BERHENTI MEMIKIRKANMU

Sore itu aku duduk di depan jendela, menonton bulir hujan di kaca yang mengalir berkejar-kejaran. Sambil sesekali menyeruput kopi tubruk buatanku sendiri. Mendadak aku memikirkanmu ! Yah, kamu!

Masih ingat?Hujan-hujan biasanya aku datang menjemputmu sepulang les, dengan bersepeda. Kutawarkan sepedaku, dan kau pun naik dan mengayuh kencang, aku cuma berlari di belakangmu, kehujanan. Awalnya disuruh ibuku, selanjutnya aku sok pahlawan. Tanpa berani sedikitpun membonceng apalagi menyentuhmu.

Kupandangi gelas kopiku, kukitari uap panas di dinding gelas dengan jariku. Ini gelas pemberianmu. Kukira awalnya kau simpatik padaku, namun bukan begitu maksudmu. Kau bilang, “Sudah terlalu banyak gelas seperti ini di rumah, buat kamu saja.” Lalu kau menutupkan pintu dari dalam rumah, memang tak baik berduaan di dalam rumahmu ketika tidak ada siapapun di rumah itu.

Tiba-tiba saja aku rindu kekakuan hubungan kita. Ketika kau bersusah payah melompat-lompat di bawah pohon mangga, dengan sigap ku melompat untukmu, dan memanjat pohon mengambilkanmu mangga, tanpa tunggu perintahmu. Padahal kau hanya, ingin menangkap kupu-kupu yang hinggap di bunga anggrek yang menempel di pohon mangga.Atau dikeroyok anak-anak tetangga yang sering menggodamu, karena menghalau mereka. Kau tak berterimakasih, hanya meninggalkan obat merah dan perban di depan pintu rumah. Aku pun tersenyum dan mengobati sendiri. Juga rindu senyum malumu, ketika melihatku ditegur ayahmu karena menyiram seember air ke tubuhnya yang seharusnya untuk cuci mobil ayahmu..gara-gara kagum melihatmu pertama kali berjilbab.

Rasanya sudah belasan tahun yang lalu, aku tak pernah henti memikirkanmu. Sejak ikut ibu pulang kampung, dan tak pernah kembali lagi karena ibu yang memilih jadi TKW, ketimbang bekerja di tempatmu.Pasti kau sudah jauh lebih dewasa, ahh..tak baik memikirkanmu terus yang belum tentu memikirkanku.. hubungan kita memang hanya sebatas majikan dan anak pembantu, tak lebih! Maka kupendekkan anganku, sebelum syaithon memanjangkannya. Mungkin lebih baik aku berhenti saja, karena hujan pun telah usai.

@cheitumminyafardais
Jakarta, 15 11 2011

8 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s