TENTANG MIMPIKU SEMALAM

ibu hamil

Ku elus perut buncitku yang berisi bayi. Yah, bayi yang dinanti-nanti, rasaku mengatakan ia seorang bayi perempuan. Ketika kuelus ia lembut,ia menggeliat pelan dan menujukkan gerakan seolah-olah ingin berkata, aku rasakan sentuhanmu, ummi..bahkan pernah ia membentuk sebuah tonjolan, ketika ku raba ia seperti sebuah siku..

Pernah suatu hari, Suamiku bilang jika ia seorang perempuan ia akan memberinya nama Aisyah, supaya kelak ketika ia dewasa ia bisa seperti istri Rasulullah yang cerdas..Aisyah ra. Pernah juga, suamiku berkata, kalau ia seorang perempuan akan ia beri nama Fatimah, supaya ia menjadi wanita tabah, yang selalu menjaga kehormatannya, seperti putri Rasulullah Fatimah Az Zahra. Akupun tak kalah antusiasnya menyumbangkan buah pikiranku…aku suka nama Asma, biar ia jadi sosok yang berani dan kuat seperti Asma binti Abu Bakar yang dalam keadaan hamil tua mengantarkan makanan untuk ayahnya dan Rasulullah seorang diri, dalam persembunyian di gua Tsur untuk menghindari pengejaran kafir Quraish.. Ah.. begitu banyak nama dan harapan yang digantungkan ke pundaknya kelak..Mudah-mudahan tak membebaninya…kuelus-elus lagi kulit yang menjadi batas antara kami berdua, dan kali ini ia membentuk seperti jari!!Subhanallah!Pekikku kegirangan.

Selepas Shubuh hari, kubacakan untaian ayat untuknya..dan tanpa kusadari lantunanku membentuk gelombang kecil di otaknya, dan membuat bibirnya tersenyum…lantas bergerak lembut seolah-olah berkata, suaramu indah, ummi…Terkadang, kau menendang ku, ketika berkumandang adzan dan aku masih saja sibuk di depan laptop, menulis cerita..kau menyuruhku memenuhi panggilannya,nak?..kurasakan kau mengangguk menjawab pertanyaanku..Akhir sholat, kuangkat kedua tanganku, agar Allah menjagamu, menyehatkanmu hingga suatu saat kau siap menghadap bumi…dan lagi-lagi kau tersenyum..

Detik-detik penantianku….sehari lagi menurut perkiraan dokter…kutunggu….lewat sehari…seminggu….hampir mendekati dua minggu..ku elus-elus lembut lagi batas kehidupan kita…satu usapan..kau tak meresponku..tak seperti biasanya,pikirku…dua usapan….tiga….empat…lima….tak ada respon…aku panik…kuhubungi suamiku, untuk mengantarkanku ke dokter langganan kami…”Dengan sangat menyesal, Bu, Pak…bayi dalam kandungannya sudah meninggal terlilit tali pusar.” Aku menangis hebat, suamiku spontan berucap innalillahi wainna ilaihi rojiun…Kau tega, nak..meninggalkan ummi tanpa pamit…lirihku…Sedihku menghebat…mengalahkan sakitnya pisau bedah dokter itu..

Selang berapa lama, di tidur malamku tiba-tiba seseorang membangunkanku….gadis kecil dengan pita pink di jilbab kecilnya, cantik…tersenyum ke arahku sambil berkata..”Ummi, kutunggu kau di syurgaNya…jika tiba saatnya, kujemput… kita bergandengan tangan ke sana, yah…” sembari menunjuk ke sebuah tempat yang indah, yang tak pernah terlihat mata dan terasakan indera….Air mataku menetes…sambil mengangguk…”Iya, nak…tunggu yah.” Ia balas mengangguk sambil tersenyum manis sekali…rasaku membuncah…ingin kupeluk ia, tapi ia sudah melambaikan tangan dan berlari….Mimpi indah dan kuputuskan untuk akan bermimpi itu lagi esok malam..dan esok malamnya lagi..

Jakarta, waktu inspiratif..4 Juli 2011

@cheitumminyafardais

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s