ARSITEKTUR RUMAH BUGIS Part 01

saoraja

rumah panggung saoraja

Mendadak “ngarsitek”…hehe….daripada ilmu yang pernah saya timba di “sumur” Arsitektur mengendap di dasar..ada baiknya kita gali….jadi…mari kita gali sumur..hehehe…Saya tertarik menulis tentang Arsitektur Rumah Bugis, berhubung saya berdarah Bugis

asli…itung-itung meng upgrade dari sisi  vernakularnya, dibantu  referensi..dari situs http://www.melayuonline.com.

BENTUK DENAH

Kalau begitu mari kita mulai dari bentuk denahnya yang berbentuk persegi empat memanjang ke belakang..Bagi orang Bugis, empat adalah angka sakral…segala sesuatu dapat dikatakan sempurna jika genap berjumlah empat atau sulapa’ eppa’, berangkat dari falsafah hidup mencari kesempurnaan ideal untuk mengenali dan mengatasi  kelemahan  manusia dengan dunia empat sisi (Elizabeth Morell,2005:240). Menurut budayawan Prof Mattulada, Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah. (kayak  Avatar gitu yah, jangan-jangan idenya dari sini..hehehe..dugaan tak berdasar). Falsafah empat inilah yang kemudian dimanifestasikan dalam membangun rumah yang biasa disebut “bola genne” atau “rumah sempurna” yang  berbentuk persegi empat.

bola ugi

bola ugi

Masyarakat Bugis juga mengenal strata sosial, hal ini terlihat pula dalam bentuk rumah yang terdiri atas Saoraja (rumah untuk raja dan kalangan bangsawan) dan Bola (rumah rakyat biasa) .  Perbedaan rumah Saoraja dan Bola hanya terletak pada ukuran bangunannya, dimana Saoraja lebih besar dibandingkan Bola sehingga jumlah tiang pada Saoraja 40-48 tiang, sedangkan bola 20-30 tiang, sedangkan pada timpa’laja, seperti pada gambar, memperlihatkan bahwa pada saoraja memiliki timpa’laja yang bertingkat-tingkat, sedang bola biasa saja.

MATERIAL RUMAH BUGIS

Dalam pemilihan material struktur, masyarakat Bugis sangat teliti dalam pemilihan material untuk dipakai membangun rumah, tidak ketinggalan pula nilai filosofinya. Mari kita “check it out…”

  1. Aju Panasa (Kayu Nangka) biasa digunakan untuk tiang pusat rumah yang biasa disebut possi bola.
  2. Aju bitti, aju amara, dan aju jati, ketiga jenis kayu ini dapat digunakan untuk tiang rumah atau possi bola. Namun, jika menggunakan kayu jati harus lebih dari satu karena, menurut orang bugis jati dari kata maja ati, sehingga jika menggunakan kayu jati dapat membuat orang iri dan dengki pada si empunya rumah (hehehe..soalnya kayu jati mahal, kalau tetap mau pake kayu ini sering-seringlah membaca surah Al Falaq..apalagi kalau para tetangganya hanya tinggal di pohon…semakin iri lah mereka…serius!!)
  3. Aju ipi, aju seppu, dan batang kelapa. Ketiga jenis kayu ini dipakai untuk arateng, yaitu berupa  balok pipih berderet yang memanjang ke belakang untuk mengikat tiang pada bagian tengah rumah. Ketiga kayu ini juga digunakan untuk pattolo riawa yaitu balok pipih panjang yang berfungsi mengikat deretan tiang bagian tengah dari arah kanan ke kiri; dan aju lekke yang berfungsi menyangga dan menahan kerangka atap.
  4. Aju tippulu dan batang lontar, kedua jenis kayu ini digunakan untuk membuat pare’, balok pipih panjang berderet ke belakang sejajar dengan arateng, yang berfungsi mengikat tiang-tiang sebelah atas. Panjangnya sama dengan aju lekke. Kayu jenis ini juga dipakai untuk membuat padongko atau pattolo riase yaitu balok pipih panjang yang dipakai mengikat ujung tiang bagian atas sejajar dengan pattolo riawa; dan tanneba, yaitu balok berukuran kecil sebagai dasar dari lantai rumah dan menahan papan yang akan menjadi lantai rumah.
  5. Aju cendana, dipakai untuk membuat barakkapu, yaitu dari balok kecil untuk membuat rakkeang atau loteng.
  6. Bambu untuk dinding, tangga, atau lantai.
  7. Daun rumbia,nipah, ijuk, ilalang, …..ijajang,ibaso,ineneng….(heheheh..tiga terakhir tak termasuk ya…keenakan nulis kata dengan awalan “I” saja..heheh). Khusus untuk ijuk dan nipah digunakan pada rumah saoraja, sedang bola biasa menggunakan daun rumbia dan ilalang ( kasian banget yak…tapi seiring perkembangan jaman material atap berubah menjadi genteng, seng, sirap dan sebagainya…).

TENAGA

Karena orang Bugis senantiasa mempertimbangkan keselamatan (meski kadang2 tidak mempertimbangkan keselamatan akhirat,hehe), maka dibagi tigalah orang yang akan berperan dalam pembangunan rumah, siapa mereka…inilah mereka…jreng..jreng:

  1. Sanro Bola ( bukan sodaranya sanro tobing atau sanro dewi, yah…), biasa disebut dukun rumah..(hiiii serem!!). Tugasnya memimpin pendirian rumah berdasarkan naskah  sakti “lontarak” nya, mengetahui secara rinci, biaya rumah, material rumah, tipe-tipe kayu yang cocok, serta tukang yang dibutuhkan, waktu dan tempat dipersilahkan…maksud saya..waktu dan tempat yang baik untuk membangun rumah. Beda tipis dengan konsultan arsitek..hihihi
  2. Panre Bola atau tukang, yang bekerja membangun rumah berdasarkan petunjuk “mbah” sanro bola, hebatnya mereka takperlu gambar untuk membangun.
  3. Tenaga Pembantu Umum, tenaga ini yang paling saya suka, karena mereka bekerja pada waktu tertentu dengan suka rela dan seikhlas hati untuk mendirikan rumah, memasang kerangka rumah atau menyerut..dan tentu saja dapat konsumsi…..hehee..kadang mereka datang dari tetangga dekat atau keluarga dekat.

Hoke…..cukup sampai di sini dulu, saya berjanji akan membuat kelanjutannya, berhubung tiba-tiba mood saya lagi turun…hemhh…….hidup mood!!!!!

@Langit sore ibu kota

3 Juni 2011

@cheitumminyafardais

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s