MAAF!

Dia baru menghubungiku lagi, setelah dua tahun meninggalkan tanpa kabar yang jelas. Ia hanya mintaku menunggunya. Tanpa batas waktu. Dan sekarang ia bercerita seolah aku masih menunggunya tanpa tanya, tanpa resah, atau tanpa harap.

Terus saja ia bercerita tentang pekerjaannya, tentang rumah yang baru selesai dibangun, tentang mobil mewah keluaran terbaru yang baru ia beli, tentang kesibukannya setiap sabtu minggu, setiap sakit yang menyerangnya ketika ia terlalu sering lembur, tentang ubannya yang tumbuh sedikit demi sedikit….terakhir, ia mulai menceritakan kegalauannya ketika mengingatku, membayangkanku, dan ia selalu akhiri untuk sebuah doa bagiku. Lalu ia bilang, “Besok aku akan pulang dari rantau, kau masih menungguku,kan?” Aku diam, tak menjawab,….hanya desah nafasku yang terdengar…dan denyut jantung yang menderu…seketika ratusan kartu undangan  berwarna merah muda yang baru saja ku ambil dipercetakan,  dari tanganku berjatuhan di lantai. Maaf!

Jakarta,26 10 2011
@cheitumminyafardais

4 comments

  1. wah. ini cerita sering terjadi di dunia nyata.
    tapi penggambaran dalam cerita ini tidak lah biasa.
    ceritanya jadi tidak membosankan.
    ini mungkin karena penggunaan kata katanya sungguh pas.
    dan selalu ada kejutan kejutan…

    mantap nih mbak…
    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s