PESANTREN BUKAN TEMPAT PEMBUANGAN ANAK

Hari itu kedua kalinya saya bercakap-cakap dengan sang ibu. Keinginannya masih sama, menyantrikan putri sulungnya selepas TK. Hal yang membuat saya sangat sedih. Selain masih terlalu muda, rasanya tak baik bagi perkembangan psikologis sang anak kelak, belum lagi kedekatannya dengan orangtua,yang akan terenggut di pesantren. Alasan pertama, ia bilang ingin anaknya hafidzah di usia muda, ia mengakui kelemahannya dalam hal agama, hingga hendak menyerahkan pengasuhan dan pendidikan di pesantren. Kedua, ingin anaknya mandiri…nih, dia tipikal ortu yang tak ingin susah-susah mendidik anaknya.

Ibu kedua lain cerita lagi, sang anak yang duduk di bangku SMP, hendak ia masukkan ke pesantren karena putus asa dengan prestasinya yang selalu jeblok dan tinggal kelas. “Malu saya,mi!” Katanya pada saya. Akhirnya pesantren jadi jalan keluar untuk anaknya.

Tidak ada yang salah dengan pesantren sejak kemunculannya berabad yang lalu. Bahkan sekarang jadi alternatif sekolah dan dikemas modern dan sedikit ekslusif yang disebut “boardingschool”. Yang salah sekali lagi, niat dan persepsi orang tuanya terhadap pesantren. Jangan jadikan pesantren tempat “pembuangan” anak, dengan alasan di luar mereka nakal, narkoba, atau bodoh. Karena tidak jarang mereka yang dimasukkan pesantren karena berulah di luar justru malah tidak menyelesaikan masalah ketika pesantren itu tidak cocok dengan jiwa mereka yang terlanjur liar. Saya pun tak menyalahkan orangtua yang mengirim anak mereka ke pesantren supaya menjadi pribadi mandiri, generasi rabbani, penghafal quran, atau keistimewaan lainnya yang kedengarannya sunggu ideal. Seorang ibu Imam Syafi’i pun mengirim anaknya berguru pada ulama besar lain untuk mendapat ilmu, tapi sebelumnya ia membangun kedekatan dengan anaknya,mendidik dan mengajarinya ilmu agama, entah berapa pelepah kurma dan tulang yang dipakai menulis hadist-hadist Nabi oleh Imam Syafi’i di rumahnya yang kemudian memenuhi tempayan ibunya. Kemudian ketika usia Imam Syafi’i cukup matang ia pun melepaskan anaknya mengembara mencari majelis ilmu di berbagai kota, dengan bekal doa, bukan dengan memaksa.

Lalu, saya pun mengkhawatirkan diri saya dan para orangtua lainnya, ketika diminta pertanggungjawaban atas hak dan kewajiban kita terhadap anak kita yang bukan sekedar materi… di hadapan-Nya. Bukan sekedar mohon ampun bukan?

@Cheitumminyafardais
Jakarta, 14 11 2011

8 comments

  1. Pernah ka ikut training, pembicaranya membahas seorg ayah yg memaksa anaknya masuk pesantren selepas smp, padahal anak satu2. Ibunya nda mau ji tp dengan agama akhirnya si anak hidup di pesantren. Apa yg terjadi, si anak nda mau mi pulang,walopun awalnya dia menolak, tp lama2 dia lebih suka semua yg ada di pesantren karena kalo liburan dia pulang ke rumahnya nda ada yg bisa na dapat selain ortunya yg menurutnya nda bisa berikan pelajaran yg berarti dengan kata lain dia nda butuh mi ortunya yg nda bisa kasih apa2. Allahu a’lam…

  2. Hmm,, terasa ya mba,, Banyak orang tua “kagetan” yang terkaget kaget harus belajar ketika sudah Alloh titipkan anak dalam asuhannya,, Bahkan yang miris lagi kekagetannya itu tidak lantas membuat menjadi bergegas belajar tapi malah mencari jalan untuk melepas tanggung jawabnya,,
    Padahal ketika para orang tua sadar bahwa mereka tidak bisa hanya meitipkan tanggung jawab dan memilih untuk “Belajar Menjadi Orang Tua”, insyaalloh Alloh akan bukakan pintu belajar seluas luasnya untuk orang tua dan untuk anak anak mereka,,
    Semoga Alloh mudahkan kita meneladani bunda Imam Syafi’i dalam menyiapkan anak anak kita menjadi pembelajar yang tunduk pada Alloh,, aamiin,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s