DI BALIK KEUSILAN MEREKA

Saya kebingungan ketika anak saya paling kecil Dais (3 thn 11 bulan) sering berulah ketika melihat saya mengobrol dengan teman , ibu-ibu di sekolah atau bahkan dengan kepala sekolah di ruang kepala sekolah. Dia selalu kelihatan tak senang ketika perhatian umminya beralih ke yang lain. Terkadang ia nangis menjerit-jerit sambil memukul atau menarik-narik  jilbab saya. Sudah saya coba menawarkan  untuk bersekolah di tempat kakaknya,  tapi ia menolak,” aku sekolahnya sama ummi saja di rumah”..OK, saya turuti kemauannya, mengingat ia berkarakter keras, tak mau didikte, dan cenderung breaking a rules. Setiap anak memiliki karakter yang  unik, sang kakak Faris cenderung senang bersosialisasi dengan sebayanya, suka keteraturan, dan sensitif alias perasa… Sewaktu Faris belum ber TK pun ia tak jauh beda, ia jadi kolokan ketika datang teman saya berkunjung, dan ia akan menyibukkan saya dengan permintaan-permintaan yang tidak jelas.

Kembali ke kebingungan saya semula..,akhirnya saya menemukan cerita menarik di sebuah buku Petunjuk Bagi Orang Tua, Menciptakan Anak-Anak Bahagia, karya Steve Biddulph.  Sepasang suami istri datang membawa anak-anak  mereka ke psikolog dan mengadukan kelakuan anak mereka yang suka berulah  dengan berkelahi dan membuat kegaduhan ketika orang tua mereka kedatangan tamu di rumah, dan mereka merasa malu dengan tingkah anak-anak mereka di hadapan tamu.  Padahal segala fasillitas untuk menyenangkan sang anak sudah disiapkan di rumah itu. Maka, didatangkanlah beberapa psikolog ke rumah mereka untuk meneliti apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian diadakan persiapan, kebetulan sebentar lagi akan diadakan pesta, sang psikolog dibagi dua kelompok, satu berada di ruang pesta dan satunya lagi berada di ruang main anak-anak. Selang berapa lama kemudian, tepat pesta dimulai, sang anak mulai berulah, mereka berlaku seolah-olah sedang bertengkar, seperti sedang akting, lengkap dengan suara-suara gaduh yang  mereka ciptakan. Seperti perintah sang psikolog, sang ayah berlaku seperti keseharian ketika anaknya mulai berulah, ia menuju tempat bermain anak dan mulai memaki anak-anak mereka…dan mari tebak respon sang anak…mereka tersenyum manis..seperti Monalisa. Dan bisa ditebak pula, sang Ayah malah tambah marah, karena senyum sang anak yang dianggap kurang ajar. Akhirnya, para psikolog menangkap rahasia senyum anak-anak, kemudian menyimpulkan bahwa : Anda terlalu sibuk dengan kehidupan sosial Anda; anak-anak itu membutuhkan lebih banyak perhatian, dan mereka sangat menyenangi ayahnya dan salah satu cara supaya ayahnya memperhatikan mereka adalah dengan “berkelahi” dan mereka senang Ayahnya merespon.

Apakah saya terlalu banyak bercerita?kalau begitu mari kita simpulkan. Mengapa anak kita berlaku usil ketika kita sedang mengobrol dengan teman atau  sedang kedatangan tamu di rumah?

  1. Karena merasa jemu. Terkadang saya terlalu lama bercerita dengan ibu-ibu yang lain, sampai lupa atau tak mempersiapkan  sesuatu yang bisa membuatnya betah menunggu sang ummi kelar  ngobrolnya, seperti cemilan kecil, mainan, atau mendatangkan  teman bermain..
  2. Merasa tidak diperlukan. Luangkan waktu sebentar untuk memberikan perhatian, mendengarkan keinginannya, …saya bahkan meminta izin padanya bolehkah saya melanjutkan obrolan saya dengan kepala sekolah atau guru kakaknya, kalau ia ijinkan saya lanjut tapi jika tidak terpaksa saya minta maaf kepada lawan bicara saya. Jangan ragu memberikan mereka hadiah kecil ketika mereka mau diajak bekerja sama, tapi juga jangan keseringan, takut mereka jadi memanfaatkan moment itu untuk mendapatkan yang mereka mau.
  3. Karena mereka merasa dengan berbuat usil maka mereka akan diperhatikan. Anak dengan pikiran ajaib kreatif mereka, yang kadang tak tertangkap maksudnya oleh orangtua mereka, atau kadang seperti saya, yang tahu kalau mereka butuh diperhatikan, tapi tak berbuat banyak sehingga semakin menjadi-jadi  berharap akan diperhatikan seutuhnya.

 

Akhirul qalam, Saya bukan psikolog, hanya ibu kemarin sore yang sembari belajar cara tepat mendidik anak..terkadang belajar dari kesalahan, referensi, buku-buku, atau pengalaman dari orang lain;) Tak perlu menyewa psikolog karena orang tua adalah lebih dari psikolog untuk anak mereka…Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai pengingat buat saya, referensi buat siapa saja yang membacanya.

Daftar Pustaka: Biddulph Steve, Petunjuk Bagi Orang Tua, Menciptakan Anak-Anak Bahagia, Penerbit Mitra Utama, Jakarta, 2001

Jakarta, 20 Juli 2011, lagi semangat-semangatnya menulis…:)

@cheitumminyafardais

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s