ORIENTASI

Meminjam sebuah sub judul dari buku “Memoar Cinta di Medan Dakwah”-nya Ust. Cahyadi Takariawan, mengingatkan saya moment ketika kami akan meninggalkan Makassar untuk hijrah ke ibukota…Seorang teman saya yang pernah tinggal lama di Jakarta, bertanya pada saya:

“ Bapak, di mana daerah kuliahnya di Jakarta, Bu?”

“Kalo gak salah di daerah Kemang situ, deh bu..” Jawab saya.

“Haaa…wah, bu…daerah situ banyak café, tempat para bule nongkrong, pokoknya tempat gaulnya para eksekutif,deh..Trus, kantornya daerah mana, bu?”

“Sudirman, bu..”

“Wah…bu, di situ banyak wanita-wanita cantik, sekelas model gitu, deh bu….” Dengan gaya berbicara yang khas, berapi-api..(hehehe…untung saya tak terbakar).

Saya menarik nafas panjang, sebenarnya tak ada kekhawatiran karena saya tahu suami saya orang yang cukup ekstrim, namun sebagai manusia biasa..saya pun mulai kepikiran…Pulangnya saya kemudian bercerita ke suami saya kejadian tadi siang..sebelum pikiran saya diajak menari syaithon…

“Bi, katanya daerah tempat kuliah abi rawan maksiat, belum lagi daerah kantor abi, katanya berkeliaran wanita-wanita cantik sekelas model….” Ada sedikit letupan emosi, namun berusaha saya redam..berharap membuat syaithon merengut..:)

Suami saya tercinta itu merespon dengan santai, sambil menceritakan kembali tulisan ust. Cahyadi Takariawan dalam buku “ Memoar Cinta di Medan Dakwah” tentang perjalanannya ke Manado untuk keperluan Rakor Wilayah Dakwah III DPP PK. Singkat cerita, di bandara , ustad itu bertemu dengan dua orang pejabat PEMDA yang hendak ke Gorontalo dan memilih transit semalam di Manado. Dua orang pejabat PEMDA itu kemudian bercerita bahwa sebenarnya mereka hanya menyengaja mampir di kota Manado, sekedar mencari hiburan, mengingat Manado adalah daerah yang terkenal lengkap fasilitas hiburannya. Karena itu pula, mereka memilih menginap di sebuah hotel yang menyediakan fasilitas tersebut termasuk “Betis  Manadonya” (baca:wanita cantik berpakaian minim)…Beda dengan ustad Cahyadi yang hanya memilih hotel biasa yang terletak dekat pasar tanpa ada hiburan sedikit pun, karena tujuan beliau ke Manado memang bukan mencari hiburan.

Masih dalam buku yang sama, diceritakan sepenggal kisah Buya Hamka, ketika ditanya jamaah pengajianya: “ Saya pernah ke Tanah Suci Makkah, ternyata di sana ada pelacur, saya heran, bagaimana mungkin di tanah suci itu ada pelacur?” Buya Hamka menjawab dengan kalem, “Oh, ya? Saya beberapa kali ke California, tapi di sana tak satu pun saya menemukan pelacur.”

Kembali ke laptop…eits, maksud saya kembali ke awal tulisan saya…sekali lagi orientasi….siapapun bisa mendapatkan sesuai orientasinya, bahkan di tempat suci sekalipun, apalagi ketika ia mencari…Akhirnya, saya mengingatkan diri sendiri dan berprasangka baik..terutama kepada suami saya, bahwa orientasi nya ke Jakarta adalah menyelesaikan beasiswa S2 nya sambil bekerja, dan saya hanya mendampingi,syukur-syukur bisa menguatkan..ditambah doa yang menaungi kami..Allahuma….Audzubikalimatillah…amin,amin,amin…..

Kutipan Pustaka: Takariawan, Cahyadi,”Memoar Cinta di Medan Dakwah,Catatan Harian Seorang Aktivis”,2004,Solo,Penerbit Era Intermedia

@pagi  Jakarta…membersamaimu setahun hampir 3 bulan di sini…suamiku sayang

Jakarta,23 Mei 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s