SURAT ANAKKU UNTUK ANAK PALESTINA

detikFoto:Anak-anak Palestina kutuk IsraelAku menatap sebuah surat dalam genggamanku. Ku tarik nafasku panjang. Ku buka sebuah kardus tempat ku letakkan surat-surat sebelumnya. Ini sudah surat yang ke- 150…..Hatiku berdecak kagum, sekaligus haru…anakku begitu terobsesi dengan anak-anak di Palestina. Sejak ia berumur 4 tahun, bahkan waktu itu ia belum begitu mengerti merangkai sebuah kata, maka ia membuat sebuah gambar berisikan anak-anak berlarian membawa sebuah bendera Palestina, ketika ku tanya gambar apa itu, ia menjawab sepolos wajahnya,” Itu gambar anak-anak di Palestina, Mi..mereka sedang berlari di kejar tentara Israel, tapi Allah telah menurunkan tangga untuk mereka naik ke Syurga…”Katanya sambil menunjukkan sebuah gambar tangga yang menuju ke langit. Belum sempat pujianku keluar, anakku berkata lagi, “Tolong dikirimkan untuk teman-temanku di Palestina ya, Mi..” Aku mengangguk sambil menyunggingkan senyum, air mataku tertahan di pelupuk saja..Haru. Dan ia selalu meminta aku untuk mengirimkannya, walaupun tak pernah sekalipun ku kirimkan. Hanya ku kumpulkan dalam sebuah kardus.

Tak terasa usianya menginjak 17 tahun, ia menjelma menjadi pemuda tangguh. Badannya tegap,kuperhatikan ada beberapa lembar bulu halus di dagunya…ahh, sudah dewasa rupanya ia. Terkadang aku sering kerepotan mengangkat deringan telepon yang menanyakan keberadaaan putraku itu, dari gadis-gadis centil di seberang sana. Terpaksa pula aku harus berbohong ketika ada gadis usia tanggung yang mencarinya di rumah, yang tak jelas keperluannya. Aku sedikit tersenyum sambil memperhatikan putraku yang khusyuk bertilawah…merdunya suaranya…Alhamdulillah, ia masih terjaga menjadi pemuda sholeh, mudah-mudahan sepanjang hidupnya tetap terjaga…

Tiba-tiba aku tersentak, sudah hampir 3 tahun tidak pernah ada lagi surat untuk anak-anak Palestina yang dibuat putraku. Aku mulai bertanya-tanya…bisa-bisanya tak kusadari..ataukah sebab aku terlalu terfokus dengan perkembangannya yang menginjak dewasa. Cepat-cepat ku buka lemari tempat surat-surat itu tersimpan. Tanggal terakhir surat ia buat, 31 Mei 2008…benar, 3 tahun lalu. Aku ingin bertanya, tapi, nampaknya anakku sudah terlelap…kuusap-usap kepalanya, sambil mengucap untaian doa indah untuknya….

Suatu pagi, di meja makan, sebelum ia berangkat ke sekolah, kutanyakan perihal mengapa tak ada lagi surat-surat untuk anak-anak Palestina yang ia buat..

“Karena, Ummi tak pernah mengirimkan surat-suratku, satupun.” Nada suara datar nan dingin itu mengagetkanku.

“Bukan maksud Ummi, nak…bukan…” Aku membela diri dari rasa bersalah yang menyergapku.

“Bertahun-tahun Ummi membohongiku.”

“Bukan….bukan maksud Ummi, Nak..” Lagi-lagi aku hanya mampu mengulangi kalimat pembelaan yang sama. Karena ego ku memintaku menyimpan saja surat indahmu di lemari, Nak. Kali ini batinku yang berkata.

“Sudahlah, tak apa, Mi…simpan saja dulu, semoga suatu saat aku bisa mengantarkannya sendiri ke sana. Pergi dulu, Mi..” Diraihnya tanganku untuk dijabat dan diciumnya. Rasa bersalah kembali menyergap. Meskipun ia pergi dengan senyum.

Berhari-hari,berminggu-minggu,berbulan-bulan…bahkan bertahun-tahun, tak pernah lagi ia bahas tentang surat-surat untuk anak-anak Palestina-nya. Ku pikir ia sudah lupa. Hingga suatu hari, sehabis sholat isya tepat di umurnya yang ke 23 tahun, anakku itu menghampiriku, bersimpuh di hadapanku…

“Ummi, ada yang ingin ananda sampaikan..”

“Ada apa, nak?”

“Tentang keberangkatan ananda ke Palestina, semua sudah ananda urus, minggu depan, ananda akan ikut rombongan relawan kemanusiaan ke Gaza, Ummi. Ananda mohon restu..” Aku, seperti tersengat listrik, terlalu mendadak…ah, apa ini semua salahku yang telah mendoktrin pikirannya dengan kecintaan terhadap anak-anak Palestina sejak ia masih bayi. Aku memang ingin kelak seperti shahabiyyah khansa, yang rela anak-anaknya syahid, bahkan menyemangati mereka untuk pergi berjihad..tapi, keinginan itu surut, ketika dokter memvonis bahwa aku tak bisa punya anak lagi..karena sebuah kista di rahimku dan mengharuskannya diangkat. Aku terdiam….lama….terlalu lama…dan anakku masih bersimpuh di hadapanku. Ku suruh ia masuk kamar, aku belum bisa memberinya restu, egoku tarik menarik..tapi, aku menjanjikannya, jawabannya besok pagi.

Di atas sajadah hijau, tangisku tak mampu ku bendung, perlahan-lahan aku sadar bahwa, ia memang bukan milikku, ia milik-Mu, Ya Allah, aku hanya Engkau titipi….tapi, rasanya berat merestui putra semata wayangku ke tanah para anbiya itu. Aku tahu ia mempunyai watak keras persis seperti almarhum abinya..dan tak ada yang bisa menghalangi niatnya ke Palestina…sama seperti  abinya yang juga syahid oleh tentara Israel di sana. Aku kemudian bersujud panjang di akhir, berharap ada petunjuk dari-Nya, juga kekuatan hati.

Pagi yang cerah, putraku sudah menungguku di meja makan. Aku tahu ia sedang berharap-harap cemas menanti jawabanku.

“Bagaimana, Mi? Ananda boleh pergi?..” Aku tak berani menatap wajah putraku untuk sementara,…aku hanya diam lama, terlalu lama..lantas kemudian akhirnya kutatap juga wajahnya yang putih bersih, tampan…sambil mengangguk, berusaha tegar.

“Yah…, kau boleh pergi, nak. Semoga Allah masih mengijinkan kita untuk bertemu lagi.” Ia langsung menghambur memelukku. Di benakku berkeliaran wajah-wajah anak-anak Palestina yang polos, mereka pasti akan sangat senang kalau menerima surat-surat anakku. Dan hatiku pun semakin mantap.

@cheitumminyafardais

Makassar,16 september 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s