MENEMUKAN MINAT ANAK part 2

Di saat saya sedang sungguh mati penasaran dengan minat dua jundullah kecil kami, Allah mengarahkan langkah kaki kami bertemu seorang ibu, secara tidak sengaja ketika mengantar Faris dan Dais ikutan acaranya Klub oase ….yang dari sang ibu terpercik sebuah pelajaran berarti yang tak layak jika saya simpan sendiri.

Singkat cerita, sang ibu sharing  kepada orang tua tentang anak gadis 15 tahunnya yang punya bakat bikin film. Bahkan karya sang gadis telah mengikuti berbagai festival salah satunya adalah sebuah festival film indie yang disponsori oleh sebuah perusahaan rokok, dan ia menjadi peserta paling muda namun sayang, pada tahap nominasi, didiskualifikasi atas permintaan sponsor dengan alasan terlalu muda. Di usianya yang masih muda, ia sudah menerima orderan dari perusahaan-perusahaan baik itu untuk company profile,documenter, film pendek dan lainnya, bahkan ia pencetus ekskul cinematografi di sebuah SMU di Jakarta dan ia sebagai pengajarnya padahal ia masih berstatus sebagai pelajar  SMP. Akhirnya, si gadis memutuskan mengundurkan diri dari sekolah karena jadwal sekolah yang berbentrokan dengan pekerjaan, dan memilih homeschooling dan ikut ujian paket B, dan kemudian lulus. Alhamdulillah ia punya ibu yang mendukung full, ditengah sesalan dari pihak sekolah dan para orangtua, demi mengembangkan minat bakat sang anak.

Sang ibu pun berbagi tips di akhir cerita yang membuat kami semua para ibu-ibu terkagum-kagum dengan prestasi sang anak. Sewaktu anaknya berada pada masa “golden ages” alias balita, sang ibu tidak pernah mau mengajarkan alphabet, “Ada kok, saatnya mereka bisa diajarkan angka dan huruf.” Kata sang Ibu. Lalu beliau mengatakan bahwa ketika anaknya berusia balita, beliau  hanya memberi sebuah kertas kosong dan menstimulasi sang anak….mungkin sambil berkata…bim salabim jadi apa prok..prok…eh..lebay saya kumat…maap…kalo yang ini karangan saya saja…Sang Ibu memberi kertas kosong dan membiarkan si anak berkreatifitas di sana. Walhasil, sang anak menjadi satu-satunya yang tak bisa baca tulis ketika duduk di kelas satu SD. Tapi, punya kreatifitas tinggi ketika remaja, bahkan produktif dan sudah berpenghasilan sendiri di usia belia, usia 15 tahun, masa dimana remaja seusia itu sibuk pacaran, bbm-an, gaul,  kongkow-kongkow, hemh…

Akhirnya sang ibu menutup acara sharingnya pada kami dengan mengatakan bakat anak adalah seperti mutiara ketika ia muncul maka segera ambil sebelum ia hilang lagi, karena kita tak tahu kapan ia akan muncul lagi.

@cheitumminyafardais

Jakarta, 24 10 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s