DINDING YANG BERBICARA

image

Beberapa bulan hidup menempel pada dinding rumah mereka memang tak nyaman. Satu dinding, yang saban hari bercerita kepada kami. Di hari yang lain dinding itu bertelinga untuk mencuri dengar apa yang terjadi di rumah kami, untuk sekedar tertawa karena tahu kami sedang kelaparan.

Hari ini, dinding itu bercerita pada kami, ada pertengkaran di sana, saling maki..kemudian hening..Siangnya, ada tangis anak kecil memohon ampun bergantian dengan omelan dan bunyi pukulan benda, entah apa..lalu yang tersisa hanya isak tangis anak kecil..

Aku tak ingin mencari tahu meski kadang digoda rasa ingin tahu. Mereka memang keluarga kaya yang selalu bisa tersenyum di saat tetangga seperti kami kelaparan. Aroma masakan dan makanan enak pun kadang hanya menyapa hidung kami tanpa sedikit pun dapat tercicipi lidah kami..dan kami hanya mampu menelan liur kami kembali sembari berkhayal wujudnya. Hanya telinga kami yang selalu disuguhi cerita dari balik dinding tempat kami menempel.

Berapa kali kuminta suamiku untuk mencari dinding rumah lain untuk kami menempelkan gubuk reyot kami, tapi kata suamiku tidak ada lagi tanah kosong. Kami memang keluarga miskin sangat..dan memang kemiskinan dekat pada kekufuran, tapi tidak untuk kami, karena kami masih punya iman dan itu sudah cukup bagi kami…dan tak pernah sekalipun ada pertengkaran yang mampu mereka dengar dari balik dinding mereka, bahkan tak pernah sekalipun kulit anak kami tersentuh benda apapun ketika kami marah hingga membuatnya jejeritan minta ampun.Tidak pernah!

Dan dinding itu kembali bercerita, kali ini suara anak kecil yang selalu menangis, ketika tengah malam. Kadang kami mengetuk-ngetuk untuk mendiamkannya…ia diam sebentar dan menangis lagi. Begitu setiap malam…kami terganggu sekaligus terenyuh.
Kami tak tega mendengar tangisan menyayat hati. Tak tahan! Maka esoknya kukeluhkan gejolak hati kami pada tukang sayur sumber informasi terakurat di daerah sini. Mang Ujang, si tukang sayur menjawab, ” Mba’ ini gimana toh sebagai tetangga, masa gak tau kabar beritanya…bukannya mereka sekeluarga sudah pindah sebulan yang lalu. Katanya tak tahan…rumahnya angker….Kalo malam suka ada suara anak nangis di kamar kosong di sudut belakang sana.” Mang Ujang mengarahkan telunjuknya ke arah sudut belakang rumah yang dindingnya berbatasan dengan gubuk kami… Dan untuk kesekian kalinya iman kami diuji lagi…

@cheitumminyafardais
Belajar horror….
Jakarta, 11 10 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s