di sisi jenazah yang ternyata belum dimandikan, berbagai pertanyaan Dais muncul dengan suara berbisik. “Ummi,itu Bu Ani, ya?” Dais memang kenal sangat dengan Ibu Guru Faris itu, karena beberapa kali mereka ngobrol ketika kami menunggui Faris. Kami sempat melihat wajah jenazah kemudian berdoa untuknya, dan itu pertama kali untuk Dais.

Di jalan menuju pulang tak henti-hentinya Dais bertanya, sedang Faris tak banyak komentar (kalau sedang sedih biasanya memang dia memilih diam). Saya jelaskan pada Dais, bahwa Bu Ani itu sudah meninggal, Dais jadi tak bergerak, kasihan ya, padahal anaknya masih kecil.  “Jadi, Dais sama Faris harus jadi anak yang sholeh dan doakan ummi dan abi…”. Belum selesai penjelasan saya, Dais memotong, ” Yang meninggal kan, Bu Ani, kok, Ummi yang didoakan…”
“Dais, Ummi belum selesai ngomong, Dais sama Faris harus mendoakan Ummi sama Abi, biar bisa mendampingi Dais dan Faris sampai dewasa…sampai bisa melihat Dais Faris jadi orang sukses.” Dais mengangguk, dengan mimik super serius, sungguh saya tak pernah lihat ekspresi Dais yang itu, kecuali hari ini. Faris juga saya minta berdoa untuk gurunya, lagi-lagi ia hanya mengangguk dan diam.

Sebuah pengalaman tentang kematian yang membuat kami, terutama saya pribadi kembali berbenah sepulang melayat, membenahi ibadah-ibadah yang tak khusyu’, menambah amalan-amalan sunnah, memperkuat doa, diberi kesempatan mendampingi dua buah hati kami, mendidik mereka dengan kesabaran, hingga mereka tumbuh menjadi pribadi sholeh, beriman kuat, sampai kami  kelak dikembalikan pada Rabb dalam keadaan khusnul khatimah, dan dapat berkumpul dalam syurga-Nya… Aamiin ya Rabbal alamin.

@cheitumminyafardais
Kullu nafsin dza’ikatul maut, Selamat Jalan Bu Ani
Jakarta, 29 November 2011

3 comments

  1. Subhanalloh,, pelajaran yang luarbiasa mba,, Semoga Alloh memudahkan kita mendampingi buah hati kita sampai kelak mereka bisa mendoakan kita ya mba,,
    Semoga doa doa mba Cheche dan keluarga diijabah Alloh swt. Aamiin,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s