KETIKA SORE BELUM SENJA

Sore belum senja,ketika ku minta pak bowo,supir kami memutar balik kendaraan pulang.Terpaksa semua agenda meeting kantor sore ini ku tunda dulu sementara, sebuah berita tv menayangkan tawuran anak sekolah SMU,dan aku harus pulang memastikan anakku Rangga tak terlibat. Semoga saja ketika tawuran berlangsung ia tak di sana,tapi duduk di sofa kamarnya menonton film mafia-mafia kesukaannya, atau internetan,itu lebih baik..Ini sudah biasa kulakukan,aku harus memastikan ia baik-baik saja,atau karirku akan berakhir di tangan suamiku ketika ia pulang dari luar negeri,karena menganggapku tak bisa menyeimbangkan karir dan mendidik anak selagi ia di luar negeri.

Tawuran anak-anak SMU di TV tadi benar-benar menyeramkan…dua tewas karena luka tembak, puluhan luka-luka. Benar-benar brutal anak-anak itu, dimana pula mereka mendapatkan pistol?!. Untungnya aku tak pernah mendapat kabar dari siapapun kalau Rangga pernah terlibat perkelahian atau tawuran sedikitpun. Aku percaya Rangga,tapi hari ini aku hanya ingin memastikan.
Sampai di gerbang rumah,aku disambut mbok siyem.Kucecar ia dengan pertanyaan,Rangga pulang sekolah jam berapa,apa yang ia lakukan,bla bla bla. Ternyata ia pulang lebih awal,aku tenang.Kutuju kamarnya,dia sedang sibuk menerima telpon dari temannya sepertinya,tapi cepat-cepat dimatikan ketika melihatku.

“Mama senang kamu di rumah.”

Dia hanya tersenyum kecut, sambil berkata, “Tumben mama pulang sore..?”

Yah, memang biasanya aku pulang selepas senja..ketika semua penghuni rumah telah tertidur. Aku cuma tersenyum, lalu bergegas meninggalkan dia,mengejar meeting yang tertunda. Baru pintu kubuka,di depan berdiri dua pria berbadan tegap mengaku polisi.

“Anda orang tua,Rangga?Rangga harus ikut kami ke kantor,ia diduga terlibat dalam tawuran pelajar tadi siang yang menyebabkan 2 orang tewas.”

“Lho,anak saya sudah di rumah ketika tawuran terjadi,pak.” Tukasku sengit.

“Yah,memang, menurut keterangan senjata yang dipakai menembak seorang pelajar berasal dari anak anda.”

Tak masuk akalku,hingga tak mampu lagi ku berpikir,badanku terasa ringan, yang terlintas hanyalah mungkin tak hanya karirku yang berakhir,tapi juga pernikahanku dengan suamiku.

@cheitumminyafardais
Makassar, 23 september 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s