TERNYATA KU CINTA DIA

Aku bilang aku tak suka anak-anak. Tawanya, tangisnya apa lagi. Dan pagi ini istriku memberitahuku sebuah kabar yang membuat matanya berbinar-binar, dan senyumnya merekah selalu. Ia positif hamil!…Aku terkejut, dan pingsan!

Tidak, entah apa yang terjadi denganku…disaat istriku melenggang kesana kemari seperti kupu-kupu, aku hanya terbaring lemah di atas kasur. Kata istriku, aku terserang “ngidam” hingga pagi hari aku mulai “morning sick”…Kenapa harus aku!? Istriku menggodaku, “Itu menunjukkan kau belum siap jadi,ayah.” Seperti lelaki yang lain, yang tak suka jika keahliannya diremehkan, meski memang ku akui aku tak suka anak-anak! Tapi, jangan katakan aku tak siap!

Memang ada sedikit trauma dari seorang anak kecil, ia adalah tetanggaku yang saban hari mengetuk jendela kamarku hanya untuk membawakanku hewan-hewan menjijikkan macam kodok, kecoak, cicak, kadal, dan kucing angoranya…tanpa rasa bersalah, dan tertawa pun tidak, ketika aku teriak ketakutan…ia hanya penasaran, hewan apa yang tidak membuatku takut! Aku yang aneh apa dia?

Sembilan bulan….lebih sedikit, ia membuatku dilanda cemas berlebihan, sedang ia asyik berselonjor kaki sambil membaca majalah kesukaannya sambil makan es krim dan aku kurus kering tak bisa makan yang menggiurkan. Hanya satu yang kusukai, ketika istriku mulai bertilawah, sejuk rasanya, merdu suaranya…ahh…pasti si bayiku di perutnya pun merasa demikian. Bayiku?Tidak aku tak suka anak kecil!

Lewat tengah malam, istriku mulai merasa sakit luar biasa…akupun ikut merasakan, ia mengerang kesakitan, aku panik! Ketika ia mengaduh, aku bertakbir!…Kacau dan ramai rasanya hatiku, kubopong ke mobil kubawa ke rumah sakit terdekat. Menyusuri bangsal dengan kereta dorong sambil terus bertakbir mengikuti istriku yang mengaduh, memekik sunyi malam.

Menjelang shubuh, tangis bayi itu pecah,bersamaan adzan berkumandang….Ada rasa yang aneh tiba-tiba menyelinap, kecemasanku belum berakhir, aku takut tidak bisa mencintainya. Sang suster menggendongkannya untukku, “Silahkan, diadzani..” Kupandangi ia, tangisnya mulai.mereda, mulutnya membulat lalu menguap kecil,jari-jari mungilnya menggenggam jariku, lalu sesungging senyum ia hadiahkan untukku. Bayi lelaki. Rasanya aku mulai mencintainya.

@cheitumminyafardais
Jakarta,menjelang tengah malam
25 10  2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s