INGIN RASANYA KUPINANG KAU

image

Ingin rasanya kupinang kau, dengan mahar koin emas berkilo-kilo…menandakan keseriusan dan penghargaanku padamu. Tapi, kau tahu berjuta-juta saudara kita didera kemiskinan. Jangankan bicara koin emas, secuilpun mereka tak punya, mungkin pula tak pernah rasa di jemari-jemari mereka. 

Ketika rasanya ingin kupinang kau, berangan berpesta meriah, semeriah pembukaan SEA GAMES, mengundang para politisi senayan atau pejabat kelas atas, tak terbayang hadiah pernikahan mereka untuk kita. Bukan karena aku anak bapakku, tapi murni karena kita.

Ingin rasanya kupinang kau, dengan menyembelih berbagai binatang seperti sapi,kambing,kuda,ayam…ahh…pasti ramainya melebihi hari raya kurban. Tapi, tahukah kau, saudara-saudara kita banyak yang kelaparan hingga harus tak makan tiga hari, atau mencari sisa makanan sambil mengais sampah di pembuangan. Maka tegakah kita?

Ingin kupinang kau rasanya, dan berencana tentang keluarga bahagia, anak-anak yang sehat, yang punya dua ibu susu, kau dan sapi. Hingga ketika kau lelah menyusui, kita bisa menggantinya dengan susu bubuk dari sapi yang kaya vitamin, mineral dan zat besi, mengandung DHA untuk perkembangan otak anak kita…tentu saja yang harganya paling mahal. Tapi, kulihat di telivisi, seorang bayi harus mau meminum kopi dari botolnya, atau air teh, bukan susu, kata ibunya keterbatasan biaya. Oh! Sedihnya!

Ingin rasanya segera meminangmu, dan kita akan berfoto prawedding, berpelukan, saling gendong-menggendong, kecup mengecup, lalu di  tayangkan di setiap stasiun televisi, kita buat pasangan yang belum menikah terkesima, berujung iri, dengki, hingga mulai bertanya-tanya berapa milyar yang kita habiskan hanya untuk pesta pernikahan kita. Kita buat seluruh manusia merasakan eforia kebahagiaan kita, gegap gempita, bebas merdeka! Hingga meliburkan beberapa sekolah di sekitar tempat pesta kita, untuk menghormati dan merasakan kebahagiaan kita.

Jadi, berapa milyar? Sedang beberapa sekolah madrasah tinggal puing tak punya biaya untuk merenovasi, beberapa anak harus meniti tali bak seorang pesirkus untuk ke sekolah tanpa ada fasilitas jembatan dari desa mereka ke sekolah. Prihatin!

Ingin rasanya kupinang kau, tapi, kau telah menolakku sebelum benar-benar kupinang, kau bilang aku terlalu berangan-angan, bungaku pun kau lempar di wajahku, kau bilang ini yang ke sembilan puluh tiga kali aku berucap, “hanya ingin rasanya meminang”…sambil menyuruhku pergi…Maka kuputuskan kembali masuk barisan mahasiswa, meneriakkan sebuah protes yang entah untuk siapa.

@cheitumminyafardais

Jakarta, 25 November 2011
Cuma cerita, bukan kritisi :p

12 comments

  1. seperti yang saya duga… pasti endingnya akan ada kejutan heeheheeh..

    ada yang bilang laki laki boleh memilih dan perempuan boleh menolak..

    satu lagi perempuan katanya butuh kepastian..

    wah lama tak berkunjung.. jadinya ketinggalan banyak tulisan.

    salam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s