TANYA YANG KE TUJUH

Di bawah senja, dua sejoli sedang menikmati es kelapa muda, dikawal nyanyian pengamen yang membawakan lagu ciptaan mereka sendiri berjudul “lamarlah aku”… Tampak sesekali senyum tipis dari bibir sang gadis…sang arjuna hanya kelihatan cuek sambil memainkan ujung sedotan es kelapa muda. Menginjak tujuh tahun masa berpacaran, rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hati sang gadis..Yah, sang arjuna tak pernah menampakkan tanda-tanda ia akan melamar sang gadis..bahkan untuk sekedar berucap janji manis.
“Jadi….???” Sang Gadis membuka percakapan dengan pertanyaan yang memang tak jelas awal dan akhirnya.”
“Apanya?”Jawab Sang Arjuna dingin.
“Tidak….”Sang Gadis mengurungkan niat untuk melanjutkan pertanyaannya. Tiba-tiba saja rambut gondrong sang arjunanya membuatnya menelan ludah, ia merasa bahwa rambut gondrong yang dikenalnya telah hampir tujuh tahun itu bisa berubah sangar, apalagi kalau ia mengeluarkan pertanyaan yang tidak-tidak…hehehe.
Akhirnya tanya itu benar-benar tak keluar dari bibir manis sang Gadis….mereka berdua pun kembali membisu, seolah menyilahkan sang pengamen menguasai suasana dengan lagu berikutnya….”mau di bawa kemana….hubungan kitaaaa…..uououo….”
*****
Ini kali ke dua…sang Gadis mendapatkan peluang kembali untuk mengeluarkan isi hatinya…yah ketika sang Arjuna menjemputnya sepulang kantor. Dan laju kendaraan mereka melintasi sebuah billboard besar bergambar iklan sebuah produk kecantikan yang memperlihatkan seorang lelaki memasangkan cincin di jari sang wanita.
“Kau lihat tidak?” Tanya sang Gadis berharap.
“Apa?”
“Iklan di billboard barusan?”
“Tidak.” Jawab sang Arjuna singkat.
“Ya sudah..” Jawaban sang Arjuna membuatnya sang Gadis tiba-tiba malas menjelaskan laporan pandangan matanya barusan….Lain kali saja kutanyakan mungkin belum saatnya…sang gadis mencoba menghibur diri.
*****
Kali ke tiga…peluang kembali didapatkan sang gadis..sambil memandangi undangan bersampul merah marun milik temannya yang diberikan padanya di kantin kantor tadi siang..undangan pernikahan…ini akan kujadikan pengantar pertanyaanku…ketika dia menjemputku sore.
“Ini….” Sang Gadis menyodorkan kartu undangan pernikahan temannya ke sang Arjuna.
“Ok, kuantar kau besok ke sana.” Sang Arjuna lantas menyimpan undangan itu dibalik jaketnya setelah melihat hari,tanggal, waktu dan tempatnya..dan siap-siap melajukan roda duanya, sang gadis pun segera naik boncengan….hei..kenapa tak ada tanya di sini..???!!
*****
Kali ke empat…sang Gadis sedang kumpul dengan teman-teman lajangnya….. yang menjadi topik hangat pembicaraan mereka, pria dan pernikahan…salah satu dari mereka berargumen, bahwa ia tidak akan segan-segan bertanya kapan pasangannya akan melamarnya…yah..untuk mengetahui seberapa serius laki-laki menjalin hubungan dengan wanita. Sang Gadis mengangguk-angguk…baiklah akan kucoba tanyakan..gumamnya dalam hati. Namun, baru saja ia ingin bertanya…sang Arjuna sudah menampakkan wajah kusutnya…dan sang Gadis tak mau mengganggunya…
*****
Kali ke lima…Ibu sang Gadis menelpon dari kampung dan menanyakan pertanyaan krusial….,
“Kapan kau akan menikah, nduk..dengan…siapa namanya?”
“Siapa, bu?”
“Lelaki yang saban hari rela mengantar dan menjemputmu itu.”
“Mas Arjuna?”
“Ya…Arjuna..kapan ia akan menikahimu?” Rasanya pertanyaan ini yang pas ketimbang pertanyaan pertama dari sang Ibu, pikir sang Gadis.
“Nanti kutanyakan padanya, Bu…”
“Haaa…tabu..nduk….tabu…rasanya tak pantas, perempuan bertanya seperti itu ke laki-laki..”
“Lantas, Bu…???” sang Gadis semakin tak mengerti, ibarat ibu yang melempar kail dan ibu sendiri yang menariknya kembali..(*perumpamaan yang kurang pas…hehehehe..penulis bingung nyari perumpamaannya)
“Kamu masih ingat teman kecil kamu, Jaka? Ayahnya kemarin datang ingin melamarkan anaknya ke kamu. Tau tidak, nduk…sekarang Jaka udah jadi orang sukses….pengusaha travel haji dan umroh, nduk…Malah sekarang ia sudah jadi ustad di kampung kita..saban hari ngajar ibu-ibu dan anak-anak ngaji….rasanya ibu…suka sama anak itu….”
Sang Gadis tak lagi memperhatikan kata-kata sang Ibu…pikirannya menerawang…Jaka…ia kenal sang Jaka….teman kecilnya yang santun….pikiran sang Gadis pun sejenak menari-nari…menembus dimensi lampau….tapi sayang…Jaka, teman kecilnya memang santun dan kharismatik..tapi…Sang Gadis tak cinta…
******
Kali ke enam…..Masih terngiang-ngiang dengan obrolannya di telpon dengan sang Ibu kemarin, sang Gadis memutuskan berkunjung ke studio kerja sang Arjuna….tak peduli anggapan sang Ibu tentang tabu untuk menanyakan hal itu…pokoknya hari ini tak boleh gagal…Sesampainya, Sang Arjuna sedang sibuk dengan proyek gambarnya..Lagi-lagi ia urungkan niatnya…
*****
Hingga suatu hari di sabtu sore, sang Arjuna datang ke rumah sang Gadis, dengan wajah berbinar-binar….dan seikat bunga di balik punggungnya….Sang Gadis merona…ketika bunga itu sampai ke tangannya…rupanya sang Arjuna baru saja menang tender proyek pembangunan gedung anggota dewan yang anggarannya milyaran rupiah..rasanya..ini saatnya tanya itu di pertanyakan…yah..membonceng di momen ini..
“Jadi,…kapan kau akan melamarku?” …tanya itu sukses mengalir dari bibir mungil sang Gadis, namun bagaikan anak panah bagi sang Arjuna..menancap tajam di hatinya…membuat mukanya merah padam….napasnya mulai naik turun…Sang Gadis kelimpungan…ia berusaha memutar kembali rekaman kata-kata yang baru saja ia ucapkan…rasanya tak ada yang salah….lalu kenapa Sang Arjuna marah??Dua tanyanya tak terjawab…sang Arjuna pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata…bahkan pamit sekalipun..Sang Gadis pun tak kalah emosinya..dilemparkan seikat bunga ke tong sampah…biar hubungan ini berakhir di tempat sampah!!!…Sontak ia teringat ceramah ustad jika kau sedang marah maka berwudhulah karena marah itu dari syaithon, syaithon itu terbuat dari api, dan api dapat dipadamkan oleh air…maka segera ia berwudhu….diambilnya mukenanya…menyongsong maghrib…ah..biar rasa ini ku tumpahkan saja pada Mu…dan mengalirlah bulir-bulir air matanya di pipinya yang mulus…bersamaan dengan lantunan ayat suci yang terucap lirih dari bibirnya..
*****
Sang Gadis menatap tiket kereta di tangannya…di stasiun kereta..ia berdiri menunggu kereta yang akan membawanya bertemu ibu …sehabis istikharah semalam…ia putuskan untuk menerima tawaran ibu menerima lamaran Jaka si pemuda santun, teman kecilnya…Mungkin ada hikmahnya..yah…sekian lama hatinya mendua….menduakan-Mu dengan makhluk-Mu…menduakan-Mu dengan nafsuku…hati sang Gadis tak henti-hentinya mengucap ampun padaNya..Kereta yang dinanti tiba…sang Gadis naik, dan kereta pun melaju…Di tempat lain, sang Arjuna sibuk berkeliling mencari sebuah cincin yang dia rasa pas melingkar di jari sang Gadis nanti ketika ia melamarnya…

@Jakarta, 11 Juli 2011
cheitumminyafardais

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s