SAAT HIDAYAH MENYAPA

Melihatmu dari sisi lapangan, sambil sesekali melempar senyum. Rutin, setiap sore, aku dan kamu. Sebelum kita latihan band bersama. Kita memang lagi klop, kau suka main bola dan aku suka melihatmu bermain bola, sembari menata rasa yang mungkin tak terbalas. Karena ego, kita berdua manusia ber-ego tinggi, setinggi pencakar langit yang berdiri angkuh. Maklum kita masih baru dalam hal cinta. Tak punya pengalaman.

Menyusuri senja beralas pedestrian, lurus, tak ada kelok. Mungkin hidup kita tak selurus ini, buram tujuan, sepertiku atau kamu. Kita hanya tahu, masa muda adalah hura-hura, senang-senang, dan aku pun bernyanyi menyusuri jalan yang tak punya kelok, namun terkadang patah oleh jalur lintasan kendaraan. Kamu mencoba bicara tujuan hidup, “Mau kemana, selepas smu?” Tanyamu, sambil pandangan lurus ke depan, selurus pedestrian ini. Entahlah,apa kita masih seperti ini dua,tiga,sepuluh tahun ke depan? Bernyanyi-nyanyi, berkumpul di sebuah studio musik, ikut festival band, nongkrong di kafe. “Semoga kita masih punya umur.” Tutupmu sekaligus menjawab pertanyaanku, yang sebenarnya tak butuh jawaban sok dewasa seperti itu. Come on! Kita masih sepasang remaja lugu! Masih punya banyak waktu menikmati hidup. Itu percakapan terakhir kita, hingga berpisah di ujung jalan, kau ke kanan, aku ke kiri. Sejak saat itu tak ada kabar lagi darimu, juga nasib band kita,  apa arti sebuah band jika yang tersisa hanya pemetik gitar,pembetot bass,  tanpa penabuh drum sepertimu, dan vokalis sepertiku. Band kita pun bubar tanpa perintah.

Lagi-lagi egoku menguasai ragaku, tak kusambangi rumahmu, apalagi mengontak ponselmu, hanya sesekali kuberdiri di seberang jalan, bukan di pinggir lapangan, dari jauh melihatmu yang masih aktif bermain sepakbola, tanpa memberanikan menyapa untuk sekedar bertanya kabar. Mungkin kau tak butuhku lagi, sebagai teman,sekaligus pengagum rahasiamu.

Masa pekuliahan memang membawa kita sibuk dengan kegiatan masing-masing. Meski tak membuatku lupa berdiri di seberang jalan untuk memperhatikanmu seminggu sekali berlatih sepakbola, sepulangku kuliah, tanpa kau tahu. Cuma kamu yang lupa, atau tanpa sadar keberadaanku.  Hingga akhirnya aku ikut arus rombongan muslimah berjilbab yang menyejukkan, aku dipungut mereka di tepi jalan sambil berkata, “Ikut kami kajian,yuk…tak baik anak gadis berdiri di pinggir jalan seperti ini..” Kata seorang dari mereka sambil tersenyum lembut. Aku pun terseret arus ke sebuah masjid mengikuti sebuah kajian tentang tujuan hidup. Menjadi satu-satunya muslimah tanpa jilbab, dengan model rambut maskulin, dan sebuah tindikan di hidungku, menambah kontras jejeran barisan sebuah taklim pekanan. Tak apa, daripada hanya berdiri melihatmu di pinggir jalan, tanpa dapat apa-apa!

Inilah tujuan hidup, ketika kuputuskan membuang atribut anak bandku, dan melempar jauh bayanganmu. Bermetamorfosis sebagai kupu-kupu, muslimah sempurna wujudnya, meski butuh penataan hatinya. Ahh, ada kesejukan, dengan wujud baruku, aktif di kegiatan kampus, membuatmu mulai kulupakan perlahan-lahan. Aku tak lagi berdiri di pinggir jalan seberang lapangan untuk mengawasimu, sia-sia!  Tak banyak yang mengenali wujud baruku, namun tak sedikit pula yang memicingkan mata, “Tak salah,Ly?” Aku menggeleng mantap.

Lama tak tahu kabarmu, lama sekali, hingga masuk tahun ketiga di dunia perkuliahan. Sampai sebuah aksi mahasiswa mempertemukan kita, di atas podium nampak kau berorasi, bergantian mengutuk invasi yahudi ke Palestina.. pandanganku tak mampu kutundukkan, “Itu kamu!” Pekik hatiku. Sedikit perubahan wujud juga rupanya. Lebih gagah, lebih bersih bercahaya. Berharap kaupun sama denganku, tidak menyia-nyiakan sisa hidup kita, yang memang masih muda, tapi tak layak disia-siakan. Bukankah kelak ada sebuah pertanggungjawaban untuk itu. Perlahan aku keluar barisan, berusaha menepi, sebelum hatiku berubah merah jambu lagi. Kurasa harus kuperkuat hubunganku dengan Sang Pemberi Hidayah..sebelum aku hampir rapuh.

@Cheitumminyafardais

Jakarta, 28 November 2011 Utang cerita bertahun yang lalu untuk seorang ukhty🙂 lunas terbayar, yang empunya mungkin sudah lupa

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s